Geliat Wisata Garut Dipastikan Bisa Menuai Asa

0
58 views

Garut News ( Ahad, 02/12 – 2018 ).

Keindahan Pesisir Pantai Garut. (Foto : JDH).

“Pariwisata, kegiatan berhubungan perjalanan untuk rekreasi selalu berkaitan akomodasi lainnya” 

Oleh :  Wawan Kusmawan, S.IP.          

Sejak beberapa tahun terakhir Kabupaten Garut kian menjadi destinasi wisata, baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Lantaran tumbuh dan berkembangnya objek wisata yang ditata, bertujuan menarik wisatawan agar berdatangan guna menikmati pesona wisata di kabupaten ini.

Memancing. (Foto : JDH).

Sehingga terus menggeliatnya sektor non migas  di kabupaten itu, menjadikan setiap Sabtu dan Ahad kotanya menjadi langganan kemacetan arus lalu lintas ragam jenis kendaraan bermotor.

Menyusul cukup derasnya kunjungan wisatawan yang berdatangan pada obyek  wisata yang lengkap, berupa obyek wisata gunung, situs, hingga laut dengan ‘view’ eksotis.

Foto : JDH.

Sedangkan beberapa potensi wisata cukup terkenal yakni pemandian air panas di Cipanas, kawasan wisata Darajat, Gunungapi Papandayan, eco park, situs Candi Cangkuang, Situ Bagendit, Pantai Cilauteureun Santolo, Pantai Sayangheulang, dan Pantai Rancabuaya.

Bahkan juga tak kalah diserbu wisatawan, berupa sentra industri Kulit Sukaregang menyediakan ragam produk kerajinan berbahan baku kulit Asli Garut.

Sehingga tumbuh kembangnya potens wisata di kabupaten ini, tentunya diiringi berkembangnya sektor perdagangan menyediakan beragam ‘souvenir’, serta kuliner yang semakin menjamur pada pelbagai tempat bisa memanjakan wisatawan penikmat kuliner khas Garut.

Kemudian sektor perhotelan pun berkembang pesat, mulai berkelas melati hingga hotel berbintang.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten setempat (Garut Dalam Angka terbitan 2018)  menunjukan, populasi hotel berbintangnya sejak 2011 hingga 2016 mencapai delapan.

Terdiri tiga hotel bintang dua, dan lima bintang tiga,  berjumlah akomodasi lainnya 103 buah/kamar. Kendati hotel berbintang paling tinggi  sampai bintang tiga.

Maka Pemkab berharap, dengan kondisi dan fasilitas tersedia dapat melayani sekaligus memanjakan para wisatawan, agar mereka puas dan  selalu tertarik berdatangan lagi termasuk bisa tinggal menginap lebih lama.

Masih menurut data BPS Kabupaten Garut, menunjukan pula pada 2017 rata-rata lama menginap di hotel mencapai 1,30 hari tamu asing, dan 1.02 hari tamu domestik.

Selama rentang  waktu 2017, ternyata tamu asing lebih lama menginap dibandingkan tamu domestik, dengan rata-rata terlama pada Oktober yakni 2,44 hari, sedangkan tamu domestik menginap terlama pada Februari.

Tingkat hunian kamar hotel menunjukan, selama periode 2016 prosentase tingkat hunian kamar hotel masih di bawah 50 %, meliputi  34.88 % hotel berbintang, dan 30.91 % hotel non bintang.

Intensitas penghunian kamar hotel, merupakan persentase banyaknya malam kamar dihuni terhadap banyaknya malam kamar tersedia. Selama periode tersebut tingkat hunian kamar paling tinggi pada November  mencapai 52.49% hotel berbintang, dan Desember mencapai 37.60% Hotel Non Bintang.

Dengan demikian penulis menyimpulkan, Pertama wisatawan berdatangan, baik asing atau domestik ada keinginan menginap atau tak sekedar hanya numpang lewat.

Kedua, jika pengembangan sumber daya alam khususnya industri kepariwisataan di gali, dikelola , serta ditata dengan baik dipastikan bisa memberi kontribusi maksimal terhadap pemerintah daerah, baik dari segi ekonomi, politik sosial, dan Budaya.

Bahkan nilai lebihnya dapat mewujudkan ‘MULTIPLIER EFFECT’ bagi pengembangan denyut nadi perekonomian riil masyarakat sekitarnya.

Semoga ke depan industri kepariwisataan di Garut bisa semakin tumbuh lebih baik, dan berkembang juga dikenal masyarakat mancanegara.

Wawan Kusmawan, S.IP.  (Foto: Ist.)

Sebagaimana diungkapkan Rumi, Penyair  Sufi Persia Abad ke – 13, “Bumi Menjadi Emas ditangan Orang – Orang yang Bijak”.

********

Penulis, Fungsional Statistik BPS Kabupaten Garut, Jawa Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here