You are here
Haji Mabrur ARTIKEL 

Haji Mabrur

Oleh : H Ade Sutisna Iskandar

Garut News, ( Ahad, 22/09 ).

Ilustrasi. (ist).
Ilustrasi. (ist).

“Haji Mabrur itu tak ada balasannya kecuali “SURGA”, demikian diungkapkan Rasullullah SAW pada hadist riwayat Imam Bukhori.

Berdasar hadist tersebut, betapa pentingnya kedudukan haji pada amal ibadah Ummat Islam.

Lantaran dengan haji yang mabrur, seseorang mendapatkan jaminan surga pada kehidupan di akherat kelak.

Pertanyaannya, bagaimana caranya seorang calon haji bisa mendapat predikat haji mabrur pada ibadahnya ?

Juga apa ciri seorang haji mabrur ?

Apabila merujuk pada ketentuan syariat, apapun ibadah dilaksanakan Ummat Islam, ibadah shalat, puasa, atawa haji, hanya diterima Allah, jika dikerjakan IKHLAS, sesuai SUNAT RASUL.

Kendati demikian, khusus ibadah haji, lantaran gabungan antara ibadah fisik, serta harta, maka mencapai kemabruran kudu terpenuhi tiga syarat.

Selain ikhlas, dan sesuai Sunah Rasul.

Sumber harta digunakan berhaji pun, juga kudu berasal dari harta halal.

“Apabila ketiga hal ini dipenuhi, Insya Allah hajinya mabrur”.

Jika didefinisikan, haji mabrur tersebut, ibadah haji dilaksanakan sempurna memenuhi rukun wajib, dan rukun sunah.

Antara lain, selama melaksanakan ibadah haji, tak Rafats (berbicara kotor), Fasuq (kedurhakaan), dan tak terdapat Jidal (bantah-bantahan/pertengkaran). (QS. Al-Baqarah : 197 ).

Rasulillah menyatakan, “Barang siapa yang melakukan ibadah haji karena Allah kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik/durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika dilahirkan ibunya”. (HR. Muttafak alaih).

Sehingga, kemabruran haji seseorang bisa dicirikan sejak awal persiapan, pelaksanaan ibadah haji dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah.

Bukan lantaran gengsi atawa riya, kemudian biaya beribadah haji berasal dari harta halal, dan bukan harta haram, seperti uang hasil riba, atawa hasil korupsi/kolusi.

Sebab, mabrur atawa tidaknya seseorang melaksanakan ibadah haji, terlihat setelah pulang dari tanah suci, kudu terdapat perubahan perilaku ke arah lebih baik.

Apabila setelah berhaji, justru amal ibadahnya menurun atau perilakunya bertambah tak keruan, itu indikasi hajinya tak mabrur, atawa menjadi haji mardud (ditolak Allah).

Perilaku lebih baik ini, antara lain ditunjukkan perilaku, dan sikap selalu sabar, atawa berlapang dada, tak kikir, serta ikhlas menafkahkan sebagian hartanya untuk fakir miskin, serta khusyuk beribadah.

Ditanyakan pada Rasulullah, apa tanda kemabruran haji tersebut ?

Rasulullah bersabda : “Memberi makan dan berkata baik” (HR. Akhmad, Tahabrany, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim).

Pada hadits riwayat Akhmad dan Al-Baihaqi disebutkan : “Memberi makan dan menyebarkan salam”.

Selain itu, seorang haji mabrur juga selalu bersukur ke hadirat Allah, atas semua nikmat dan karunia-Nya, mengharapkan dirinya, dan jamaah lain agar bisa kembali lagi ke Tanah haram, serta semua obrolan dengan kawan-kawannya berkisar hal-hal mendorong pergi ke tanah suci.

“Bukan malahan menceriterakan kesusahan, kesulitan, dan hambatan selama perjalanan berhaji”, sepulang haji yang mabrur ibarat membuka lembaran baru pada hidupnya dengan pelbagai amalan baik, menambah keimanan, dan ketaqwaannya.

Kemabruran haji, juga kudu dijaga lantaran kondisi keimanan manusia terkadang baik, serta terkadang turun.

“Para ulama salaf menyebutkan, “Terdapat empat selalu dipegang menjaga kemabruran haji”

Pertama, selalu menjaga keutuhan Ummat dengan menjadi teladan bagi masyarakatnya.

Kedua, menegakkan sunnah, misalnya selalu melaksanakan shalat pada waktunya, dan selalu berjamaah di masjid.

Bagi kaum perempuan, senantiasa mengenakan pakaian menutup aurat.

Ketiga, rajin membaca Al-Qur’an, mengamalkan, serta mendakwahkannya.

Keempat, menjaga mabrurnya ibadah haji, yakni menegakkan Jihad Fi Sabilillah.

“Artinya bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah untuk kebaikan diri, dan seluruh Jemaah mendapat predikat mabrur, dan mabruroh”.

Selamat jalan para jemaah An-namirah, selamat berjihad dalam tata laksana berhaji, dan bisa kembali ke tanah air berpredikat setinggi-tungginya, menjadi hamba-hamba Allah, terampuni dosanya, dan terkabul seluruh do’anya.­

Penulis : Ketua Pimpinan cabang Muhammadiyah, tarogong Garut, Jabar.

Editor : John.

Related posts

Leave a Comment