Habib Riziek, Iberia, Syekh Yusuf: Kisah Pengasingan Ulama

0
39 views
Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an. (Foto: Gahetna.nl).

Rabu 21 Februari 2018 13:55 WIB
Red: Muhammad Subarkah

‘Banyak Sultan dan ulama diasingkan ke berbagai tempat yang jauh dan asing’

Oleh: Muhammad Subarkah*

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an. (Foto: Gahetna.nl).

Semenjak penjajah Belanda tiba di Indonesia melalui ekspedisi laut yang dipimpin Cornelis De Hautman pada tahun 1496, para petualangan dari jazirah Iberia melihat bahwa ternyata mereka sudah kedahuluan Islam di sana. Sebelumnya, malah para pelaut Spanyol, di antaranya Magelhaens dan anak buahnya yang mengawali ekpedisi keliling dunia untuk mencari tempat asal muasal rempah-rempah, kaget bukan kepalang ketika sampai di kepulauan Maluku.

Pada saat itu, dalam catatan Tom Pires menyebutkan, ternyata para ‘Kaje’ (haji) yang pernah ke Makkah sudah dulu berada di kepulauan itu. Tak hanya menyatu dengan penduduk setempat, mereka pun sudah mendirikan kerajaan. Jejaknya adalah dari akar kata Maluku sekarang yang asalnya dari bahasa Arab ‘malik’, dan Maluku diartikan sebagai tanah para raja.

Catatan lain tentang tanah kepulauan Maluku juga ada dalam pengelana Muslim, Ibnu Batutah. Dia memang tidak sempat ke kepulauan ‘para raja’ itu, tapi dia tahu setelah sesampai dan singgah di negeri subur dan kaya di ujung Pulau Sumatra: Samudra Pasai.

Pada satu kesempatan berbincang santai dengan pakar politik-militer, DR Salim Said, dia bercerita betapa para pelaut Barat itu kemudian menjumpai kenyataan pahit. Mereka ternyata sampai ke tanah yang sudah penduduknya sudah beradab. Mereka punya sistem adat sendiri hingga sistem kekuasaan dan milter yang sendiri. Mereka bukan suku barbar dan berperadaban rendah. Mereka sudah punya budaya yang tinggi.

Imbas lainnya, karena mereka sudah memeluk agama Islam, mereka pun menjadi melawan ketika hendak dikuasai atau ditundukan dengan senjata. Para tokohnya, di semua kesultanan yang membentang diseluruh wilayah Nusantara, menganggap orang lain yang hendak merampas dan kemudian menjajahnya adalah orang ‘kafir’. Mereka bisa menerima orang asing asal menghargai agama, sistem hidup, hingga kelangsungan budaya serta ekonomi warga dan penguasa setempat. Kalau mereka mau menyebarkan agama, lakukanlah dengan cara damai. Tidak dengan kesumat dan atas semangat yang kini disebut oleh media barat dengan istilah sebagai gerakan ekstrimis-fundamentalis: ‘Gold, Golry, and Gospel’ (emas, kejayaan, dan penyebaran agama).

Namun mereka tak peduli etika. Mereka mainkan kerajaan yang disinggahinya sekaligus membelah penduduknya agar gampang dikuasai. Kerajaan Maluku misalnya, mereka pecah belah. Kekuasaan dan kekuatan kolonial dari semenanjung Iberia, termasuk Inggris, sibuk berebut di sana.

Salah satu jejaknya itu ada di Kesulatanan Tidore dan Ternate. Semua bisa lihat apa yang terjadi, bangun dan jatuhnya hingga keemasannya Sultan Nuku. Bagaimana perebutan pulau Ambon dan pulau-pulau yang ada di sekitar Maluku. Semua berlangsung keras, beringas, sekaligus culas.

Di kepulauan lain juga sama. Di Jawa dan Sumatra contohnya, semua hal itu telah terjadi. Pulau Jawa yang disebut sebagau pulau beras (Jawa Dwipa) misalanya, mereka merasa terpikat dengan tingkat kesuburan tanahnya. Catatan Raffles menyatakan bila Pulau Jawa, dari ketinggian gunung berapinya hingga sungai, lembah, dan lautnya semua penuh air, tumbuhan, dan bahan makanan. Pulau ini bak surga terhampar, hijau dan segar.

Juga di Sumatra para petualang Ibera ini mereka tergiur dengan kekayaan pulau emas ini. Mereka teringat apa yang terjadi di suku Inca dan Maya, di mana mereka bisa merampok kerajaannya dan mengangkut semua emas serta seluruh kekayaannya.

