Garut Hanya Miliki 30 Desa Bebas “BABS”

Garut Hanya Miliki 30 Desa Bebas “BABS”

1070
0
SHARE

Garut News ( Kamis, 07/05 – 2015 ).

Foto: John Doddy Hidayat.
Foto: John Doddy Hidayat.

Hingga kini intensitas kesadaran Penduduk Kabupaten Garut memelihara kesehatan diri dan lingkungan, sehingga tak “Buang Air Besar Sembarangan” atawa “Open Defecation Free” (BABS/ODF) dinilai masih memprihatinkan.

Lantaran dari 442 desa/kelurahan pada 42 wilayah kecamatan di kabupaten ini, hanya 30 desa bisa dinyatakan penduduknya terbebas dari perilaku BABS. Bahkan Kecamatan Garut Kota, juga hanya terdapat satu kelurahan dideklarasikan warganya bebas dari BABS baru-baru ini, yakni Kelurahan Margawati.

“Setelah kita intervensi, sebenarnya ada peningkatan kesadaran warga tak BABS meski masih minim. Pada 2014 lalu, desa masuk bebas BABS itu 14 desa. Tetapi setelah diintervensi, tahun ini ada sekitar 30 desa bebas BABS,” ungkap Kepala Dinkes kabupaten setempat Teni Sewara Rifaai, Kamis (07/05-2015).

Foto : John  Doddy Hidayat.
Sungai Cimanuk (Foto : John Doddy Hidayat).

Malahan, katanya, guna mendukung peningkatan kesadaran masyarakat agar tak BABS, maka 30 desa bakal mendapat bantuan “Instalasi Pengolahan Air Limbah” (IPAL) Komunal.

Desa bebas BABS mendapatkan bantuan pembangunan IPAL Komunal tersebut, sebelumnya daerah rawan air bersih dan rawan diare. Di antaranya di wilayah Kecamatan Malangbong, Kersamanah, Balubur Limbangan, dan Kecamatan Cibatu.

Dia mengaku prihatian masih banyaknya masyarakat Garut berperilaku BABS. Sehingga peluang mendatangkan serangan pelbagai macam penyakit terbuka lebar. Terutama diare.

Dinkes mencatat, sekitar 41% Penduduk Garut masih terbiasa BABS. BABS langsung ke sungai, kebun, pematang atau saluran air di sawah, pinggiran pantai, maupun tempat lain tak memenuhi persyaratan kesehatan.

Foto John Doddy Hidayat.
Foto John Doddy Hidayat.

Kepemilikan atau penyediaan septic tank penampung kotoran pun masih belum merata, katanya pula.

Persoalan limbah biologis domestik rumah tangga pun selama ini menjadi persoalan besar terjadinya pencemaran mutu air Sungai Cimanuk melintasi kawasan Kota Garut.

Dikemukakan hasil pengukuran DLHKP baru-baru ini, pencemaran limbah biologis domestik rumah tangga pada lintasan aliran sungai Cimanuk mencapai 60 persen dari total pencemaran limbah di sungai terbesar Garut ini.

“Mutu air Cimanuk masih masuk katagori kelas dua. Bisa pengairan lahan pertanian, tetapi tak sebagai air baku air bersih bisa dikonsumsi langsung,” kata Kepala DLHKP  Aji Sukarmaji.

**********

Noel, Jdh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY