Garut Bisa Kian Terancam Dikepung “Samudera” LGBT

0
420 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 14/02 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Diam tetapi menghanyutkan, itulah perilaku “lesbian, gay, biseksual, dan transgender” atawa LGBT, bisa menjadi ancaman serius kian mengepung masyarakat Kabupaten Garut selama ini dikenal agamis.

Lantaran eksistensi LGBT di kabupaten itu, terindikasi kuat sangat mengkhawatirkan. Apabila tak secepatnya disikapi, tak mustahil ke depan, kabupaten tersebut acap dijuluki kota santri bahkan gudangnya ulama, berpopulasi penduduk sekitar tiga juta jiwa ini, berubah menjadi “samudera” LGBT.

Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) kabupaten setempat Guntur Yana Hidayat katakan, berdasar estimasi Kemenkes RI pada 2012, jumlah komunitas gay di Garut mencapai sekitar 12.000, dan waria sekitar 135.

Tingkatkanlah…. Kualitas Perilaku Hidup Sehat….!
Tingkatkanlah…. Kualitas Perilaku Hidup Sehat….!

Sedangkan hasil pemetaan KPA pada 2015 diketahui terdapat hotspot atau tempat nongkrong komunitas gay mencapai 109 hotspot, berpopulasi terdata sekitar 3.200.

“Dari komunitas gay, dan waria itu, tercatat ada 25 gay, dan 11 waria positif tertular HIV,” ungkap Guntur, Ahad (14/02-2016).

Mengenai keberadaan komunitas lesbi, dan hotspot di kabupatennya, masih belum diketahui. Lantaran sejauh ini KPA tak melakukan intervensi pada komunitas lesbi sebab belum ditemukan risiko penularan HIV/AIDS pada komunitas itu.

Dikemukakan, prihatin merebak-maraknya perilaku LGBT di kabupaten ini, nyaris luput dari perhatian beragam kalangan. Apalagi kabupaten itu selama ini disebut-sebut merupakan kota santri dan gudangnya ulama dengan penduduknya dinilai agamis.

Dikatakan, penyebab timbulnya perilaku LGBT pada individu atau masyarakat juga beragam. Antara lain menyangkut pola hidup, pergaulan, kondisi ekonomi, akibat korban kekerasan semasa kecil, dan hormon bawaan sejak lahir. Diperparah terutama didorong ada skenario internasional mendukung eksisnya LGBT seperti melalui pengenalan cara berpacaran, rekruitmen pekerja, dan investasi.

Sehingga, LGBT tak hanya dapat mengancam kehidupan pribadi dan sosial melainkan juga kehidupan bernegara dan berbangsa. LGBT bukan sekadar isu lokal melainkan internasional dengan ragam kepentingan. Masalah LGBT tak bisa ditangani satu pihak melainkan menjadi tugas semua orang dengan pemerintah.

“Permasalahan LGBT tak bisa hanya ditanggulangi KPA, tetapi membutuhkan banyak mitra menyosialisasikannya. Dengan pelbagai fasilitas serba canggih seperti jaman sekarang, jika LGBT dibiarkan maka suatu saat, Garut menjadi lautan LGBT,” imbuhnya.

********

(nz, jdh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here