Guru

0
16 views

Bandung Mawardi, esais

Garut News ( Selasa, 25/11 – 2014 ).

Ilustrasi. Rachmat Setiadi/SMP Muhammaddiyah Tarogong (menulis), Bersama Rekannya Muhidin Nawawi Berobsesi Semakin Meningkatkan Kualitas Harkat dan Martabat Guru, Mewujudkan Generasi Bermasa Depan Indonesia. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Rachmat Setiadi/SMP Muhammaddiyah Tarogong (menulis), Bersama Rekannya Muhidin Nawawi Berobsesi Semakin Meningkatkan Kualitas Harkat dan Martabat Guru, Mewujudkan Generasi Bermasa Depan Indonesia. (Foto : John Doddy Hidayat).

Di Indonesia, guru mendapat kehormatan melalui peringatan Hari Guru, mengacu pada sejarah pendirian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), 25 November 1945.

Kita tentu tak bakal cuma bermula dari PGRI saat ingin mengerti secara utuh kesejarahan dan peran guru.

Sekolah pendidikan guru pertama didirikan di Solo, pada 1852. Pendirian sekolah itu dimaksudkan agar tersedia guru-guru untuk mengajar di sekolah-sekolah desa.

Pada 1907, di Hindia-Belanda tercatat ada 122 sekolah desa (Koentjaraningrat, 1984). Guru sangat diperlukan untuk mendidik dan mengajar.

Bergegas Guna Memeringati Hari Guru, Selasa (25/11-2014). Foto : John Doddy Hidayat.
Bergegas Guna Memeringati Hari Guru, Selasa (25/11-2014). Foto : John Doddy Hidayat.

Pendirian sekolah dan kemunculan profesi guru dipengaruhi oleh kebijakan kolonial saat berpikiran memberi pendidikan bagi pribumi, sejak 1849.

Guru tercatat dalam Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita sebagai jenis profesi idaman. Teks sastra pada akhir abad XIX itu mengandung peringatan bahwa pekerjaan sebagai guru memang terhormat, tapi mengandung aib dan petaka jika tak dijalankan sesuai dengan amanah.

Sejak awal abad XX, guru di Jawa adalah sosok mulia. Profesi guru mengantar orang masuk kelas priayi. Guru adalah teladan atas kehidupan beradab pada zaman kemadjoean.

Obsesi menjadi priayi melalui jalur keprofesian guru berlanjut sampai masa Orde Lama dan Orde Baru. Kita bisa simak ikhtiar guru-guru menapaki kelas priayi dalam novel moncer berjudul Para Priyayi (1992) garapan Umar Kayam.

Guru-guru pada masa awal di Hindia-Belanda memiliki tugas berat dalam mengajar dan mendidik. Mereka dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran bercorak Eropa.

Mereka mesti menempuh pendidikan guru sesuai dengan kurikulum kolonial dan bacaan-bacaan bertema keguruan.

Buku bisa dianggap sebagai pedoman menjadi guru. Pada 1915, terbit buku berjudul Pemimpin Goeroe karangan J. Kats, terbitan G. Kolff & Co, Betawi.

Tebal buku itu 112 halaman, berisi uraian-uraian menjalankan pengajaran, penjagaan diri, dan pendidikan murid.

Kats menjelaskan bahwa goeroe oetama adalah guru yang sadar akan pemeliharaan diri dan berperan sebagai pendidik bagi jiwa dan hati murid-murid.

Buku ini termasuk penting dalam daftar buku bacaan bagi guru-guru di Hindia-Belanda.

Urusan mendidik dan mengajar mulai mendapat “tambahan” melalui pendirian Perguruan Taman Siswa (1922).

Ki Hajar Dewantara menghendaki guru adalah teladan dan penggerak kebangsaan. Guru juga penentu peradaban bangsa agar tak terlena dalam imperatif-imperatif kolonial.

Kebijakan pendidikan guru di Taman Siswa berbeda dengan tuntutan pemerintah kolonial dan Orde Lama.

Ki Hajar menganjurkan, “Tiap-tiap orang jang tjukup pengetahuan dan kepandaian hendaknja mendjadi guru.”

Kecakapan diutamakan ketimbang ijazah. Usul ini menggunakan dalih jutaan murid di Indonesia pada masa 1950-an memerlukan guru.

Pemikiran Ki Hajar berseberangan dengan pemerintah dan PGRI. Perkembangan sekolah dan idealisme pendidikan memerlukan guru-guru dalam sistem pendidikan resmi.

Tahun demi tahun berlalu, ambisi orang-orang menjadi guru bisa diwujudkan dengan mengikuti pendidikan di SPG, IKIP, atau fakultas pendidikan dan ilmu pendidikan di universitas.

Guru-guru adalah kaum berijazah. Mereka bertugas mendidik dan mengajar demi pembangunan. Tugas itu tak semua bisa dipenuhi berbarengan dilema politik, nafkah, dan nasionalisme.

Kini, kesejarahan guru telah bergerak jauh. Kita selalu menginginkan goeroe oetama adalah pengisah kehormatan Indonesia melalui kerja, kerja, dan kerja. *

*******

Kolom/Artikel Tempo.co