Foto Akhir Pekan Ini, Repotnya Menjadi Pemimpin

Garut News ( Senin, 19/05 – 2014 ).

Memimpin Itik, Tak Seberat Memimpin Manusia.
Memimpin Itik, Tak Seberat Memimpin Manusia.

Repotnya menjadi pemimpin, ternyata tak seindah impian, juga tak semudah membalik telapak tangan.

Apalagi jika hanya memiliki pribadi ingin menyenangkan, dan menyelamatkan diri sendiri beserta keluarganya.

Tipikal pemimpin demikian itu, menjilat ke atas tetapi menekan ke bawah.

 

repot2Bahkan dengan beragam cara bisa menyenangkan atasan pemimpin itu sendiri, tak peduli anak buah “barangkeakan” atawa amburadul.

Memimpin manusia, juga tak semudah memimpin barisan itik.

Lantaran satwa itik tersebut, didominasi naluri, bukan motorik otak.

Sedangkan memimpin manusia, setiap individu memiliki sumber daya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Membersihkan Diri Tak Semudah Bersihkan Gabah.
Membersihkan Diri Tak Semudah Bersihkan Gabah.

Beban berat menjadi pemimpin, tak semudah pula memikul beban barang.

Sebab barang ini, tak bernyawa apapun jenisnya, juga barang bisa sangat mudah dipindah-pindahkan, beda dengan manusia.

Lantaran manusia selain memiliki otak, juga hati nurani.

Pemimpin juga berkewajiban mendidik, serta mencerdaskan anak buah, tak pilih kasih, dan tak membeda-bedakan atawa diskriminatif maupun rasialis, mana yang pintar menjilat, dan mana pula anak buah berpikiran waras serta obyektif.

Beratnya Beban Barang, Lebih Berat beban Tanggungjawab.
Beratnya Beban Barang, Lebih Berat beban Tanggungjawab.
Pemimpin Tak Serta Merta Mudah Melepas Tanggungjawab.
Pemimpin Tak Serta Merta Mudah Melepas Tanggungjawab.

Pemimpin juga kudu mawas diri, tak terbuai jilatan anak buah, sebab para penjilat itu sejak jaman pra sejarah ada di dunia.

Repotnya menjadi pemimpin, sebab tak bisa mengatasi masalah dengan mengobok-obok atawa mengadu domba antar anak buah.

Melainkan harus menjadi sosok, yang bisa layak digugu dan ditiru.

Anak buah amburadul dan membangkang, juga lantaran kebodohan pemimpin dalam memimpin.

Pemimpin pengadu domba anak buah, atawa hanya bisa mewujudkan konflik horizontal, barangkali lebih layak memimpin iblis, dan syetan.

Lantaran jenis pemimpin ini, jelas tak memiliki keterampilan manajemen, dan tak memiliki tanggungjawab.

Terpikirkannya, uang, uang atawa duit bisa diraih sebanyak mungkin, juga hanya melanggengkan kekuasaan.

Inilah pemaknaan foto berita pekan ini, kemurtadan perilaku pemimpin, ternyata banyak lebih percaya pada “dukun” daripada Kepada Allah SWT.

*******

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.

Related posts

Leave a Comment