Galau

Putu Setia
@mpujayaprema

Garut News ( Ahad, 18/05 – 2014 ).

Ilustrasi, Eloknya Keserasian Kedua Penari Ini. (Repro Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Eloknya Keserasian Kedua Penari Ini. (Repro Foto : John Doddy Hidayat).

Hidangan makan malam di rumah Romo Imam sangat beragam.

Istrinya jago masak.

Sebelum mengambil piring, kami biasa bergurau.

“Bu, saya lagi tak ada nafsu makan,” kata saya.

“Sariawan?” Saya menggeleng: “Bukan, tak enak makan sebelum Jokowi mengumumkan calon wakil presidennya.”

Bu Imam tertawa.

“Sama,” sahutnya.

“Kemarin ibu hampir luka ketika memotong cabe. Pikiran menerawang, kok Demokrat begitu lambat bergerak. Mau merapat ke capres yang sudah ada atau membuat poros baru? Pemenang konvensi pun diumumkan dengan setengah hati.”

Saya menunggu reaksi Romo Imam.

Tapi Romo seperti tuli.

Saya pun menggoda Bu Imam lagi.

“Ibu tak memikirkan Golkar dengan capresnya ARB?”

Lagi-lagi Bu Imam tertawa: “Golkar tak laku. Pemenang kedua kok miskin figur. Sekarang pasrah bongkokan mau merapat ke Megawati. ARB lagi galau, tapi SBY lebih galau lagi.”

“Apa kabar Hatta Rajasa?” tiba-tiba Romo Imam buka suara.

Saya menyahut: “Sudah pamit mundur sebagai menteri. Hatta Rajasa sudah dinyatakan sebagai cawapres Prabowo. Tapi, ketika PPP dan PKS mempersoalkan, pimpinan Gerindra segera berdalih deklarasi belum resmi. Lalu, PPP mengajukan cawapres ketua umumnya.”

Romo mengambil piring, lalu berkata: “Hatta Rajasa patuh pada aturan. PP 18 Tahun 2013 menyebutkan menteri dan pejabat setingkat menteri harus mundur paling lambat seminggu sebelum didaftarkan resmi sebagai capres atau cawapres. Jika Hatta Rajasa dibatalkan sebagai cawapres, itu namanya sudah jatuh tertimpa tangga.”

“Katanya koalisi tanpa syarat. Terserah yang dipilih oleh Jokowi maupun Prabowo,” saya menggugat.

Ini komentar Romo: “Masih percaya omongan begitu?

Tak ada dukungan yang gratis.

Kalau betul tanpa syarat, kenapa Hatta Rajasa dipersoalkan?

Kenapa tiba-tiba ada tokoh PKB yang mengusulkan agar Jokowi memilih Muhaimin sebagai cawapres?

Kenapa pimpinan NU bilang NU hanya mendukung Jokowi jika wakilnya Mahfud Md. atau Jusuf Kalla?

Ibarat promosi berhadiah, syarat dan ketentuan berlaku.”

Bu Imam mengambil piring sambil nyerocos: “Saya sih tetap penasaran sama Demokrat. Dahlan Iskan diumumkan sebagai pemenang, terus dapat apa?”

Romo langsung menyambar: “Dahlan sudah masuk kotak. Dia menteri seperti Hatta Rajasa. Kalau mau jadi capres atau cawapres, harus mundur paling lambat seminggu sebelum didaftarkan resmi, begitu bunyi PP 18/2013. Pendaftaran terakhir 20 Mei, ya, tak keburu. Entah kenapa pengumuman konvensi sengaja mepet, mungkin tahu kalau Dahlan yang belakangan tak dikehendaki, bisa menang. Tapi alasan SBY masuk akal, Demokrat tak bisa mengusung capres, mau koalisi dengan siapa?”

“Golkar yang malam ini Rapimnas,” kata saya, memotong.

Romo tertawa.

“Golkar ini partai yang selalu ingin berkuasa atau gabung dengan kekuasaan. Kalau dia lihat kemungkinan menang tak ada, dia pilih merapat ke koalisi yang diyakini menang. Lagi pula, koalisi Golkar dan Demokrat mau mengusung siapa?

Figur yang populer sudah dikunci oleh Jokowi sebagai kandidat cawapres. Mahfud Md., Jusuf Kalla, Abraham Samad pasti lebih baik menunggu takdir ketimbang tertarik pada tawaran Demokrat. Dan Megawati pinter, gembok kunci baru dibuka beberapa menit sebelum didaftarkan.”

“Siapa tahu, demi harga diri, ARB tetap maju dan Demokrat ambil salah satu peserta konvensi untuk cawapres. Karena Dahlan Iskan masuk kotak, ya, Pramono Edhie, ipar SBY. Kedua partai Rapimnas hari ini, kita tunggu saja,” kata saya.

Romo Imam nyeletuk: “Kalau begitu, namanya koalisi galau. ARB-Pramono hanya membuat pemilu presiden jadi boros.”

 *******

Tempo.co

Related posts

Leave a Comment