Kabupaten Garut Masih Kekurangan Sekitar 2.245 Penyuluh

0
148 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 29/04 – 2016 ).

Farid.
Farid.

Kabupaten Garut, masih kekurangan sekitar 2.245 penyuluh meski terdapat 420 penyuluh swadaya. Namun penyuluh berstatus PNS hanya 78 personil, 221 penyuluh berstatus “Tenaga Harian Lepas” (THL) pusat, dan 103 penyuluh THL provinsi sehingga total seluruhnya 299 penyuluh.

Sedangkan yang diperlukan mencapai 2.544 penyuluh, lantaran dari 424 desa serta kelurahan pada 42 wilayah kecamatan di kabupaten ini, idealnya masing-masing desa dan kelurahan bisa ditangani enam penyuluh pertanian.

Kepala Bidang Pengembangan SDM Penyuluh pada “Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan” (BP4K) kabupaten setempat, Farid, SP, MP katakan pihaknya kini memprioritaskan upaya peningkatan kapasitas sumber daya penyuluh.

Mansyur.
Mansyur.

Agar memadainya kepribadian penyuluh, kepribadian petani, serta memadainya ketersediaan termasuk kondisi sarana-prasarana penunjang penyuluhan, ungkap Farid kepada Garut News di ruang kerjanya, Jum’at (29/04-2016).

Sehingga diperlukan upaya membentuk rasa memiliki “kebanggaan” pada setiap seluruh penyuluh, yang dipastikan bisa memotivasi mereka menjadi guru informal di tengah masyarakat petani.

Kemudian senantiasa meningkatkan intensitas kegiatan dasar kepenyuluhan, supaya mereka bisa membangun komunikasi dengan masyarakat petani, sekaligus secara bertahap juga dapat berkomunikasi melalui perangkat “IT”.

Dimilikinya rasa kebanggaan kudu terdapat pula pada setiap seluruh kalangan petani, sekaligus mereka mau menerima informasi perkembangan teknologi pertanian untuk diterapkan, imbuhnya.

Hamparan Persawahan.
Hamparan Persawahan.

Sedangkan sarana prasarana penunjang penyuluhan, juga dinilai sangat penting sebagai piranti paling mendesak penunjang kegiatan “Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan” (BP3K). Termasuk memadainya pengadaan audio visual, serta jaringan internet pada BP3K.

Selama ini para penyuluh kerap mendapatkan pelatihan praktek juga teori lapangan, sekaligus penilaian capaian kinerja mereka pada tingkat kabupaten, provinsi juga tingkat pusat.

Terdapat pula proses penilaian petani berprestasi beserta kelembagaan ekonominya pada jenjang kabupaten, provinsi hingga tingkat pusat.

Kepala Subbid Pengembangan SDM Aparatur Penyuluh dan Kelembagaan pada BP4K, Mansyur, SP, MP antara lain mengemukakan pada 2017 mendatang diusulkan bisa diperolehnya sarana “Sistem Penyuluhan Keliling” (Sipeling).

Kemudian terwujudnya BP3K sebagai pusat konsultasi serta advokasi agribisnis, serta dimilikinya Pos Penyuluhan Desa, ungkap Mansyur.

Persawahan Seputar Kota Garut.
Persawahan Seputar Kota Garut.

Dalam pada itu, potensi seluruh luas beragam jenis tanaman pangan di kabupaten ini mencapai sekitar 8.352.172 hektare, terdapat 161.382 hektare di antaranya luas padi sawah dan padi gogo.

Kemudian potensi perikanan air tawar 26.339 hektare, mencakup perikanan budidaya dan perikanan tangkap di perairan kolam (kolam air tenang), kolam air deras, mina padi, perairan umum danau/rawa 258 hektare, sungai 1.290,29 kilometer. Potensi budidaya air payau berupa calon areal tambak seluas kurang lebih 22.000 hektare.

Disusul luas kawasan hutan di Kabupatén Garut 2015 mengacu pada KEPMENHUT No.195/KPTS/II/2003 tanggal 4 Juli 2003 yaitu 107.865,10 Ha (35% dari luas Kabupatén Garut). 

Luas hutan tersebut terdiri dari Hutan Lindung 75.572,00 Ha (70,06%), Hutan Suaka Alam dan Wisata 26.727,00 Ha (24,77%), Hutan Produksi Terbatas (HPT) : 5.400,00 Ha(5,02%) dan  Hutan Produksi Tetap 166,00 Ha (0,15%).

Kolam Penduduk Sekaligus Berfungsi MCK.
Kolam Penduduk Sekaligus Berfungsi MCK.

Sedangkan potensi hutan rakyat (di luar kawasan hutan) 40.000 Ha. Hasil updating data berdasar Rencana Induk Pengendalian dan Rehabilitasi Lahan Kritis (RIPRLK) 2006 didapatkan dari citra lansat; Hutan Konservasi 3.732 Ha, HutanLindung 5.252 Ha, Hutan Produksi 4.838 Ha, dan Lahan Kritis di luar kawasan hutan 49.034 Ha.

Adapun sisa lahan kritis pada lahan milik data terakhir berdasarkan RPRl 2011-2015 yakni 32.751,35 Ha. Sehingga dari hasil penanganan lahan kritis sampai dengan Oktober 2014 ; 8.631,01 Ha.

Namun berdasar hasil review lahan kritis 2014 oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk-Citanduy, untuk kritis 29.528,56 Ha dan sangat kritis 3.558,99 Ha, serta agak kritis 86.839,31 Ha.

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here