FK Metra Hadapi Tantangan Atraksi Seni Modern

0
45 views

Oleh : Dea Rahadian Hidayati/ John Doddy Hidayat.

Garut News ( Selasa, 27/04 – 2015 ).

Kepala Diskominfo Kab. Garut, Dik Dik Hendrajaya, M.Si (Foto : John Doddy Hidayat).
Kepala Diskominfo Kab. Garut, Dik Dik Hendrajaya, M.Si (Foto : John Doddy Hidayat).

“Forum Komunikasi Media Tradisional” (FK Metra) yang gencar disosialisasikan jajaran “Dinas Komunikasi dan Informatika” (Diskominfo) Kabupaten Garut.

Bahkan hingga kini kelompok informasi masyarakat itu, berhasil dibentuk pada 13 wilayah kecamatan di kabupaten tersebut, namun dipastikan dihadapkan pada tantangan dari beragam atraksi menarik seni modern.

Budi Dermawan, SE, M.Si (Foto: John Doddy Hidayat).
Budi Dermawan, SE, M.Si (Foto: John Doddy Hidayat).

Lantaran sejak bergulirnya era informasi pada 1971 hingga sekarang, antara lain ditandai terdapatnya e-mail (1971), ponsel cerdas (1993), kloning mamalia (1996), serta voyager 1 (2013), kian tak terbendung merebak-maraknya ragam perkembangan piranti informatika, termasuk perangkat atraksi seni modern.

Sehingga media informasi dan informatika juga tak lagi terhalang sekat dimensi ruang dan waktu, dengan dampak positip, dan negatifnya.

Presentasi di Banjarwangi. (Foto : Dea RH).
Materi Presentasi di Banjarwangi. (Foto : Dea RH).

Ibarat Narkoba termasuk psikotrofika, jika “disalahgunakan” sangat berbahaya malahan menjadi kejahatan luar biasa.

Tetapi memberi banyak manfaat, apabila beragam media komunikasi modern ini digunakan dengan baik dan benar, dipastikan bisa mewujudkan kemaslahatan.

Seperti menginformasikan terjadinya peristiwa membahayakan, kini nyaris tak lagi dengan cara memukul kentongan.

Melainkan bisa dengan mengirim pesan singkat atawa SMS, tak lagi tersekat dimensi ruang dan waktu, termasuk sekalipun dikirimkan pada petinggi negara pada tengah malam pun.

Foto : Dea RH.
Presentasi Budi Dermawan. (Foto : Dea RH).

Sedangkan atraksi seni modern, antara lain hiburan karaoke termasuk atraksi penyanyi dangdut bisa terselenggara meski hanya diiringi seorang pemain elektone.

Kondisi tersebut, juga ditunjang ragam hiburan modern ditampilkan stasiun televisi, bisa langsung nyaman dinikmati penduduk perkampungan terpencil sekalipun, kendati kudu ditunjang perangkat antene parabola, yang kerap pengadaannya dilakukan “rereongan” atawa gotong royong.

Presentasi Suryana, M.Mpd (Foto: Fea RH).
Presentasi Suryana, M.Mpd (Foto: Dea RH).

Dalam pada itu, media atraksi seni tradisional antara lain berupa wayang golek, reog, calung, angklung juga kacapi suling, selama ini semakin banyak ditinggalkan penduduk pedesaan.

Terbukti jika menyelenggarakan pesta maupun hajatan, mereka lebih banyak menggelar hiburan dangdut dengan atraksi “nyawer” juga acap sambil “teler”, daripada menampilkan atraksi seni kendang pencak.

Lantunan merdu nan syahdu dari atraksi seni kacapi suling, juga kini kian langka terdengar gaungnya pada pesta-pesta pernikahan di perkampungan.

“Tantangan Bisa Dijadikan Peluang”

FK Metra di Banjarwangi. (Foto: Dea RH).
FK Metra di Banjarwangi. (Foto: Dea RH).

Fenomena sarat tantangan, mengembangkan efektivitas media tradisional sebagai perangkat komunikator dalam menyampaikan “informasi” (masage) pembangunan kepada “audience” atawa komunikan.

Dipastikan pula tak semudah membalik telapak tangan, meski beragam tantangan itupun bisa dijadikan peluang.

Di antaranya dengan mengemas tampilan media tradisional ini, semenarik mungkin disesuaikan dengan perkembangan jaman.

Kemudian sama sekali tak menggurui, melainkan beragam informasi penting tersebut diracik dengan penyampaian sarat humuris yang sehat, bernuansakan edukatif.

Membangun Komunikasi. (Foto: Dea RH).
Membangun Komunikasi. (Foto: Dea RH).

Selanjutnya menampilkan atraksi seni sesuai dengan kearifan lokal penduduk setempat, sebab dipastikan komunitas Kampung Pulo Cangkuang bakal “telak menolak” atraksi seni tradisional menggunakan perangkat “gong”.

Lantaran berdasar ceritera rakyat setempat, hingga kini tabu menggunakan gong.

Demikian pula menampilkan atraksi seni tradisional pada lingkungan masyarakat pesantren, nampaknya lebih ideal menggelar qasidah dan nashid, daripada reog.

Serta berupaya maksimal meyakinkan masyarakat, melalui motivasi dan edukasi bahwa selama ini banyak produk media tradisional bisa digemari masyarakat dunia maupun mancanegara.

Seperti halnya Angklung Mang Udjo, atawa Wayang Golek dengan Ki Dalang yang piawai mengemas ceriteranya.

Kacapi Suling. (Foto: John Doddy Hidayat).
Kacapi Suling. (Foto: John Doddy Hidayat).

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik pada Diskominfo Kabupaten Garut, Budi Dermawan, SE, M.Si katakan 13 kelompok FK Metra selama ini mendapatkan sosialisasi dan pembentukannya itu.

Masing-masing di wilayah Kecamatan Pemeungpeuk, Cikelet, Cisompet, Mekarmukti, Bungbulang, Talegong, Cisewu, Cibalong dan Kecamatan Caringin.

Sedikitnya masing-masing kelompok beranggotakan lima peserta, dibentuk sejak Rabu (23/04-2015) lalu.

Sedangkan empat kelompok FK Metra lainnya, terdiri di wilayah Kecamatan Banjarwangi, Peundeuy, Cihurip, dan Kecamatan Singajaya. Dibentuk pada Selasa (28/04-2015), di Banjarwangi.

Media Tradisonal. (Foto : John Doddy Hidayat).
Media Tradisonal. (Foto : John Doddy Hidayat).

Diagendakan sosialisasi juga pembentukan FK Mitra di wilayah Utara dan Tengah Kabupaten Garut pada rentang waktu triwulan kedua 2015 ini, katanya.

Budi Dermawan juga antara lain detail mempresentasikan peran dan fungsi Diskominfo kabupaten setempat.

Sedangkan Kepala Seksi Pengolahan dan Penyediaan Informasi, Suryana, M.Mpd  di antaranya rinci menjelaskan mengenai esensi media tradisional, termasuk efektivitas FK Metra.

Berlangsung pula diskusi maupun dialog interaktif pada rangkaian helatan itu.

*********