Garut Bisa Peroleh PAD Tera/Tera Ulang Sedikitnya Rp450 Juta

0
247 views

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 20/11 – 2015 ).

Akhmad Wahyudin Didampingi Abdurohman Melaporkan Perkembangan Harga Bahan Pokok Pada Kepala UPTD, H. Dayat.
Akhmad Wahyudin Didampingi Abdurohman Melaporkan Perkembangan Harga Bahan Pokok Pada Kepala UPTD, H. Dayat.

Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebenarnya bisa peroleh “Pendapatan Asli Daerah” (PAD) sedikitnya Rp450 juta setiap tahun.

Jika pada 2016 mendatang menyelenggarakan sendiri kegiatan Tera dan Tera Ulang Alat ‘Ukur, Takar, Timbangan, dan Perlengkapannya’ (UTTP), yang selama ini dilakukan Tim Pelaksana dari Balai Kemetrologian Tasikmalaya pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar.

Analisis liputan Garut News antara lain menunjukan, dari 15 pasar kabupaten di Garut terdapat sekitar 22.500 pedagang/pedagang kaki lima pasar, mereka pengguna UTTP termasuk ‘timbangan meja’ selama ini dikenal dengan sebutan “kilo entog”.

Kilo Entog.
Kilo Entog.

Kemudian dari 22.500 unit UTTP tersebut, apabila setiap unitnya dikenakan tarif retribusi rata-rata Rp10 ribu pada kegiatan tera dan tera ulang per tahun, maka nilai PAD diperoleh capai Rp450 juta.

PAD sebesar itu, dipastikan belum termasuk kegiatan tera dan tera ulang pada pasar-pasar desa, tera/tera ulang meteran air, alat ukur listrik, serta jenis perangkat UTTP lainnya.

Sedangkan terkait penyelenggaraan  tera dan tera ulang oleh Tim dari Balai Kemetrologian Tasikmalaya pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, di lingkungan UPTD Pasar Ciawitali Guntur saat ini, atawa menjelang tahun anggaran 2015.

Kepala UPTD Pasar pada Disperindag Kabupaten Garut H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha Akhmad Wahyudin, SE menyarankan agar Balai Kemetrologian Tasikmalaya bisa sekaligus membawa sedikitnya sepuluh unit kilo entog.

Kegiatan Tera dan Tera Ulang.
Kegiatan Tera dan Tera Ulang.

Supaya bisa dipinjamkan sementara pada para pedagang pasar, supaya timbangan meja milik mereka bisa leluasa dilakukan tera dan tera ulang, ungkapnya kepada Garut News, Jum’at (20/11-2015).

Lantaran dari 1.700 kios dan sekitar 600 pedagang kaki lima Pasar Guntur, sebagian besar atawa 90 persen di antaranya menggunakan jenis timbangan meja.

Sehingga ketika hendak dilakukan tera dan tera ulang, banyak diantaranya keberatan sebab sedang digunakan menimbang komoditi dipasarkannya.

Karena itu, jika mendapat pinjaman timbangan meja sekurangnya sepuluh unit dari Balai Kemetrologian Tasikmalaya, maka dipastikan jenis timbangan serupa milik pedagang bisa dilakukan tera dan tera ulang.

Juga selanjutnya bisa dilakukan secara bergilir dipinjamkan pada para pedagang lainnya. Jajaran UPTD bersama Iwapa Ciawitali Guntur pun bisa membantu sepenuhnya kegiatan bergilir melakukan tera pada timbangan milik para pedagang, imbuh H. Dayat serta Akhmad Wahyudin.

Ketua Regu Tim Balai Kemetrologian Tasikmalaya kepada Garut News katakan, pihaknya selama ini tak mendapatkan alokasi anggaran pembelian timbangan meja untuk dipinjamkan pada para pedagang, katanya.

Hingga Jum’at siang terdapat 130 ragam jenis UTTP yang tuntas dilakukan tera dan tera ulang, dari sekitar 200 pedagang yang telah mendapatkan karcis giliran tera dan tera ulang UTTP.

Dalam pada itu, Tim Balai Kemetrologian Tasikmalaya pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, selama beberapa pekan mendatang menjadwal kegiatan serupa pada sejumlah titik lokasi termasuk di wilayah kecamatan lain Kabupaten Garut, katanya.

“Harga Buncis Melambung”

Kepala UPTD Pasar pada Disperindag Kabupaten Garut H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha Akhmad Wahyudin, SE mengemukakan pula, harga buncis di Pasar Ciawitali Guntur saat ini mencapai Rp14 ribu per kilogram.

Padahal sebelumnya bisa diperoleh dengan harga berkisar Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per kilogram, kenaikan harga juga dialami pada komoditi kol dari semula Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram kini harganya menjadi Rp8 ribu per kilogram.

Disusul wortol dari semula Rp5 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram, kemudian tomat dari semula Rp3.000 menjadi Rp6.000 per kilogram.

Kemudian harga telur kini bertengger pada Rp18.500 per kilogram, katanya.

Mereka katakan terdapatnya pasokan jenis beras import masih belum memengaruhi harga produk beras lokal, menyusul beras IR. 64 kelas satu bisa diperoleh dengan harga Rp10 ribu per kilogram,

Beras IR.64 kualitas dua Rp9.000 per kilogram, jenis beras setra Rp11.500 per kilogram, dan jenis beras pandan wangi Rp11.500 per kilogram.

Sedangkan harga ragam cabe-cabean hingga kini masih relatif normal, bebernya.

******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here