Garut Terkunci Pandemi Penyertaan Modal BUMD Mendesak Dievaluasi

0
210 views
Masih Banyak Warga Garut Memanfaatkan Air Sawah.
Masih Banyak Rumah Tak Layak Huni.

“Ada Kredit Macet Rp1,3 M”

Garut News ( Selasa, 15/09 – 2020 ).

Dari totalitas 6.670  warga Kabupaten Garut terpapar predator Covid-19 hingga, Selasa (15/09-2020) Pukul 19:41:00 WIB, terdiri  Konfirmasi 135, Probable 0,  Suspect 2.981, dan Kontak Erat 3.554 Kasus, dan 42 meninggal dunia.

Di tengah Garut terkunci pandemi tersebut, DPD Laskar Indonesia kabupaten setempat mendesak Pemkab dan instansi terkait mengevaluasi bahkan memintai pertanggungjawaban pelaksanaan penyertaan modal kepada lima ‘Badan Usaha Milik Daerah’ (BUMD) di kabupatennya.

Banyak Pula Warga Garut Memanfaatkan Air Sumur yang Terus Menyusut.

Juga mengenai investasi jangka panjang non permanen berupa dana bergulir dikatagorikan sebagai aset lain-lain. Dana bergulir merupakan kredit program penyertaan modal terarah setelah perubahan status hukum kelembagaan.

Apalagi ditengarai terdapat kredit macet sebesar Rp1.302.948.050 terjadi akibat penyisihan dana bergulir tak tertagih.

Kelima BUMD itu masing-masing PD BPR Garut, PT BPR Intan Jabar, PT LKM Garut, Bank BJB, dan PDAM Tirta Intan Garut.

PD BPR Garut.

“Evaluasi pertanggungjawaban pelaksanaan penyertaan modal BUMD ini mesti transparan agar diketahui publik. Sebab anggaran dikucurkan merupakan uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat !” tandas Ketua DPD Laskar Indonesia Kabupaten Garut Dudi Supriyadi, Minggu (13/9/2020).

Dia katakan, evaluasi tertulis secara berkesinambungan terhadap kelima BUMD sangat penting berkaitan pengakuan nilai, dan batas waktu penempatan modal. terutama berkaitan kewenangan serta tanggung jawab pengelola, menganalisis, mengevaluasi, dan mengawasi masalah investasi pemerintah daerah.

PT LKM Garut.

Seperti pengakuan penyertaan modal saham Pemerintah Daerah Garut secara akurat. Sesuai Permendagri RI bernomor 52/2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Pemda, pasal 8 ayat (1) hurup b, pasal 8 ayat ( 2) hurup b dan pasal 16.

Sehingga diharapkan Pemda Garut tak kehilangan kesempatan deviden. Juga, tak terdapat masalah memiliki peningkatan kredit bermasalah, dan kinerja bank kurang baik jika pengawasan dengan telaah atas penyertaan modal hasil kekayaan daerah dipisahkan secara berjenjang efektif, dan efisien.

PT BPR Intan Jabar.

“Penambahan modal perbankan, mesti mendapatkan persetujuan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Sesuai Peraturan OJK Nomor 20/POJK 03/214 tentang Bank Perkreditan Rakyat, antara lain ditegaskan penambahan modal disetor pemegang saham itu harus mendapatkan persetujuan OJK,” tegas Dudi pula.

Khusus penyertaan modal terhadap PDAM Tirta Intan Garut, Dudi mendesak dilakukan pengecekan secara fisik atas aset barang dari hasil penyediaan barang bersumber dari anggaran penyertaan modal tahun 2019, dan 2020.

Seperti pengadaan pompa air, genset, dan lainnya. Hal itu agar terbangun tertib pengelolaan aset, dan tidak terjadi tumpang tindih inventarisasi barang sehingga aset tak hilang serta rentan disalahgunakan.

Kas bjb Berlokasi Seputar Perkantoran Setda (Jl. Patriot), Garut.

“Kita juga memertanyakan keberadaan Tim Penasehat Investasi dibentuk dengan SK Bupati Garut Nomor 582/ Kep .438- Pereko/ 2018 itu. Kita melihat keberadaan tim ini terkesan formalitas yang tugas, fungsi dan kinerjanya tak masih jelas,” ujar Dudi.

Hingga berita ditulis, belum ada tanggapan apapun dari Pemkab Garut maupun pihak lainnya. Termasuk Bagian Perekonomian Setda Garut.

“Rumah Warga Nyaris Rubuh”

Dari Garut juga dilaporkan, Nana (56) warga Kampung Cukang Akar RT.04/06 Desa Keresek Kecamatan Cibatu, dan anggota keluarganya kini hanya bisa pasrah pada nasibnya tinggal di rumah yang setiap saat bisa rubuh menimpanya.

Rumah semi permanen seluas 40 m2 dibangunnya sekitar 35 tahun silam kini berkondisi sangat mengkhawatirkan. Banyak bagian bangunan rusak dan lapuk. Bagian depan rumah beratap genteng itu pun miring, bagian plafonnya bolong-bolong dan turun.

Penghasilannya dari mengandalkan kerja serabutan, tak memungkinkan bagi Nana memerbaiki bangunan rumah ditinggali bersama isteri, anak, dan ibunya itu. Ada delapan anggota keluarga menghuninya.

Jangankan memerbaiki bangunan rumah, merebaknya pandemi Covid-19 pun semakin memersulit pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka saat ini.

“Sejak dibangun 35 tahun lalu, rumah ini memang tak pernah diperbaiki. Dari mana biayanya ? Sedangkan suami saya hanya kerja serabutan,” ungkap isteri Nana, Atin S (56), Ahad (13/09-2020).

Atin menyebutkan, kendati diintaian bahaya, dia bersama suami dan anak-anaknya tetap memilih tinggal di rumah berkondisi memprihatinkan itu. Tiris atau bocor-bocor di kala hujan, dan tiupan angin menusuk tulang  setiap malam menjadi hal biasa dirasakan mereka.

“Di rumah ada delapan orang. Juga, ada ibu saya sedang sakit. Terpaksa kita tetap tinggal di rumah ini. Mau di mana lagi tinggal dan tidur ?” ungkap Atin

Dia berharap ada bantuan pemerintah atau pihak lain peduli kondisi mereka hadapi itu. Mereka pun berharap ada perbaikan bangunan rumah hingga laik ditempati dengan aman, dan nyaman.

*******

Abisyamil, JDH/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here