Goyahnya Dinasti Ratu Atut

Garut News, ( Senin, 07/10 ).

Ilustrasi. (ist).
Ilustrasi. (ist).

Setelah menangkap Ketua MK Akil Mochtar, KPK seharusnya memprioritaskan pemeriksaan terhadap Ratu Atut Chosiyah.

Gubernur Banten itu patut diduga terlibat kasus suap ini sesudah KPK mencokok Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan.

Apabila terbukti memerintahkan adik kandungnya itu menyuap Akil, Ratu Atut bisa ditetapkan tersangka oleh KPK.

Dalam gugatan hasil pemilihan kepala daerah Lebak, Banten, diputus MK itu, kepentingan Atut sangat jelas.

Sebagai tokoh Golkar, ia tentu mendukung pasangan disokong partainya, yakni Amir Hamzah-Kasmin, ternyata hanya kebagian 34 persen suara.

Pasangan Golkar itu kalah oleh pasangan Iti Oktavia-Ade Sumardi, didukung Partai Demokrat dan enam partai lain, dengan mengumpulkan 62 persen suara.

Putusan Mahkamah, mengulang pemilihan kepala daerah Lebak tentu saja menguntungkan Partai Golkar Banten, sekarang dipimpin Hikmat Tomet, suami Ratu Atut.

Melihat konstelasi itu, tak masuk akal apabila dalam kasus ini Ratu Atut tak mengetahui sepak terjang Wawan, adiknya juga Bendahara Partai Golkar Banten, dan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar Banten.

Pengusutan KPK kelak diharapkan mengungkap lebih jauh peran Wawan.

Di Provinsi Banten, Wawan sangat dekat dengan pejabat eksekutif dan legislatif.

Sebagai pengusaha konstruksi, dia penerus bisnis klan Chasan Sochib, sang bapak, juga tokoh sangat disegani di Banten semasa hidup.

Dia bahkan dijuluki “gubernur jenderal” atau “king maker” lantaran kehebatan aksesnya atas proyek-proyek daerah.

Jangkauan pengaruh Wawan bertambah luas ketika istrinya, Airin Rachmi Diany, memenangi pemilihan Wali Kota Tangerang Selatan-kendati pemilihan sempat diulang.

Kekuasaan besar itu mendatangkan kejayaan materi luar biasa.

Koleksi belasan mobil mewah ditemukan di rumah Wawan di Jalan Denpasar, kawasan Kuningan, Jakarta, merupakan salah satu bukti.

Bukan hanya Ferrari, Rolls-Royce, Toyota Camry, dan Lexus, Wawan juga memelihara Lamborghini Aventador, di pasar berharga lebih Rp12 miliar.

Hal ini belum terhitung beberapa rumah dimilikinya.

Kekayaan sangat mencolok di tengah rakyat Banten, rata-rata hidup miskin.

Barangkali, itu sebabnya sejumlah mahasiswa Banten merayakan penangkapan Wawan dengan mencukur habis rambut mereka.

Para mahasiswa itu, menduga Wawan berada di belakang sejumlah penyelewengan anggaran di Provinsi Banten selama ini.

Pemeriksaan terhadap Wawan, dan Atut semestinya tak hanya akan menjelaskan apa terjadi di Kabupaten Lebak.

Pengembangan kasus dua bersaudara ini semestinya bisa menjelaskan sejumlah kasus di Banten.

Misalnya, dugaan penyelewengan dana hibah bantuan sosial menjelang pemilihan Gubernur Banten dianggap Atut bagian kampanye hitam memojokkannya.

Walhasil, politik “kekerabatan” dan politik dinasti dibangun Ratu Atut-dengan lima kerabat dekat menguasai kabupaten dan kota di Banten-terbukti banyak menimbulkan mudarat.

Politik dinasti merusak sistem checks and balances dibutuhkan menangkal korupsi, sekaligus menopang tegaknya demokrasi.

***** Opini/ Tempo.co

Related posts