Gua Jepang Masih Menyisakan Luka Berkepanjangan Romusha

0
33 views
Angga Tirta ( Chief Executive Officer ) Garut News, Saat Menelisik Beton Gua Jepang.

Garut News ( Jum’at, 10/07 – 2018 ).

Angga Tirta ( Chief Executive Officer ) Garut News, Saat Menelisik Beton Gua Jepang.

Dimana pun jika mendatangi keberadaan Gua Jepang, senantiasa mengingatkan pada penderitaan “Romusha” yang mengerjakan pembangunannya, bahkan hingga kini masih menyisakan luka berkepanjangan.

Lasimin di Depan Dua Pintu Gua, Terdapat Pula Ruang Amunisi.

Mereka, pekerja paksa masa pendudukan bala tentara Jepang. Secara acak digusur militer Jepang melibatkan aparatur pemerintah, dan sejumlah pemimpin pergerakan rakyat, untuk mengerjakan proyek-proyek militer di daerah pendudukan, maupun di luar Indonesia. Mereka terdiri laki-laki desa miskin berusia antara 16-60 tahun.

Ruang Tahanan di Dalam Gua.

Kaum lelaki dijadikan Romusha, perempuan dipaksa membajak sawah, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Sedangkan anak gadis dijadikan budak seks tentara Jepang di garis depan peperangan.

Ruang Interogasi/Penyiksaan.

Sebelumnya, mereka itu diangkut menggunakan truk-truk melintasi perjalanan jauh di daerah pendudukan, dan di dalam gerbong – gerbong kereta tertutup rapat, berjumlah ribuan berjejalan ke luar Indonesia. Selama kerja paksa dibiarkan kelaparan hingga menyisakan kulit pembalut tulang.

Gua Jepang terdapat pula di Kawasan Hutan Cagar Alam Pananjung Pangandaran seluas 454,615 Ha, dan Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran seluas 34,321 Ha, penetapan luas kawasannya berdasar Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.484/Menhut-II/2010 tanggal 30 Agustus 2010.

Kandungan Kristal Sepanjang Dinding Gua.

Gua ini terletak di bagian Barat kawasan, keunikannya memiliki  parit berliku mengitari bukit. Menghubungkan lubang menghadap perairan Samudera Hindia, gua tersebut peninggalan Jepang masa perang dunia kedua.

Maupun dibangun pada Periode (1941-1945), saat itu Balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura, Romusa mengerjakannya selama sekitar satu tahun, hingga kini belum pernah di renovasi, dan nampak keasliannya.

Jalan Keluar Gua Menuju Benteng Pertahanan.

Di antaranya terbuat dari tembok beton kemudian ditimbun tanah sebagai benteng pertahanan tentara Dai Nippon, berlubang – lubang pengintai menghadap ke laut, untuk mengawasi pendaratan pihak sekutu Belanda.

Terdapat tiga gua jepang, salah satunya sepanjang 25 meter, lebar satu meter, dan berketinggian kurang dari satu meter, dibangun dengan cara dipahat.

Benteng Pertahanan Berbentuk Lintasan Parit.

Di dalam gua terdapat ruang tahanan sekitar 2 m2, ruang interogasi dan penyiksaan  sekitar 1,5 m2, serta dua jalan keluar goa masing – masing untuk membawa mayat ke luar sebelum dibuang ke laut, serta jalan menuju benteng pertahanan.

Pintu Keluar Untuk Membawa Mayat.

Terdapat pula gua sepanjang lima meter yang berlorong membentuk huruf L untuk menjebak musuh yang memasukinya, ungkap pemandu wisata, Lasimin pria berusia 33 tahun.

Lorong Jebakan Untuk Musuh di Dalam Gua.
Gua yang Dibeton.
Kamar di Dalam Gua.
Gua dan Lorong Benteng Pertahanan.

Ayah tiga anak penduduk asli Pangandaran ini juga katakan, berdekatan dengan dua pintu masuk gua terdapat gudang amunisi, semuanya dikerjakan antara lain dengan cara dipahat melibatkan 200 hingga 300 Romusha.

********

Pelbagai Sumber/Foto John Doddy Hidayat.