Germas, Desa Siaga Garut, Juga Wujudkan PHBS

0
185 views
Istuti Kurniati, SKM, MH. Kes.
Istuti Kurniati, SKM, MH. Kes.

Seluruh jajaran Bidang “Kesehatan Masyarakat” (Kesmas) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, selama ini gencar menyelenggarakan formula mewujudkan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” (Germas), termasuk pengembangan cakupan dan peningkatan kualitas “Desa Siaga” guna mewujudkan “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat” (PHBS).

Sehingga melalui penguatan pengembangan Desa Siaga kian menjadikan pemberdayaan, dan kemandirian masyarakat desa maupun kelurahan masing-masing, yang ditunjang pemenuhan managemen kelembagaannya.

“Terdiri unsur kepemimpinan, pengorganisasian, serta unsur pendanaan,” ungkap Plt. Kepala Bidang Kesmas pada Dinkes kabupaten setempat, Istuti Kurniati, SKM, MH. Kes.

Hj. Eulis Dahniar, SKM

Ungkapan senada disampaikan Kepala Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Garut, Hj. Eulis Dahniar, SKM. Serta disampaikan Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Hj. Heni Juliani, SST, M. Kes.

Sedangkan formula mewujudkan Germas, di antaranya melalui peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat, dan percepatan perbaikan gizi.

Hj. Heni Juliani, SST, M.Kes.

Kemudian peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, serta peningkatan edukasi hidup sehat.

Sehingga penting mengedepankan preventif dan promotif kesehatan, lantaran mencegah lebih baik daripada mengobati penyakit.

Maka pada 2017 silam pun, antara lain dicanangkan dimulainya kegiatan kampanye imunisasi campak, serta penyerahan “Kartu Indonesia Sehat” (KIS) kepada sepuluh camat.

Istuti Kurniati pun menyerukan, agar masyarakat di Kabupaten Garut juga perlu senantiasa memahami Desa Siaga merupakan strategi baru pembangunan kesehatan. Desa siaga lahir sebagai respon pemerintah terhadap masalah kesehatan di Indonesia.

Lantaran, Desa Siaga merupakan salah satu bentuk reorientasi pelayanan kesehatan dari sebelumnya bersifat sentralistik dan top down menjadi lebih partisipatif dan bottom up. Berdasar Keputusan Menkes RI Nomor 564/MENKES/SK/VI II/2006, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa siaga.

Desa Siaga merupakan desa berpenduduk memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.

Sebab Desa Siaga suatu konsep peran serta, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, disertai pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat memelihara kesehatannya secara mandiri.

Konsep desa siaga itu, membangun suatu sistem di suatu desa yang bertanggung jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di bawah bimbingan dan interaksi dengan seorang bidan dan 2 orang kader desa. Di samping itu, dilibatkan pula berbagai pengurus desa untuk mendorong peran serta masyarakat dalam program kesehatan seperti imunisasi dan posyandu.

Secara umum, tujuan pengembangan desa siaga terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Selanjutnya, tujuan pengembangan desa siaga :

Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan,  Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa.

Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

Juga dikatakan, Eulis Dahniar, dari 420 desa/kelurahan di kabupatennya pada 2018 ini cakupan PHBS mencapai 70 persen. Menyusul capaian 2017 sebesar 56,13 persen atau meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya (2016) hanya 33,20 persen.

Heni Juliani menambahkan pula, sedikitnya 10 desa pada delapan wilayah Puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diagendakan secara ‘intens’ diintervensi pemberian obat cacing serta peningkatan perbaikan gizi.

Karena pada wilayah tersebut, diketemukan sekitar 43 warga berkondisi ‘stunting’.

Pada 10 desa itu terdiri Desa Lembang Leles, Leuwigoong, Wanakerta Cibatu, Sukarasa Malangbong, Padamukti Sukaresmi, Simpang Maroko Cibalong, Pasirlayu Pakenjeng, Jayamekar Pakenjeng, Girimukti dan Desa Karangsewu Cisewu.

Akibat kurang asupan gizi yang diterima janin maupun bayi sejak bayi dalam kandungan, dan masa awal anak lahir. Sehingga stunting ini baru nampak setelah anak berusia dua tahun.

Berdasar random sampel pada 2016 silam menunjukan 24 persen anak dari 300 kepala keluarga berkondisi stunting.

Ditanggulangi dengan beragam upaya termasuk di antaranya konseling dan perbaikan gizi. Saat ini pun terdapat cakupan “Perbaikan Makanan Bagi Anak” (PMBA) pada 14 Puskesmas di 10 kecamatan.

Di antaranya melibatkan langsung 345 kader termasuk 260 kader PMBA, ungkap dia.

Namun akar permasalahan paling dominan kurangnya asupan gizi pada anak, lantaran banyaknya masyarakat yang didera kondisi kemiskinan, termasuk miskin pengetahuan serta miskin kemampuan mengakses ragam informasi kesehatan.

“AKI/AKB Menurun”

Hani Juliani menjelaskan pula terjadinya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) pada proses persalinan.

Selama 2016 silam terjadi 74 kasus ibu meninggal, kemudian turun menjadi 45 kasus pada 2017 lalu.

Kemudian pada 2016 ada 333 kasus bayi meninggal juga turun menjadi 226 kasus bayi meninggal pada 2017 lalu, antara lain berkat proses penanganan yang cepat maupun terintegrasi.

Sedangkan persalinan di fasilitas kesehatan pada 2016 mencapai 89 persen atau 53.000 an, tetapi pada 2017 lalu mencapai 70 persen atau 48.000 an proses persalinan di fasilitas kesehatan.

Menurunnya persalinan menjadi 70 persen di fasilitas kesehatan tersebut, bisa saja terjadi berkat keberhasilan program KB (Keluarga Berencana).

Sebelumnya, tingginya “Angka Kermatian Ibu” (AKI) dan “Angka Kematian Bayi”(AKB) di Kabupaten Garut saat melahirkan, mendapatkan penyikapan serius dari komunitas Forum Peduli Masyarakat Madani/ FMM ‘Kami Siaga’ (Komunitas Aliansi Masyarakat Indonesia – Sayang Ibu dan Anak Garut).

Berupa 12 kegiatan rencana tindak lanjut, terdiri memberikan informasi layanan kesehatan yang jelas kepada masyarakat (melahirkan pada fasilitas kesehatan/bidan), menginformasikan proses penyadaran masyarakat terkait administrasi, KTP, kartu keluarga, dan lainnya (termasuk kepada suami dan lingkungan terdekat).

Kemudian menyebarkan informasi tentang layanan rujukan melalui media poster, leaflet dan lainnya (ambulance serta fasilitas kesehatan lainnya), call center yang bisa dihubungi jika terjadi masalah/ kendala pada fasilitas kesehatan.

Disusul menghidupkan/mengaktifkan kembali desa siaga, pemantauan/pengumpulan informasi dari setiap Posyandu sebagai deteksi dini, penguatan penyadaran terhadap masyarakat, sosialisasi kesadaran imunisasi dan Germas.

“Kesehatan Investasi Masa Depan Berkemajuan”

*********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here