Habib Mundzir dan Dakwah Perkotaan

by

Husein Ja’far Al Hadar, Peminat Studi Agama dan Filsafat; Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 20/09 ).

Ist.
Ist.

Apa yang telah berhasil dilakukannya juga sekaligus penegasan atas hipotesis Peter Berger dan William James yang menyebutkan “agama punya seribu nyawa” dan sampai kapan pun modernisme tak akan mampu membunuhnya.

Masyarakat muslim Indonesia, khususnya muslim perkotaan (urban) di Jakarta, kembali berduka.

Setelah sebelumnya pada 26 April lalu Ustad Jefri Al Buchori wafat, kali ini giliran Habib Mundzir Al-Musawa yang dipanggil ke sisi-Nya, yang juga dalam usia relatif muda.

Selain itu, kesamaan lain di antara kedua ustad tersebut, yang justru signifikan dan fundamental, adalah metode dakwahnya.

Kedua sosok panutan umat Islam itu sama-sama menghadirkan Islam dalam formulasi dakwah yang dikontekstualkan dengan lingkup masyarakatnya, yakni muslim perkotaan-kosmopolitan.

Walaupun dalam bentuk keduanya memiliki corak, metode dan nuansa dakwah yang berbeda yang sekaligus menjadi ciri khas dakwah masing-masing sesuai dengan konteks pendengar masing-masing pula.

Namun, menurut penulis, setidaknya semangat, kesadaran, serta konsep dasar dakwah kedua ustad tersebut relatif sama, yakni beradaptasi dengan konteks umat perkotaan-kosmopolitan dengan segala ciri khasnya.

Dakwah kedua ustad itu cenderung berorientasi mendidik generasi muda dan mengajak mereka berpaling dari euforia dan hedonisme perkotaan menuju spiritualitas Islam berbingkai kecintaan kepada Nabi Muhammad melalui ritual zikir dan salawat.

Adapun dalam konteks Habib Mundzir sendiri, menurut penulis, ada peran dan kontribusi positif khas yang telah ditorehkan olehnya terhadap masyarakat muslim perkotaan di Jakarta melalui Majelis Rasulullah-nya.

Pertama, dengan ciri paling khasnya yang pragmatis-kosmopolit, modernisme di kota besar serta metropolitan semacam Jakarta secara tidak langsung mengalienasi, dan tak menyisakan ruang ekspresi bagi fenomena berbasis spiritualitas-tradisionalis.

Namun, melalui Majelis Rasulullah-nya, Habib Mundzir kemudian justru hadir untuk mengisi kebutuhan paling primordial dalam diri manusia (khususnya di perkotaan), yakni spiritualisme, yang memang merupakan fitrah setiap manusia.

Kedua, melalui Majelis Rasulullah-nya itu, Habib Mundzir relatif berhasil mengubah paradigma masyarakat perkotaan Jakarta tentang wisata, yang sering kali mengaitkan wisata, yang sekadar media pemuas kenikmatan indrawi semata, dengan sebuah media pemberi kenikmatan insani yang sublim.

Habib Mundzir mengubah malam hari di Jakarta-khususnya bagi anak muda-sehingga tak hanya lagi sebagai malam wisata indrawi dengan segala euforia dan hedonisme khas anak muda perkotaan, tapi juga sebagai wahana studi, kontemplasi, dan rekreasi.

Ketiga, melalui Majelis Rasulullah-nya itu pula, Habib Mundzir menggeser luapan cinta kasih anak muda perkotaan yang biasanya dicurahkan kepada lawan jenis dengan berbasis nafsu-libido, dengan dikelola sedemikian rupa melalui zikir dan salawatnya sehingga kecintaan itu bermuara pada Allah dan Rasul-Nya.

Menurut penulis, pesatnya perkembangan Majelis Rasulullah, yang dipimpin Habib Mundzir, juga majelis-majelis serupa yang muncul setelahnya, justru karena modernisme yang semakin merajalela dan terus mengikis nilai-nilai spiritualitas di Jakarta.

