Gebyar Pesta Laut Nelayan Santolo Pameungpeuk Garut

by

Garut News ( Rabu, 15/01 – 2014 ).

Berbaur dengan hingar bingar music cadas.
Berbaur dengan hingar bingar music cadas.

Inilah salah satu suasana gebyar, “Pesta Laut Nelayan Santolo Pameungpeuk Garut, Jawa Barat, 2014, Ahad, (12/01).

Seorang anak, lugu naik ke atas panggung pementasan beragam atraksi hiburan, saksikan pementasan musik cadas.

Remaja, serta kaula muda setempat, berbaur pada hingar bingarnya lantunan beberapa nomor lagu, serta lengkingan beragam improvisasi petikan melody guitar pemain band.

Suasana panggung hiburan pesta laut.
Suasana panggung hiburan pesta laut.

Meski sekitarnya bercuaca mendung, bahkan diguyur hujan gerimis.

Panjang pantai Garut Selatan, mencapai ekitar 83 km.

Sebagian besar nelayan setempat, mencari ikan dengan beragam perangkat terbilang sederhana.

Demikian pula sarana digunakan lainnya.

Potensi dan keindahan bentangan pesisir bibir pantai di Kawasan Garut Selatan, selain hamparan pasir putihnya.

Pesta Rakyat Santolo.
Pesta Rakyat Santolo.

Juga beragam terumbu karang, serta beragam biota laut sangat memikat.

Pantai selatan ini, berhadapan langsung dengan perairan bebas “Samudera Hindia”, dilintasi mobilitas transfortasi internasional.

Antara lain terdapat pula “Stasiun Peluncuran Roket” (Staspro) uji coba milik “Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional” (Lapan) di Cilauteureun Pameungpeuk.

Gegap Gempita.
Gegap Gempita.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisirnya pun beragam pula, terdapat nelayan tradisional, umumnya berstatus buruh penangkap ikan pada “juragan” masing-masing.

Termasuk bekerja pada kapal-kapal penangkap ikan bermesin dalam.

Sedangkan potensi pariwisatanya, masih belum sepenuhnya menggeliat dibandingkan prosfektif pariwisata pantai lain, seperti Pangandaran, Pelabuhan Ratu, atawa Anyer.

Meski Bercuaca Mendung, bahkan Diguyur Hujan.
Meski Bercuaca Mendung, bahkan Diguyur Hujan.

Bisa ditempuh selama dua hingga empat jam perjalanan sejauh 90 km lebih, arah selatan dari pusat Kota Garut.

Selama ini, lebih banyak didatangi wisatawan lokal asal Kota Garut, Bandung, Bekasi juga beberapa wisatawan asal Jakarta.

Selain itu, beberapa pengunjung yang datang sekaligus melaksanakan tugas kedinasan dari kantor mereka.

Di antaranya pegawai, serta peneliti dari Lapan.

Bisa ditempuh dengan mobil atawa sepeda motor.

Kuliner Produk Asli Cihurip.
Kuliner Produk Asli Cihurip.

Serta menaiki moda angkutan penumpang umum, antara jenis kendaraan elf atawa bis.

Dengan ongkos perjalanan berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap penumpang.

Sepanjang perjalanan, terdapat fanorama alam atawa pemandangan memikat, meski berlintasan ruas badan jalan sarat kelokan.

Pada kira dan kanan jalan, sarat ditemukan lembah dan tebing curam berkedalaman hingga ratusan, bahkan ribuan meter.

Jika hujan turun pada sore atawa malam, sepanjang perjalanan kerap dilintasi kabut tebal dan pekat, sehingga patut kendaraan anda dilengkapi lampu kabut.

Sedangkan kesiapan lain patut dilakukan, kondisi kesehatan badan yang prima, selain tentunya dipastikan membawa perbekalan, serta uang secukupnya.

Lantaran di Santolo, Sayang Heulang, serta lokasi lain bisa dinikmati hidangan ikan bakar segar.

Malahan pada sepanjang perjalanan, banyak terdapat rumah makan termasuk warung kopi untuk sekedar beristirahat atawa rehat sejenak.

Jika hendak membeli ikan segar, idealnya pagi hari.

Terdapat TPI.
Terdapat TPI.

Bisa langsung mendatangi “Tempat Pelelangan Ikan” (TPI).

Terdapat pula penjual ikan dikeringkan, termasuk jenis jambal roti.

Dipatikan harganya pun beragam.

Keluarga nelayan ini, mengisi waktu luang dengan memproduk karpet berbahan baku dari bekas bungkus kopi.

Inilah produk wajit asli Cihurip, bisa ditemui pada perjalanan Cikajang – Pameungpeuk, tepatnya pada lokasi lintasan Gunung Gelap.

Terdapat pula produk gula aren asli, hasil industri rumah tangga penduduk

Cihurip.

Sungai Lintasi Dasar Gunung Gelap.
Sungai Lintasi Dasar Gunung Gelap.

Jenis gula aren ini, dijajakan dengan harga berkisar Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Sebagian masyarakat wilayah Garut Selatan ini, berobsesi dan tengah berupaya memisahkan diri dari Kabupaten Garut.

Mereka menghendaki pemekaran menjadi kabupaten baru.

Penduduk Garut selatan berkeyakinan terhadap potensi dimiliki daerahnya.

Sehingga memastikan bisa dimekarkan.

Anak ikan Hiu, kerap ditemukan nelayan, siripnya bernilai ekonomi tinggi.

Terjaring nelayan saat melaut.

************

Esay : John Doddy Hidayat.

Copy Right Garut News.