Golput

Garut News ( Ahad, 30/03 – 2014 ).

Inilah Figur Bermakna Kepahlawanan, Kini Bersaing Dengan Pencitraan Produk Iklan luar Ruang di Simpang Lima Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).
Inilah Figur Bermakna Kepahlawanan, Kini Bersaing Dengan Pencitraan Produk Iklan luar Ruang di Simpang Lima Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).

Apa nama yang akan kita berikan kepada seseorang yang menolak tapi tak menolak, dan terus demikian, dan menyebabkan sebuah struktur terguncang?

Mungkin “golput”.

Mungkin Bartleby.

Cerita Herman Melville, Bartleby the Scrivener, berkisah tentang seorang juru salin di sebuah kantor pengacara di Wall Street.

Begitu masuk bekerja, ia menunjukkan diri sebagai orang yang sangat rajin: ia menyalin semua dokumen yang diberikan kepadanya.

Tiba-tiba, pada satu hari, ia seperti menampik.

Tapi sebenarnya tak jelas demikian.

Ia hanya mengatakan, “I would prefer not to.”

Kalimat itu sopan sekali.

Kalimat itu juga membingungkan.

Kurang-lebih berarti “sebaiknya saya lebih suka tidak”.

Dan majikannya tercengang.

Dan itu bukan yang terakhir kali.

Kalimat itu diutarakan Bartleby tiap kali ia diminta mengerjakan sesuatu.

Akhirnya kian sedikit ia jalankan tugasnya.

Rekan-rekan sekerjanya mulai kesal.

Majikannya makin tak paham.

Apalagi ketika Bartleby sama sekali berhenti menyalin dan tak mau beranjak dari ruang kerjanya yang sempit.

Ketika pada suatu hari Minggu sang majikan menengok kantornya, ia dapatkan Bartleby masih di dalam.

Orang ini menetap.

Sang majikan jengkel.

Tapi ia juga merasa kasihan.

Ia tak bisa mengusir pegawai yang aneh itu.

Ia merasakan, tiap hari Minggu malam, Wall Street lengang dan muram seperti kota hantu.

Bartleby pasti sering memandang lewat jendela kamar kerjanya dan hanya menemui tembok yang kosong.

“I would prefer not to.”
“You will not?”
“I prefer not.”

Kalimat Bartleby tak pernah jelas.

Orang hanya bisa membaca tubuhnya.

Akhirnya majikannya tak berbuat apa-apa terhadapnya: ia justru yang memutuskan pindah kantor.

Ia sewakan kantor itu kepada orang lain.

Sang penyewa bertindak lebih drastis.

Ia usir Bartleby.

Tapi orang ini tak mau pergi: ia duduk-duduk dan tidur di tangga.

Majikannya yang lama, yang mengisahkan kejadian ini, datang dan mencoba membujuknya untuk pergi dari emper itu.

Ia bahkan menawarkan sebuah kamar di rumahnya untuk ditempati.

Tapi Bartleby menjawab: I would prefer not to.

Mungkin ini sebuah cerita sedih: Bartleby akhirnya dipenjarakan dan mati karena ia menolak makan.

“Sebaiknya saya lebih suka tidak.”

Tapi bisa juga kesedihan itu tak harus dilihat sebagai sesuatu yang tragis.

Deleuze, yang ikut membahas karya Melville ini, menyimpulkan, kisah Bartleby justru sebuah teks yang sangat lucu, dan yang lucu, yang komikal, katanya, “selamanya harfiah”.

Kisah ini bukan sebuah kiasan.

Memang tak ada makna lain yang tersirat dalam “I would prefer not to”.

Tapi sikap Bartleby tetap tak bisa ditebak karena mula-mula, setelah ia mengucapkan kalimat itu, ia toh mengerjakan apa yang jadi tugasnya.

Sampai pada satu titik mungkin ketika ia sadar bahwa kata-kata itu punya dampak kepada orang sekelilingnya.

Kemudian, kepada dirinya sendiri.

Dampak itu terasa karena kalimat itu bergema di sebuah kantor pengacara di Wall Street, dunia tembok-tembok kekar, di ruang yang tertib, di antara dokumen-dokumen yang cermat, di celah-celah bahasa hukum yang ingin persis dan prediksi yang ingin tepat.

Di antara itu semua, kata-kata Bartleby tak menampik, tapi juga tak menerima.

Ia menghapus makna yang diacunya sendiri, tapi juga menghapus makna lain yang mungkin.

Ia menggunakan ungkapan yang lempang tanpa kiasan, tapi, setidaknya bagi Deleuze, “ia menciptakan sebuah vakum dalam bahasa (langue)”.

Sebagaimana ia berhenti menyalin dokumen, ia pun berhenti menyalin bahasa orang lain yang umum.

Akhirnya ia memang seorang luar, sepenuhnya.

Andai ia menyatakan maksud yang jelas ia menolak, ia masih meletakkan diri dalam satu posisi.

Tapi tidak.

Dalam ambiguitas itu, ia melakukan resistansi.

Saya tak bisa menyimpulkan bahwa resistansi itu efektif.

Deleuze memang bertepuk tangan: “Bartleby telah memenangi hak untuk lanjut hidup, artinya, untuk tetap tak bergerak dan tegak di depan sebuah dinding buta.”

Tapi orang lain bisa mengatakan aksi Bartleby hanya mengarah ke sebuah impase; tak ada langkah tegas ke pembebasan.

Bartleby memang bisa dipandang sebagai tubuh yang memprotes “kandang besi” yang membentuk Wall Street.

Tapi ia sendiri.

Ia menyendiri.

Ia menolak apa pun yang dari luar, juga makanan; ia seperti seorang pertapa yang memegang teguh puasa dan prinsip.

Tapi ia juga seperti penderita anoreksia yang sekaligus narsis.

Di penjara dan di kuburannya, ia tak mengubah apa-apa.

Tapi mungkinkah ia sepenuhnya sendiri?

Ada yang terjadi, meskipun tak senantiasa terjadi: seseorang yang sebenarnya bisa menyingkirkannya sang majikan di kantor pengacara itu tak hendak melakukan tindakan itu.

Bahkan ia menga­lah.

Kemudian menawarkan tempat.

Kemudian mengirimi Bartleby makanan.

Bisa saja sang majikan melakukan itu buat menyelamatkan mukanya sendiri, atau ia tak mau heboh, atau ia entah.

Tapi yang jelas, ia merasa Bartleby bukan unsur yang bisa dibuang.

Ia merasa Bartleby tak sendirian.

Maka apa nama yang akan kita berikan kepada mereka yang menolak tapi tak menolak?

Mungkin “golput” bila ambiguitas itu, ketakjelasan bahasa itu, bisa memberi isyarat: kami bukan hanya sedang tak mau diganggu.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co

 

Related posts

Leave a Comment