Goltiblos

by

Gol A. Gong, Ketua Umum Forum TBM

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 07/03 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Di era Orde Baru, di era tiga partai rekayasa (Golkar, PPP, dan PDI), saya golput.

Sangat bangga, karena hal itu keluar dari arus utama.

Perlawanannya memang seperti itu.

Sama halnya ketika semua orang takut membaca buku-buku Pram (tetralogi Bumi Manusia), saya justru berburu. Saya bahagia ikut dalam golongan pembangkang ini.

Musuhnya jelas: rakyat versus penguasa.

Tapi, setelah reformasi, saya tidak golput lagi.

Saya mencoba ikut berperan dalam perbaikan negeri, walau tetap non-partisan.

Di era reformasi, saya teringat banyak korban bergelimpangan; mahasiswa dan rakyat.

Semua demi Indonesia Baru, terbebas dari “demokrasi terpimpin” ala Soeharto.

Saya kebetulan berada di area Kebon Jeruk-Tomang-Grogol-Senayan.

Saya malu jika tetap harus “golput”, sembari membayangkan perjuangan mahasiswa, dosen, rakyat, dan para aktivis murni serta politikus bersih di era itu.

Saya merasa pemerintah sekarang berbeda dengan pemerintah di era Soeharto.

Memang belum sempurna, tapi kita harus aktif menjadi mesin penggerak perubahan.

Saya bersama teman-teman membangun Rumah Dunia.

Pada zaman 1998 ke belakang, semua satu suara.

Kalau sekarang, saya menganggap masih ada nyala lilin.

Di pemerintah (penguasa), masih banyak yang kritis dan ingin memperbaiki diri.

Sedangkan pada zaman Soeharto, yang kritis masuk bui.

Saya mengalaminya di tingkat lokal, Banten.

Walau tidak sampai dibui, sebagai aktivis literasi, saya mengalami diintimidasi oleh penguasa saat itu (sebelum reformasi).

Jadi, perjuangan di ranah kebudayaan jangan berakhir ketika pemilu.

Justru di sana klimaksnya. Secara pribadi, saya tertampar saat Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, berorasi di Rumah Dunia (10 Desember 2013), “Korupsi terjadi bukan karena jumlah koruptornya yang banyak, melainkan karena orang-orang baiknya mendiamkan. Seharusnya orang-orang seperti kita mendatangi orang baik untuk maju mencalonkan diri menjadi caleg atau kepala daerah atau presiden. Katakan kepada dia, oke, saya siap membantu dan tidak perlu membayar saya. Sehingga, saat terpilih nanti, orang baik itu tidak perlu mengembalikan ongkos politik yang besar.”

Sejak saya berumur 40 tahun, hingga 50 tahun sekarang ini, saya banyak merenungkan persoalan golput ini.

Saya mantan golput.

Saat itu saya merasa golput adalah sebuah bentuk perlawanan kepada penguasa yang zalim.

Antara rakyat versus penguasa.

Sebuah bentuk perlawanan ideologis.

Sekarang?

Saya merasa ada penurunan ideologi; simpang-siur, riuh.

Bukan lagi ideologis, melainkan lebih menjurus ke apatis dan egois.

Apa dan siapa yang harus dilawan?

Semua orang di negeri ini sedang berupaya mendirikan benang basah, lantas saya diam berpangku tangan?

Golput bagi saya sekarang sudah tidak relevan.

Tapi, jika golput ditangkap, saya juga tidak setuju.

Hanya, sekarang ini saya kok lebih sreg menyebutnya “goltiblos” (golongan anti-nyoblos).

Golongan putih, kesannya suci.

Sekarang sistem demokrasi di kita sudah terbuka (atau liberal?), tidak ada lagi pemberangusan dari penguasa kepada rakyatnya yang berbeda pendapat.

Jadi kenapa juga saya harus golput?

*****

Kolom/Artikel Tempo.co