Sayangnya, usaha ‘merampok’ itu tak gampang dilakukan. Suku Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan, hingga Maluku itu dikuasai oleh penguasa Islam yang semenjak dahulu di Timur Tengah, telah menjadi seteru abadinya, bahkan memicu dengan konflik senjata dengan apa yang disebut perang Salib.

Aljasi, mereka kemudian bertindak drastis dan keras menghadapi Sultan dan para tokoh ulama. Mereka pun pecah dalam konfik bersenjata sebagai awal dari penguasaan sekaligus juga datangnya perlawanan.

Maka di Jawa, di sebuah kerajaan Mataram muncul banyak sekali sosok melawan orang yang menjadi penjajah asal Semenanjung Ibera ini. Mereka melawan kekuatan mereka di mana akhirnya menumpukan pada kekuatan ajaran agama yang berpusat di Makkah, dan tentu saja ada campur tangan Turki Utsmani.

Maka, lihat saja contoh awal mula perlawanan kepada Belanda di awal penyerbuan Batavia atau pada awal kerajaan Mataram yang kala itu di bawah kekuasan Raja Sultan Agung pada awal abad 1600-an. Semua berawal dari sebuah pengakuan dan ijazah (surat) dari seorang ulama di Makkah. Bahkan untuk kasus Mataram Surakarta, surat itu tesebar di berbagai masjid beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan di dekade akhir tahun 1700-an.

Konflik dan perlawanan mau tidak mau terjadi. Pihak Islam pun kokoh melawan. Banyak sekali Sultan dan ulama yang kalah dan diasingkan atau dibuang ke berbagai tempat yang jauh, bahkan tanah luar negara (asing). Ini bisa berbentuk Raja, Pangeran, hingga ulama. Mulai dari sultan yang ada di kepulauan Maluku, Jawa, Sulawesi, Sumbawa, hingga Sumatra.

Dalam kasus ini misalnya ada contoh yakni Pangeran Diponegoro (dan juga banyak Sultan Yogyakarta lainnya), Kyai Maja, Syekh Yusuf (Sulawesi), para kyai Banten, Para Kyai di Pantura Jawa, Iman Bonjol, Cut Nyak Dhien, atau para ulama dan penguasa di Sumatra dan Kalimantan, hingga para raja dan tuan guru di Sumbawa lainnya.

Lalu di wilayah mana lokasi pengasingan itu? Pada intinya para kolonial barat itu berusaha menjauhkan mereka dari warga atau umatnya. Ada nama tempat pengasingan yang bagi penguasa Jawa sangat terkenal dan sekaligus ditakuti. Nama itu adalah salah-satunya Pulau Ambon. Bila mendengar pulau Ambon semua orang akan bergidik ngeri, mereka takut bila ikut di asingkan (excile) di pulau itu.

Apakah hanya Ambon? Ternyata sama sekali tidak. Wilayah lain di Sumatra yang kala itu dianggap terpencil, seperti Bengkulu dan Sumatra Timur bagian utara — jadi pilihan. Tak cukup di dalam negeri, mereka juga membuang para raja dan ulama ke negeri asing yang juga menjadi kekuasaannya para pelatut Iberia itu. Maka terdengar nama negeri yang kondang yakni Sri Langka (Ceylon) karena di sana pusat VOC untuk Hindia Timur, hingga ke Afrika Selatan (Tanjung Harapan) seperti yang terjadi pada diri Syekh Yusus dari Makassar itu. Khusus untuk Syel Yusuf, selain di negara asalnya diakui sebagai pahlawan nasional, di negeri Nelson Mandela dia sudah lama diakui pula sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan.

Bahkan belakangan ditemukan fakta dan data bila lebih dari seratus tahun silam, Sri Lanka atau Ceylon pernah menjadi pulau pembuangan para tahanan politik pemerintah Hindia Belanda. Sri Lanka, yang antara tahun 1640-1796 dikuasai Belanda, merupakan tempat pengasingan kedua setelah Tanjung Harapan yang ada di wilayah Afrika Selatan.

Namun, mengingat lokasinya lebih dekat dengan nusantara, Sri Lanka lebih disukai Belanda ketimbang Tanjung Harapan, yang tampaknya disediakan untuk tokoh-tokoh “buangan” kelas berat. Banyak raja dan pangeran dan ulama pernah merasakan hidup dalam pengasingan di sana.

Namun, uniknya Islam di Sri Lanka tumbuh bersama orang-orang “buangan” ini. Secara geografis, Sri Lanka terisolasi dari pusat-pusat utama kebudayaan dan peradaban Muslim. Akan tetapi, dilansir dari Rootsweb Ancestry, Sri Lanka tercatat sebagai pulau tempat pertemuan lintas budaya.