Karena itu, publik Jakarta makin membutuhkan “sajian” spiritualisme instan dari majelis-majelis semacam itu guna memenuhi kebutuhan primordial-fitrah dalam dirinya-yaitu spiritualisme-yang telah teralienasi dan hilang dari manusia modern perkotaan, sebagaimana hipotesis Herbert Marcuse dalam One Dimension Man.

Melalui Majelis Rasulullah-nya, Habib mengisi krisis spiritualitas masyarakat modern-perkotaan.

Apa yang telah berhasil dia lakukan juga sekaligus penegasan atas hipotesis Peter Berger dan William James yang menyebutkan “agama punya seribu nyawa” dan sampai kapan pun modernisme tak akan mampu membunuhnya.

Dan, penulis sendiri cenderung menyebut dakwah perkotaan Habib Mundzir dan Majelis Rasulullah-nya sebagai fenomena sufisme perkotaan (urban sufism).

Jika ditelusuri, dakwah ala Habib Mundzir itu sebenarnya memiliki jejak historis di kalangan habaib (bentuk jamak dari kata habib) di Indonesia.

Fenomena dakwah itu sejatinya bukan fenomena baru, kendati metodenya baru karena diakulturasikan dengan tuntutan ruang dan zaman.

Sejak dulu, hampir di setiap kota besar di Indonesia memang dikenal sosok habib yang difigurkan, serta memiliki majelis pengajian massal di kota masing-masing sebagai media dakwah Islam-nya.

Pekalongan terkenal akan sosok Habib Luthfi, di Surabaya ada Habib Neon, di Solo tersohor nama Habib Ali Habsyi, dan di Jember masyhur nama Habib Sholeh Tanggul.

Termasuk pula di Jakarta.

Malah, justru di kota modern-metropolitan, seperti Jakarta, fenomena tersebut lebih subur.

Maka, sejak dulu kemudian dikenal nama Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, yang tinggal di Kwitang, yang wibawanya hingga mendorong pembangunan Islamic Center Indonesia, yang diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 1970-an di Kwitang, yang kini menjadi pusat pengajian massal di Jakarta.

Kemudian, dikenal pula nama Habib Kuncung di Kalibata, Habib Ibrahim di Kramat Pulo, Habib Luar Batang, serta Habib Salim bin Jindan di Condet.

Jangan lupa pula pada karisma Habib Mbah Priok, yang sampai-sampai makamnya saja dipertahankan begitu kuat oleh umat Islam sekitar sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi beliau.

Ciri utama dan mendasar dari dakwah para habib itu sejak dulu (termasuk sejak arus pertama diaspora habaib dari Hadhramaut Yaman dalam upaya penyebaran Islam di Nusantara dan Asia Tenggara, yakni sekitar abad ke-13) adalah damai dan berakulturasi dengan budaya lokal.

Corak itulah yang kemudian kental dan bisa kita lihat dari dakwah Habib Mundzir, yang cenderung merangkul kalangan muslim perkotaan (khususnya anak muda) dengan segala keadaan dan trennya, serta mengarahkannya secara perlahan, damai, dan penuh kesantunan pada nilai-nilai Islam secara substansial.

Selain itu, corak utama dan mendasar dakwah para habib sejak dulu adalah pengajaran Islam berbasis cinta kasih kepada Allah melalui zikir, kepada Rasulullah melalui salawat, dan kepada sesama manusia melalui ukhuwah (persatuan atau persaudaraan).

Karena itu, dalam salah satu ceramah terakhirnya pada 2 September lalu di majelis rutinnya, ketika membahas kitab Ar-Risalatul Jami’ah, Habib Mundzir mengulas tentang hadis yang berbunyi: “Mencaci-maki orang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran “.

Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa dosa atau maksiat yang telah dilakukan seseorang (apalagi muslim) bukan sepatutnya direspons dengan cacian atau makian, apalagi kekerasan.

Tapi justru dengan ajakan (dakwah) yang santun dan bijak.

Dengan begitu, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin benar-benar terasa di bumi Allah.

****** Tempo.co