Garis Nasib

by

– Idrus F. Shahab, idrus@tempo.co.id

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 07/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Pak Tua Ini Masih Menjadi Buruh Tani, Meski Kabupaten Garut, Jabar, Kini Memiliki Bupati ke-25. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Pak Tua Ini Masih Menjadi Buruh Tani, Meski Kabupaten Garut, Jabar, Kini Memiliki Bupati ke-25. (Foto: John Doddy Hidayat).
Seolah-olah menepati janjinya tahun lalu, banjir kembali menggenangi Ibu Kota.

Di rumahnya, Wak Lihun terduduk di bangku panjang, menyaksikan benda-benda asing itu-sandal jepit tipis, botol susu bayi, sepasang kaus kaki hitam, dompet laki-laki, serta cakram padat Lady Gaga dan H Rhoma Irama-berenang di air tak harum itu.

Beberapa jam yang lalu, benda-benda itu mungkin milik seorang janda beranak banyak di Bogor sana, atau seorang pensiunan pegawai negeri yang tinggal di perumahan bank yang masih satu kelurahan dengan rumahnya.

Setiap benda mewakili satu keluarga, dan masing-masing keluarga menyimpan potongan biografi, cerita manusia, yang selalu menarik.

Namun Wak Lihun tak peduli.

Dengan matanya yang lelah, kini ia menatap pantulan wajahnya yang kusut pada genangan air cokelat dan kotor itu.

Seperti ada yang menggiring, perlahan pandangan matanya bergerak ke sebuah sudut di mana sebuah album foto keluarga tampak timbul-tenggelam di air berlumpur itu.

Ia melupakan rasa letihnya, dan sejurus kemudian album itu pun sudah berada di tangannya.

Wak Lihun terpesona menatap foto dirinya pada 1955: seorang anak berumur 6 tahun yang bangga akan seragam dokter kecil dengan stetoskop mini di lehernya.

Seumur-umur ia akhirnya tidak pernah menyandang gelar dokter, tapi ia cepat menyimpulkan: seperti para tetanggaku yang bermimpi jadi tentara, cita-cita cukup menjadi hiasan dalam hidup, tak perlu menjadi kenyataan.

Wak Lihun menyebutnya garis hidup, tapi orang lain mengatakan faktor ekonomilah yang menggagalkannya merengkuh cita-cita.

Menahan berat album, tangan Wak Lihun yang keriput itu bergetar keras, tapi ia tak hendak berhenti.

Album foto itu seperti sebuah harapan bahwa satu momen akan diikuti momen lain, satu babak diikuti babak lain, seperti rangkaian gerbong kereta kehidupan yang tidak berhenti di satu titik-kecuali jika kematian muncul, membubuhkan tanda titik terakhir.

Album juga menyimpan semacam peringatan bahwa kejadian-kejadian yang tragis, menyedihkan, dan traumatik itu telah berlalu dan tak akan muncul kembali.

Album memang tak sama dengan film dokumentasi.

Sebuah album akan lebih menenangkan ketimbang mengguncang.

Mungkin inilah keajaiban sang waktu.

Sejak 1955, sudah sepuluh pemilihan umum dilalui Wak Lihun, dari pemerintahan Bung Karno yang senantiasa gegap-gempita, Soeharto yang selalu membenci demokrasi yang “berisik”, kemudian berturut-turut Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga yang terakhir, Susilo Bambang Yudhoyono, Wak Lihun menjalani hidupnya yang tak kunjung berubah.

Mungkin perubahan yang dialaminya cuma satu: dulu bapak dan engkong menarik oplet milik seorang pria keturunan, kini ia menarik mikrolet milik seorang lelaki pribumi.

Wak Lihun punya banyak alasan untuk tak menyumpahi hidup ini.

Ia memang tak pernah jadi dokter, tapi ia cukup bangga pernah bekerja sebagai sopir pribadi seorang dokter umum yang membuka praktek di dekat rumahnya.

Dan ia tidak pernah lupa, untuk sementara waktu bisa menikmati ongkos pengobatan dan obat gratis dari sang dokter.

Wak Lihun tidak percaya pemilihan umum akan mengubah garis nasibnya.

Namun ia jarang mengatakan kepada orang lain bahwa ia selalu berdoa agar nasib anak-anaknya lebih baik daripada nasibnya.

******
Kolom/artikel Tempo.co