Garut Dikepung Penularan Insfeksi HIV/AIDS ‘Laki Sex Laki’

0
341 views
Guntur Yana Hidayat.

“Setiap Bulan Bertambah Delapan Kasus Baru HIV/AIDS”

Garut News ( Senin, 27/11 – 2017 ).

Guntur Yana Hidayat.

Penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini semakin dikepung ancaman serius penularan insfeksi HIV/AIDS “Laki Sex Laki” (LSL), bahkan setiap bulan sedikitnya terdapat penambahan delapan kasus baru terinsfeksi jenis penyakit yang mematikan itu, di kabupaten tersebut.

Dari 8.440 penduduk terdiri 2.290 laki-laki, dan 6.150 perempuan di kabupaten setempat yang di tes HIV/AIDS selama rentang waktu Januari hingga Oktober 2017, ada 59 individu di antaranya positif terinsfeksi HIV/AIDS meliputi 48 laki-laki, dan 11 perempuan.

Hj. Yeti Heryati, dan Jajang Hermawan.

Demikian dikemukakan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Garut, Hj. Yeti Heryati, SKM, MKM didampingi Programer HIV/AIDS, Jajang Hermawan di ruang kerjanya, Senin (27/11-2017).

Mereka katakan, dari 59 terinsfeksi positif HIV/AIDS ini. Selain didominasi usia produktif berkisar 25 – 49 tahun, juga didominasi 27 terinfeksi HIV akibat LSL sebagai populasi terbanyak HIV Positif.

Di RSU dr Slamet Garut.

Dari 59 terinsfeksi penyakit tersebut, juga terdapat pula delapan di antaranya positif terinsfeksi AIDS terdiri tiga laki-laki, serta lima perempuan.

Dipastikan mulai terkena insfeksi pada usia berkisar 15 hingga 20 tahun, lantaran masa inkubasi virusnya selama rentang waktu antara tiga hingga 15 tahun, ujarnya.

Dikemukakan, para pelaku LSL meliputi pula individu berperan sebagai laki-laki umumnya berpendidikan menengah ke atas. Sedangkan individu yang berperan perempuan umumnya berpendidikan menengah ke bawah.

Selama Januari hingga Oktober 2017 pun, diselenggarakan tes “Insfeksi Sex Menular” (IMS) terhadap 297 penduduk, terdiri 29 laki-laki, serta 268 perempuan.

“Setiap Bulan Bertambah Delapan Kasus Baru HIV/AIDS”

Ruang Pemeriksaan/Pengobatan.

Sebelumnya temuan baru di kabupaten itu, sejak Januari hingga September 2017 terdapat 43 kasus terinfeksi HIV/AIDS yang  didominasi pula degradasi moral penyimpangan perilaku LSL mendera 26 individu.

Kemudian masing-masing dialami empat waria dan penasun (pengguna jarum suntik narkoba), serta sembilan kasus masyarakat umum, ungkap Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) kabupaten setempat, Guntur Yana Hidayat saat ditemui terpisah, Senin (27/11-2017).

Ilustrasi.

Sehingga selama dua bulan terakhir ada penambahan 16 kasus, atau delapan kasus setiap bulan yakni dari 43 kasus (akhir September 2017) menjadi 59 kasus (Oktober 2017).

Malahan selama rentang waktu tersebut, LSL terisnfeksi HIV positif juga bertambah satu kasus dari 26 kasus menjadi 27 kasus.

Mereka seluruhnya berusia produktif berkisar 20 hingga 45 tahun, terdiri 36 terinfeksi HIV, tujuh AIDS, serta tiga meninggal dunia lantaran terinfeksi AIDS selama rentang waktu Januari hingga September 2017.

Guntur Yana Hidayat pun menyatakan, rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Garut diselenggarakan semarak ragam kegiatan.

Antara lain pada 2 Desember 2017, pada puncak peringatan berlangsung di Gedung R.A Lasminingrat dilaksanakan work shop bersama populasi kunci, dan masyarakat umum dengan nara sumber Wakil Bupati Garut dr H. Helmi Budiman.

Disusul pembagian leaflet, pertunjukan kesenian berupa theaterical HIV/AIDS, serta kegiatan mural dilaksanakan komunitas dukungan sebaya.

Kemudian pada 5 Desember 2017, digelar sosialisasi info HIV/AIDS kepada ratusan murid SMA dan sederajat di Gedung Islamic Center bernara sumber KPA, dan Dinas Kesehatan.

Secara bersamaan pula pada 2 Desember 2017, berlangsung pemeriksaan di posko-posko yang dikemas menangani HIV/AIDS. Secara serentak dilaksanakan pemeriksaan kepada ibu-ibu hamil pada 26 Puskesmas HIV/AIDS di Kabupaten Garut.

Selanjutnya pada 15 Desember 2017, juga diselenggarakan sosialisasi HIV/AIDS serta pemeriksaan gratis kepada 200 an karyawan pabrik sepatu di Leles, oleh Puskesmas Leles dan KPA Garut, ujar Guntur Yana Hidayat.

“Saya Berani, Saya Sehat,” imbuhnya pula, menambahkan.

“Warga Tanyakan Peran Rumah Sakit Pameungpeuk”

Dalam pada itu penduduk Garut Selatan termasuk Umar (45) memertanyakan peran Rumah Sakit Pameungepeuk yang kini dikelola Pemprov Jabar, semestinya menjadi rumah sakit rujukan.

Namun setiap melaksanakan pemeriksaan HIV/AIDS, malahan selama ini meminjam peralatan berupa test peack, dan rapid test ke Puskesmas Pameungpeuk.

Padahal di rumah sakit provinsi tersebut, terdapat sumber daya empat aparat terlatih yang menjadi konselor HIV/AIDS.

Sedangkan di RSU dr Slamet Garut meski masih ada Klinik HIV/AIDS, namun hanya melayani konsultasi dan pemberian obat bagi terinsfeksi HIV/AIDS pada setiap Selasa, Rabu, dan Jum’at setiap pekannya.

*********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.