Hahaha… Sheriff Dunia Sedang Beraksi!

0
6 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Senin 01 Oct 2018 06:07 WIB
Red: Elba Damhuri

“Ada beberapa hal yang ditegaskan dalam pidato Donald Trump di PBB”

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Inilah kali pertama terjadi seorang kepala negara berpidato di forum internasional, lalu ditertawakan para pemimpin negara lain (pemimpin dunia). Sang kepala negara adalah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS).

Forumnya adalah sidang tahunan Majelis Umum (MU) PBB di New York. Waktunya, Selasa pekan lalu. Peserta sidang merupakan delegasi tingkat tinggi dari 193 negara anggota PBB, dari kepala negara hingga pejabat setingkat menteri.

Hahaha…! Tawa peserta sidang laiknya paduan suara itu berlangsung ketika Trump membanggakan keberhasilan pemerintahannya. Ia mengklaim, meskipun dirinya baru bersinggasana di Gedung Putih kurang dari dua tahun, pencapaiannya lebih hebat dari setiap pemerintahan dalam sejarah AS.

“Dalam waktu kurang dari dua tahun, pemerintahan saya telah mencapai lebih banyak hal dibandingkan setiap pemerintahan dalam sejarah negara kami,’’ ujar Trump penuh percaya diri.

Klaim Trump itu langsung menuai kegaduhan di aula sidang MU PBB. “Ini Amerika…. Itu benar,’’ lanjutnya untuk meyakinkan para peserta sidang. Tapi, pernyataan Trump justru disambut gelak tawa gemuruh para delegasi pemimpin dunia.

Mendengar tawa peserta sidang, Trump terlihat terkejut. “Saya tidak mengharapkan reaksi seperti ini, tapi itu oke,” ujar Trump sembari tersenyum kecut yang kembali disambut tawa lebih kencang dari sejumlah hadirin.

Peristiwa tersebut langsung menjadi sorotan berbagai media internasional. Fox menyebut, presiden AS sebelumnya tidak pernah diperlakukan seburuk itu.

The Washington Post dan Time membandingkan momen itu dengan pernyataan Trump sebelum menjadi presiden AS. Saat itu, Trump berulang kali mengatakan, tidak ingin dunia menertawakan kita (AS), saat mengkritik kebijakan Presiden AS sebelumnya, Barack Obama.

Bukan hanya media, rakyat AS sendiri melalui berbagai media sosial juga mengolok-olok presiden mereka, termasuk dari mantan pejabat AS dan figur setempat. “Ya Tuhan, betapa buruknya saat Presiden Amerika ditertawakan di panggung dunia,” ujar Julie Smith yang pernah menjabat wakil penasihat keamanan nasional untuk mantan wapres AS Joe Biden.

“(Tapi) ini baik karena presiden terekspos pada bagaimana cara dunia memandang dirinya (Trump).”

Ben Rhodes, salah seorang penulis pidato mantan presiden Barack Obama, mengatakan, “Para presiden Amerika terbiasa menetapkan agenda global di UNGA (Sidang Majelis Umum PBB). Sekarang, Trump ditertawakan.”

Sedangkan, pemandu talk show ternama AS, Stephen Colbert, menyindir Trump dengan mengatakan, “Jangan khawatir, Tuan Presiden, mereka tidak menertawakan Anda. Mereka saling tertawa satu sama lain kepada Anda.”

Thomas Wright dari Brookings Institution menilai, momen itu setidaknya telah ‘menyakiti’ Trump. “Itu pasti menyakitinya (Trump). Momen itu terekam kamera dan spontan. Itu terjadi di salah satu panggung terbesar di dunia.”

Yang menjadi pertanyaan, mengapa para pemimpin dunia yang mengikuti sidang MU PBB tertawa seolah mengejek pidato Presiden Trump? Bukankah itu reaksi berlebihan? Apa kaitan pidato Trump dengan para pemimpin dunia itu?

Harus diakui, Amerika adalah negara besar. Pengaruhnya mendunia, dari militer, ekonomi, hingga sosial-budaya.

Apalagi, sistem perekonomian dunia masih menggunakan mata uang dolar Amerika. Karena itu, wajar bila hampir semua kebijakan Presiden AS akan berpengaruh besar– langsung maupun tidak langsung–kepada banyak negara.

Misalnya, kebijakan Trump yang sangat kontroversial tentang larangan imigran dan kelompok Muslim tertentu masuk AS. Juga, tentang pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem.

Karena itu, bisa ditebak, yang tertawa kencang mengejek pidato Trump adalah mereka yang dirugikan oleh kebijakan sang presiden berotak bisnis itu.

