Garut Memproduk Anyaman Bambu Sejak Masa Hindia Belanda

0
310 views

Oleh : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Senin, 02/03 – 2015 ).

Mengamati Produk Lokal “Samarang Boboko”.
Mengamati Produk Lokal “Samarang Boboko”. (Foto John Doddy Hidayat).

Beragam jenis produk anyaman bambu di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terdapat sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga saat ini.

Produktivitas tersebut, tumbuh dan terus berkembang bersamaan beberapa industri rumahan lainnya, di antaranya permadani, teh kemasan, kecap, serta dodol  yang dipelopori H. Sirad pada 1920-an.

Dengan merk dagang Dodol Kursinah.

Sedangkan industri rumahan milik Kim Song di Groteweg atawa Jalan Ciledug, memproduksi kecap bermerk dagang Cap Potret, Ikan Koki dan Cap Cemara.

Produk anyaman bambu Garut, antara lain selama ini dikenal berasal dari perkampungan dengan sebutan “Samarang Boboko”, di wilayah Kecamatan Samarang.

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Pemasarannya ke Kota Garut berlangsung sejak sekitar 1927, yang dibawa pedagang menaiki kereta api bergerbong kayu dihela lokomotif produk Werkspoor Belanda, serta Schweizerische Lokomotiv-und Maschinenfabrik Swiss.

Bahkan pemasarannya juga kerap berlangsung sepanjang lintasan “Paksengok” atawa  “kareta bermesin uap si gombar” setiap hari melintasi Cibatu – Garut – Cikajang sejauh sekitar 46 km.

Namun lintasan Garut-Cikajang resmi menjadi pupus September 1982, disusul kemudian Cibatu-Garut pun ditutup pada Desember tahun berikutnya.

Kini aneka anyaman bambu Samarang Boboko, lebih banyak dipasarkan dengan menaiki jasa angkutan penumpang umum berupa angkutan kota, serta angkutan perdesaan.

Juga sepeda motor ojek, maupun sepeda motor milik pribadi kalangan pedagangnya. Malahan pada lokasi di pasar-pasar tradisional pun kerap ditemukan produk Samarang Boboko.

Ternyata, produk kreativitas penduduk Garut, tak kalah berkualitas serta berdaya saing, dibandingkan produktivitas industri rumahan asal kabupaten lainnya.

Berlangsung secara turun-temurun, meski kini masih patut terus-menerus dikemas apik dengan ornamen menarik.

Sehingga bisa menembus sekaligus menjamah pangsa pasar bernilai ekonomi tinggi, seperti memenuhi kebutuhan sarana rumah makan serta hotel berbintang, yang antara lain banyak menggunakan tempat nasinya dengan “boboko”.

************
Pelbagai Sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here