Grass

0
28 views

Garut News ( Ahad, 19/04 – 2015 ).

Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan, Pohon Juga Bernyawa. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi Muhammad Erwin Ramadhan, Pohon Juga Bernyawa. (Foto : John Doddy Hidayat).

Lahir: 1927, meninggal pekan lalu.

Gunter Grass membaca sajak. Saya mendengarkannya di pertemuan puisi di Rotterdam, Juni 1973. Pelan, seolah-olah tiap kalimat membebani rahangnya dan membuat wajahnya yang masam bertambah masam.

Nun zogen sie durch die Strassen, 3800 Propheten..

Tak ada melodi. Tapi imaji yang bermunculan dari sajak itu tak mudah saya lupakan (saya masih simpan teks Prophetenkost): belalang yang menyerbu kota, rumah yang kehabisan air susu, rasul-rasul yang dilepas dari kurungan, 3.800 nabi yang menghambur ke jalan, warna abu-abu yang menutupi permukaan dan “bernama sampar”.

Sebuah sajak pendek, sebuah gambaran tentang adegan yang menakutkanâ ”mungkin tulah Tuhan dari langitâ” yang seakan-akan diambil dari lukisan religius Hieronymus Bosch di abad ke-15. Kesan utamanya visual, ciri puisi Grass sejak ia belajar di Akademi Seni Rupa di Dusseldorf.

Warna surealismenya kuat, seperti dalam buku pertamanya, Die Vorzuge der Windhuhner (1956): interaksi kata dan gambar yang mencoba merekam mimpi yang aneh. Gambar-gambar Grass adalah goresan fantasi tentang burung dan hewan buas, sajak-sajaknya menghidupkan benda-benda yang dijumpai secara acak, saat yang tak disengaja.

Di Rotterdam malam itu Grass membaca beberapa sajak lagi. Tetap membosankan. Tapi ia tetap mampu menghadirkan apa yang ganjil, gelap, kadang-kadang kalut, ironis, kocak, atau mengusik. Ia seorang Kafka dalam puisi.

Ia membebaskan bahasa dari arah yang harus lurus, dari makna yang didikte tujuan, pesan, dan slogan, dari susunan kalimat yang lelah seperti serdadu yang capek karena mengentakkan sepatu terus-menerus.

Dalam sajak Grass, seperti dalam novelnya yang menakjubkan itu, Die Blechtrommel (versi bahasa Inggrisnya: The Tin Drum), hidup dibuat terbiasa dengan hal-hal yang luar biasa yang sering disangka sebagai dusta.

Dalam campuran karya realis dan magis ini, kita menerima Oskar Matzerath, anak yang menolak tumbuh dewasa, dengan suara teriak yang bisa meretakkan cermin, yang selalu siap dengan genderang mainan tapi dengan nafsu syahwat orang dewasa.

“Ketika saya anak-anak, saya pendusta besar,” kata Grass dalam sebuah wawancara. Tapi ia memilih “dusta yang tak melukai orang lain” dusta yang kita perlukan untuk mendampingi kebenaran. Sebab, kata Grass, “Kebenaran sering membosankan.”

Tapi sesekali penyair perlu juga membosankan.

Di tahun 2012 Grass menulis Was gesagt werden muss (“Apa yang mesti dikatakan”) dalam koran Suddeutsche Zeitung. Sajak itu membuat heboh karena benar, dan karena buruk.

Ia ingin tak berbohong:

Kenapa aku baru sekarang bicara,

di umur tua, dengan tetes tinta terakhir:

bahwa kekuatan nuklir Israel

adalah ancaman perdamaian dunia?

Dengan segera, pemerintah Israel marah. Grass jadi persona-non-grata. Masa lalunya digugat: ia pernah ikut bergabung dengan pasukan Waffen-SS di masa Nazi. Tentu saja ia dituduh “anti-Semit”. Banyak orang yang semula mengagumi pemenang Hadiah Nobel 1999 itu menyalahkannya.

Tapi adakah yang mesti disalahkan? Sajak itu benar. Sudah sepatutnya seseorang mengecam hipokrisi Amerika dan Eropa yang membiarkan Israel menyembunyikan senjata nuklirnya tapi melarang Iran mendapatkannya.

Meskipun demikian, benar saja tak cukup. “Was gesagt werden muss” diangkat dengan bentuk yang salah. Grass seharusnya menulis petisi, dan bukan sebuah sajak yang buruk, bila ia ingin mengerahkan kata-kata untuk menyatakan sebuah kebenaran dan menyelamatkan kehidupan.

Tapi tampaknya ia ingin menunjukkan ia bisa bikin puisi yang sanggup menggugah dunia, puisi yang juga laku politik. Barangkali ia kadang-kadang lupa: politik yang terbaik ialah politik yang tak dibikin sentimental karena puisi, dan puisi terbaik adalah yang tak direcoki keinginan melayani program politik.

Grass sebenarnya sudah membuktikan itu dengan dirinya. Sajak yang dibacanya di malam itu kuat, justru ketika ia tengah aktif dalam politik mendukung Partai Sosialis Demokrat di bawah Willy Brandt.

Bagaimana ia menjaga demarkasi itu pasti soal yang menarik.

Tapi saya tak menanyakannya ketika kami duduk, minum-minum, di antara para penyair lain yang datang untuk pertemuan internasional baca puisi itu. Bahasa Jerman saya, yang sangat terbatas, hanya dia pahami 10 persen, dan bahasa Jermannya saya pahami 20 persen.

Waktu itu dia lebih mencoba sopan dengan menanyakan sedikit-banyak soal Indonesia yang berada di bawah kediktatoran militer, tapi saya tahu ia lebih tertarik kepada India.

Beberapa tahun kemudian, pada usia 85, bisa dimengerti bila ia sesekali terpeleset ke dalam ilusi. Di masa lalunya ilusi itu belum ada, ketika ia mengagumi Gottfried Benn, penyair ekspresionis yang hidup di antara dua perang besar, seorang pendukung Hitler yang kecewa.

Bagi Benn, karya seni punya arti yang besar justru karena ia “secara historis tak efektif”, puisi bernilai justru karena tak punya akibat praktis.

Tapi Grass tak hanya melihat ke arah Benn. Ia juga melihat ke arah Bertolt Brecht, dramawan Marxis yang yakin bahwa karya teaternya bisa “mengubah kenyataan”. Ada yang mengatakan Grass ingin jadi persilangan di antara kedua pandangan itu.

Tapi agaknya bukan sang sastrawan yang menentukan ke sebelah mana novel dan puisinya condong.

Dalam Mein Jahrhundert, Grass menggambarkan pertemuan imajiner antara Benn dan Brecht. Seorang mahasiswa menguping percakapan mereka.

Yang ia dapatkan sebuah ironi: kedua sastrawan tenar itu tahu bahwa pembaca, bukan mereka, yang membentuk arah mereka.

Selalu ada jarak, selalu ada selisih dan selalu sang sastrawan tak bisa apa-apa lagi. Mungkin karena di jalan ada suara 3.800 nabi.

Goenawan Mohamad/Tempo.co