KM De Silvas dalam Historical Survey, Sri Lanka – A Survey menulis, “Sekitar abad ke-8, orang-orang Arab telah membentuk koloni di berbagai pelabuhan penting di India, Sri Lanka, dan Hindia. Kehadiran orang-orang Arab di pelabuhan Sri Lanka setidaknya dibuktikan oleh tiga prasasti yang ditemukan di Kolombo, Trincomalee, dan Pulau Puliantivu.”

Populasi Muslim Sri Lanka berkisar 10 persen dari total 16 juta jiwa. Mereka dominan di pesisir timur dan barat pulau itu. Meski kebanyakan menganut patriarki, sebagian Muslim di bagian timur pulau menelusuri garis keturunan mereka lewat jalur perempuan. Mayoritas menganut Buddha, yang masuk ke pulau itu dari India selama pemerintahan Raja Devanampiya Tissa pada 307-267 SM.

Faktor yang mendukung pertumbuhan komunitas Muslim di Sri Lanka bervariasi. Etnis mayoritas Sri Lanka, Sinhala, tidak tertarik pada perdagangan sehingga bidang ini demikian terbuka lebar untuk umat Islam.

Raja Sinhala menganggap permukiman Muslim menguntungkan karena menjalinkan hubungan dengan luar negeri, baik ekonomi maupun politik. Toleransi agama penduduk lokal juga faktor penting yang mengembangkan permukiman Muslim di Sri Lanka.

Permukiman awal komunitas Muslim ini didirikan, terutama di sekitar pelabuhan untuk kepentingan perdagangan. Karena banyak pedagang Arab tidak mungkin membawa kaum hawa mereka, terjadilah perkawinan dengan wanita Sinhala atau Tamil di pulau itu. Islamisasi terjadi lewat jalur perkawinan. Selain itu, Islam juga menarik minat anggota kasta rendah yang kurang beruntung di tengah masyarakat Tamil.

Tapi perlawanan terus datang dan tak berhasil dipadamkam. Di zaman yang baru lalu ada nama tempat pengasingan yang terkenal, yakni Digul di Papua dan Banda Neira di Kepulauan Maluku. Para pengelana tamak Ibera itu bermaksud menerungku anak negeri yang berani melawannya. Tak cukup di hukum, para ‘pelawan’ itu harus hidup dalam pembuangan. Banyak di antara mereka sampai mati di tanah asing itu.

Memasuki era kemerdekaan kemudian muncul berbagai nama dan tempat penahanan yang berupa penjara. Pada era Sukarno ada penjara di seputaran Jakarta hingga Jawa Timur yang menjadi tempat tahanan tokoh bangsa yang dikurung tanpa pengadilan. Di zaman awal Orde Baru, ada tempat pengasingan para tokoh PKI yang berada di Pulau Buru. Di zaman Orde Baru, banyak orang yang anti Suharto lari ke Malaysia. Tak hanya orang Jawa saja dan tokoh gerakan Islam saja, tapi para pelawan gerakan Aceh Merdeka juga lari ke negara itu.

Yang paling mutakhir adalah ‘larinya’ Habib Riziek ke Arab Saudi. Dengan mengasingkan diri ke sana, Habieb Riziek mau tidak mau oleh Raja Saudi disetarakan dengan para pemimpin politik —terutama dari Timur Tengah dan Afrika Utara — yang lari ke negara gurun pasir itu. Mereka mengungsi juga karena dianggap seteru bagi penguasa yang baru. Sama juga dengan Habib Riziek yang pesantrennya di Bogor sempat ditembak oleh orang tak dikenal, para penguasa dan mantan penguasa itu pergi ke Arab Saudi untuk menyelamatkan bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya.

Dan, sama dengan Sultan dan tokoh ulama serta politik di zaman dahulu, kepulangan mereka juga memicu sumbu kontroversi politik. Bila di zaman Perang Diponogoro dahulu ada Sultan Jogjakarta yang dipanggil pulang dari pengasingan demi untuk menenteramkan kehidupan rakyat, kini pun menuai soal baru yang tak kalah pelik. Apakah sang tokoh setelah pulang dari Arab Suadi itu akan di masukan ke dalam terungku? Apakah malah dibiarkan bebas? Lalu siapakah yang akan jadi korban, dikorbankan, atau rela dengan menyediakan diri dengan mengorbankan diri?

Jawabnya, ternyata hanya rumput bergoyang yang bisa menjawabnya.

*Muhammad Subarkah: Jurnalis Republika.

*******

Republika.co.id