Optimalisasi Germas Hidup Sehat Pencegahan ‘Stunting’ Cibatu – Leuwigoong

0
21 views
Rapat Koordinai APPI Kabupaten Garut di Cibatu.

Garut News ( Selasa, 09/10 – 2018 ).

Rapat Koordinai APPI Kabupaten Garut di Cibatu.

Ragam kegiatan optimalisasi “Gerakan Masyarakat Sehat” (Germas), dan pencegahan ‘stunting’ diagendakan berlangsung di wilayah Kecamatan Cibatu dan Leuwigoong Garut, Jawa Barat, pada 1 November 2018 mendatang.

Ketua “Aliansi Pita Putih Indonesia” (APPI) kabupaten setempat, Hj. Elin Erlinawati bersama jajaran kepengurusannya menyelenggarakan rapat koordinasi persiapan preorientasi Germas dan Stunting di Bandung pada 29 – 30 Oktober 2018 sekaligus kesiapan agenda 1 November 2018.

Rapat Koordinai Dibuka Camat Cibatu.

Rapat koordinasi tersebut dibuka Camat Cibatu, Drs H. Sardiman Tanjung di Kecamatan Cibatu, Selasa ( 09/10 – 2018 ), yang antara lain mengapresiasi positip pada beragam agenda diselenggarakan Keluarga Besar APPI, yang dinilainya pula sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi wilayah terdampak stunting.

Hj. Elin Erlinawati katakan, seluruh unsur termasuk Tim Penggerak PKK Cibatu dan Leuwigoong terlibat langsung dalam menyukseskan helatan 1 November 2018, di antaranya pelaksanaan senam sehat, serta penyajian konsumsi sayuran dan buah – buahan. Termasuk advokasi pola hidup, juga pola makan yang sehat.

Rapat Koordinasi.

Sehingga masyarakat pada kedua wilayah kecamatan itu, diharapkan bisa berperilaku hidup bersih dan sehat, serta ke depan tak ada lagi penduduk berkondii stunting.

Sebelumnya diberitakan Garut News, Anak – anak di Kabupaten Garut berkondisi “stunting” atau bertinggi badan ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya yang seusia, jumlahnya paling banyak di Provinsi Jawa Barat.

Akibat kurang asupan gizi yang diterima janin maupun bayi sejak bayi dalam kandungan, dan masa awal anak lahir. Sehingga stunting ini baru nampak setelah anak berusia dua tahun.

Hani Juliani.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi pada Dinas Kesehatan kabupaten setempat, Hj. Heni Juliani katakan, berdasar random sampel pada 2016 silam menunjukan 24 persen anak dari 300 kepala keluarga berkondisi stunting.

Mereka tersebar dari 20 wilayah kecamatan dengan 30 desa di seluruh wilayah kabupaten, bahkan jumlahnya meningkat drastis dari 24 persen menjadi 43 persen atau nyaris mencapai  200 persen peningkatannya berdasar hasil random sampel selama 2017 lalu.

Penduduki Selatan Garut.

Hasil random sampel 2017 tersebut, juga diselenggarakan pada 20 wilayah kecamatan dengan 30 desa di kabupaten itu, ungkap Hj. Heni Juliani kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (04/01-2018).

Paling banyaknya anak Garut berkondisi stanting di Jabar ini, ditanggulangi dengan beragam upaya termasuk di antaranya konseling dan perbaikan gizi. Saat ini pun terdapat cakupan “Perbaikan Makanan Bagi Anak” (PMBA) pada 14 Puskesmas di 10 kecamatan.

Dengan melibatkan langsung 345 kader termasuk 260 kader PMBA, katanya.

Namun akar permasalahan paling dominan kurangnya asupan gizi pada anak, lantaran banyaknya masyarakat yang didera kondisi kemiskinan, termasuk miskin pengetahuan serta miskin kemampuan mengakses ragam informasi kesehatan.

“AKI/AKB Menurun” 

Hani Juliani menjelaskan, pula terjadinya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) pada proses persalinan.

Selama 2016 silam terjadi 74 kasus ibu meninggal, kemudian turun menjadi 45 kasus pada 2017 lalu.

Kemudian pada 2016 ada 333 kasus bayi meninggal juga turun menjadi 226 kasus bayi meninggal pada 2017 lalu, antara lain berkat proses penanganan  yang cepat maupun terintegrasi.

Sedangkan persalinan di fasilitas kesehatan pada 2016 mencapai 89 persen atau 53.000 an, tetapi pada 2017 lalu mencapai 70 persen atau 48.000 an proses persalinan di fasilitas kesehatan.

Menurutnya, persalinan menjadi 70 persen di fasilitas kesehatan tersebut, bisa saja terjadi berkat keberhasilan program KB (Keluarga Berencana), katanya pula, berkilah.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.