Ada beberapa hal yang ditegaskan dalam pidato Trump. Antara lain, siapa saja dan pihak mana pun yang tidak mengikuti kebijakannya akan diberi sanksi.

Tak peduli apakah mereka kawan atau lawan. Juga, tentang penarikan diri Trump dari tatanan dunia yang sebenarnya juga didirikan dan dirancang AS pasca-Perang Dunia II.

Menurut kolomnis di media al Sharq al Awsat, Ridwan Said, tatanan dunia itu didasarkan pada tiga pilar; keamanan dan stabilitas dunia secara kolektif (melalui PBB dan badan-badan serta lembaganya), kebebasan aktivitas ekonomi dan perdagangan, dan sistem keuangan dan moneter yang dijamin oleh AS. Tapi, lanjut Said, Trump kini telah menarik diri dari pilar pertama dan kedua.

Misal, Trump menyatakan, ia punya hak untuk menggunakan kekuatan militer guna melindungi keamanan AS di satu sisi dan di sisi lain untuk melindungi teman-temannya. Tapi, sebagai presiden yang pebisnis, yang ia sebut teman-teman itu pun diharuskan membayar biaya perlindungan. Dan, inilah yang terjadi dengan negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO (North Atlantic Treaty Organization/Pakta Pertahanan Atlantik Utara).

Dengan kata lain, Trump kini memerankan diri sebagai sheriff bayaran alias preman dunia. Preman yang tidak mengikuti hukum internasional dan sistem keamanan kolektif lewat Dewan Keamanan dan lembaga-lembaga PBB lainnya.

Ini berarti, negara-negara sekutu di NATO tidak akan dilindungi AS kecuali bila mereka membayar layanan militer. Begitu pula, dengan negara-negara Arab Teluk yang selama ini mengandalkan keamanannya kepada Amerika.

Dalam perdagangan dunia, Trump yang selama hampir dua tahun ini menjadi presiden pun telah membatalkan banyak perjanjian. Saat berpidato di Majelis Umum PBB, ia mengatakan, Presiden Cina adalah temannya.

Tapi, ia tidak bisa menoleransi ketidakseimbangan perdangan antarkedua negara yang lebih menguntungkan Cina. Maka, ia pun mengenakan tarif tinggi pada barang-barang impor dari Cina. Juga, impor dari Kanada, Turki, negara-negara Eropa, dan lainnya.

Ya, begitulah kalau sheriff dunia sedang beraksi. Siapa melawan atau berbeda kebijakan diancam sanksi. Lihatlah negara-negara anggota NATO yang kini diancam sanksi ekonomi apabila tidak menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran.

Perjanjian itu telah disepakati pada masa Presiden Barack Obama dan ditandatangani oleh AS bersama Prancis, Inggris, Jerman, Rusia, dan Cina di satu pihak dan Iran di pihak lain.

Namun, atas desakan Israel dan sejumlah negara Teluk, Trump secara sepihak membatalkan penjanjian dengan Iran. Bahkan, pembatalan penjanjian itu disertai dengan sanksi ekonomi. Anehnya, ancaman sanksi itu juga dikenakan kepada negara-negara Barat yang ogah membatalkan perjanjian dengan Iran.

Ancaman dan sanksi Trump itu ternyata juga diberlakukan kepada Palestina. Pada awalnya Trump memerintahkan untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pemindahan ini mendapat reaksi keras dari masyarakat internasional, terutama dari pihak Palestina. Namun, sekali lagi, Trump tidak peduli. Kedubes AS tetap dipindahkan, meski itu melanggaran hukum internasional yang menetapkan Yerusalem sebagai status quo.

Sebagai protes pemindahan Kedubes itu, para pemimpin Palestina pun menolak memulai perundingan dengan Israel yang difasilitasi AS. Penolakan itu kemudian disanksi Presiden Trump dengan menghentikan semua bantuan dana dan menutup semua kantor perwakilan Palestina di Amerika.

Begitulah tampaknya Trump memerintah yang selalu ia katakan demi kepentingan dan kebesaran AS. Bak sheriff di zaman cowboy Amerika, ia yang menentukan hukum dan memaksakan semua perjanjian. Dan, siapa pun yang berani melawan akan dikenai sanksi.

Akankah kebesaran dan kehebatan AS yang selalu menjunjung tinggi kebebasan, kemerdekaan, hak asasi manusia, dan selalu berperan dalam kemajuan ekonomi dan keamanan dunia akan tergerus di tangan Trump?

******

Republika.co.id