Geliat Pizza Apa Ya…? Ditengah Kepungan Pandemi

0
12 views
Cowboy Garut pun Gemar Mengonsumsi Pizza.

Garutnews ( Sabtu, 30/01 – 2021 ).

Enak Dikonsumsi dan Perlu.

“Berpikir Positif Hasilkan Pula Energi Positif”

Foto berita garutnews akhir pekan ini, Sabtu (30/01–2021), memotret “Geliat Pizza Apa Ya…. Ditengah Kepungan Predator Pandemi”.

Ternyata sangatlah mudah diperoleh di Perum Citra Jaya Sentosa Gordah B.61 guna mendapatkan jenis kuliner khas sebagai upaya mencegah penularan corona. Lantaran ragam kandungan gizinya bisa meningkatkan kualitas imunitas tubuh.

“Bahkan disini jenisnya pun ada dua, enak atau enak banget,” katanya. Berformula pengemasannya pun dipastikan higienis bahkan dijamin ‘Halal’, malahan juga harganya disesuaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat di masa pandemi. Hanya mulai dari Rp10 ribu setiap ‘Satu Box Pizza’.

Dikemas Apik Juga Menarik.

Pizza, hidangan gurih asal Italia tersebut, selama ini dikenal variasi Calzone, Panzerotti, Stromboli, sedangkan kandungan gizinya termasuk: USDA Jumlah Per 100 g100 gKalori (kcal) 266 Jumlah Lemak 10 gram.

Lemak jenuh 4,5 g Lemak tak jenuh ganda 1,7 g Lemak tak jenuh tunggal 2,6 g Lemak trans 0,2 g Kolesterol 17 mg Natrium 598 mg Kalium 172 mg.

“Bahkan disini jenisnya pun ada dua, enak atau enak banget,” katanya.

Jumlah Karbohidrat 33 g Serat pangan 2,3 g Gula 3,6 g Protein 11 g Vitamin A 358 IU Vitamin C 1,4 mgKalsium 188 mg Zat besi 2,5 mgVitamin D 0 IU Vitamin B6 0,1 mgVitamin B12 0,4 µg Magnesium 24 mg.

“Hikmah  30 Jan 2021, Berpikir Positif Menghasilkan Pula Energi positif”

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

Di tengah pandemi Covid-19 kita dan semua masyarakat Indonesia senantiasa diminta untuk berpikiran positif sekaligus melakukan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan agar kondisi imunnya kuat.

Berpikir Positif Menghasilkan Pula Energi positif.

Kita juga harus berpikiran positif bahwa Covid-19 itu ada di seluruh dunia tidak hanya di negara kita dan kita harus meyakini bahwa semua itu pasti ada obatnya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Berpikir positif akan menghasilkan energi positif pula, yaitu energi yang akan menghasilkan pemikiran dan sikap yang baik, bersemangat, optimistis, menemukan kebaikan di balik kesalahan, menemukan anugerah di balik musibah atau ‘berkah tersembunyi’ (blessing in disguise), serta melakukan hal-hal yang benar yang berujung pada terciptanya kebahagiaan.

Dipastikan Higienies dan Halal.

Berpikir positif dalam Islam dikenal dengan istilah husnudzan (baik sangka), termasuk berbaik sangka kepada Allah SWT. Kunci utamanya adalah zikir, yaitu ingat kepada Allah SWT dengan cara menghadirkan selalu Allah dalam diri, meyakini bahwa Allah Mahatahu yang terbaik buat hamba-Nya, berbaik sangka kepada-Nya dan meyakini bahwa dalam kesulitan pasti ada kemudahan.

Pertama, menghadirkan selalu Allah dalam diri. Allah SWT berfirman, “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hadid [57]: 4).

Walaupun singkat, ayat ini seakan memberi pelajaran begitu luas. Ketika kita berbicara, Allah mendengar. Ketika kita diam, Allah melihat. Ketika kita berpikir, Allah mengetahui. Ketika kita sendiri, Allah bersama kita. Ketika kita melaksanakan dan menegakkan kebenaran, Allah akan membela.

Temukanlah ‘berkah tersembunyi’ (blessing in disguise).

Ketika kita dizalimi, Allah akan memberi pertolongan. Ketika kita dalam kesulitan, Allah akan memberi kemudahan. Ketika kita dalam kebingungan, Allah akan memberi jalan keluar. Ketika kita bergelimang dosa, Allah membuka pintu tobat seluas-luasnya.

Kedua, meyakini Allah Mahatahu yang terbaik. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 216).

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hadid [57]: 4).
Ketiga, berbaik sangka kepada Allah SWT. Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Nabi SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku bergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari No 7405 dan Muslim No 2675).

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah [94]: 5-6).
Keempat, meyakini dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Allah SWT berfirman: “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah [94]: 5-6).

Wallahu a’lam.

Republika.co.id, JDH/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here