Generasi Galau

Iwel Sastra,
Komedian @iwel_mc

Garut News ( Jum’at, 14/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Daripada Galau Mending Saksikan Keindahan Kreasi Seni Tari Jaipong Ditampilkan Gadis Cisewu, Garut, Jabar, Devia atawa Aqilla Fadia, Murid SMP Juga Aktif pada "Palang Merah Remaja" (PMR). Foto: John Doddy Hidayat.
Ilustrasi. Daripada Galau Mending Saksikan Keindahan Kreasi Seni Tari Jaipong Ditampilkan Gadis Cisewu, Garut, Jabar, Devia atawa Aqilla Fadia, Murid SMP Juga Aktif pada “Palang Merah Remaja” (PMR). Foto: John Doddy Hidayat.
Kontroversi hari Valentine selalu berulang tiap tahun.

Ada yang menyambut gembira, ada juga yang menolak perayaan hari kasih sayang itu.

Teman saya menolak keras perayaan hari Valentine.

Dasar penolakannya bukan karena dalil agama, melainkan karena dia jomblo.

Menurut dia, kasih sayang itu merupakan pelanggaran berat HAM alias Hak Asasi Menjomblo.

Bagi kaum jomblo, tanggal 14 Februari bukanlah hari kasih sayang, melainkan hari penyiksaan.

Jomblo adalah sebutan untuk seseorang yang belum punya pasangan.

Ada juga yang memberikan julukan orang menjomblo dengan sebutan duafa cinta.

Jomblo sering dihubungkan dengan kata galau.

Penyebabnya adalah seseorang yang menjomblo hatinya tak menentu, sehingga menimbulkan perasaan galau.

Ketika melihat sepasang kekasih jalan berdua, langsung galau. Nonton film India, langsung galau.

Dengerin musik melow, langsung galau.

Apalagi terima undangan pernikahan, langsung super-galau sambil mikir, “ngasih angpau berapa ya?”

Sekarang ini virus galau tidak hanya melanda kaum jomblo, tapi juga melanda banyak orang.

Bisa jadi inilah penyebab acara-acara penuh joget seperti YKS alias Yuk Keep Smile menjamur.

Anak-anak remaja menghibur diri dengan menjadi penonton tayangan musik pagi hari yang diselingi candaan sehari-hari pembawa acaranya.

Dari masa ke masa, istilah terhadap sebuah generasi berubah.

Dulu dikenal istilah generasi bunga, kemudian muncul generasi X yang dilanjutkan dengan generasi Y.

Sekarang populer istilah generasi Flux.

Saya mengutip tulisan Rene Suhardono tentang generasi Flux.

Rene menulis, berbeda dengan Gen-X atau Gen-Y yang bersifat demografis, Gen-Flux cenderung psikografis.

Lebih lanjut Rene menuliskan, Gen-Flux tidak terbebani keharusan punya sebutan karyawan, freelancer, konsultan, atau entrepreneur, semua julukan itu sama sekali tidak penting.

Dari tulisan Rene, saya menyimpulkan Gen-Flux adalah generasi anti-galau.

Kenyataannya justru kita masuk pada era generasi galau.

Fenomena ini kalau dipikirkan malah membuat kita ikut-ikutan galau.

Penyebab munculnya generasi galau sebenarnya berhubungan erat dengan persoalan bangsa yang belum bisa diatasi pemerintah.

Kenaikan harga BBM, kenaikan harga elpiji, listrik yang masih suka padam di beberapa wilayah, misteri impor beras Vietnam, dan berbagai masalah yang bikin galau lainnya.

Presiden SBY menyadari betul bahwa dia belum bisa mengatasi sepenuhnya rasa galau ini dengan kebijakan yang tepat karena Presiden SBY sendiri juga dirundung galau oleh berbagai persoalan internal partai Demokrat yang dipimpinnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menghibur dengan tweet motivasi melalui akun Twitter @SBYudhoyono.

Untuk membawa generasi galau menjadi generasi Flux yang penuh keoptimisan dan jauh dari galau, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang bisa menawarkan solusi anti-galau.

Namun kehadiran pemimpin yang bisa mengobati rasa galau ini belum terlihat.

Prabowo, Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra, dan sejumlah calon presiden lainya masih galau menanti kepastian secara resmi maju sebagai calon Presiden.

Jokowi, yang dijagokan sebagai calon presiden, masih galau menunggu restu Bu Mega.

Sedangkan Bu Mega masih galau untuk memutuskan maju atau memberikan kepada Jokowi. *

*****

Kolom/Artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment