Figur Bertopi

0
104 views

Purnawan Andra, Staf Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemdikbud

Garut News ( Senin, 09/03 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Lydia Kieven, arkeolog Jerman kelahiran 1956, adalah salah seorang pembelajar relief candi selama lebih dari 20 tahun.

Dosen studi Asia Tenggara di Universitas Frankfurt dan Universitas Bonn ini meraih gelar akademiknya setelah meneliti Arjunawiwaha di relief-relief candi Jawa Timur.

Disertasinya di University of Sidney dibukukan dengan judul Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-candi Periode Jawa Timur Abad Ke-14 dan Ke-15 (2014).

Ia meneliti sekitar 20 situs di Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk menemukan sebuah bentuk khas berupa “figur bertopi” yang selalu ada dalam relief candi-candi zaman Majapahit.

Figur ini muncul dalam berbagai peran dan konteks cerita yang mengartikan kedudukannya yang penting di logika masyarakat pada waktu itu.

Pemilihan, penataan, dan penempatannya dalam tata ruang candi membentuk pesan tertentu di dalam fungsi candi, baik sebagai bangunan religius, praktek keagamaan, maupun fungsi politik pada masa tertentu.

Penempatan figur bertopi yang berada di bagian luar atau bawah candi, misalnya, merepresentasikan sosok abdi dan rakyat jelata.

Lokasi ini menjadi simbol batas antara wilayah profan dan sakral. Semakin ke dalam ataupun atas, figur bertopi semakin jarang, bahkan tak ada lagi.

Figur bertopilah yang mempersiapkan atau memandu para peziarah menapaki jalan spiritual untuk mencapai penyatuan dengan Hakikat Tertinggi, sebagaimana menyatunya Siwa dan Sakti dalam doktrin Tantra yang dominan pada masa itu.

Ia melampaui makna simbolis imanennya.

Di sisi lain, figur bertopi tidak hanya memberi tahu kita tentang antropologi busana (tutup kepala) pada zamannya.

Ia merupakan contoh yang menonjol dari kreativitas periode Majapahit yang lepas dari pengaruh India.

Dalam perkembangannya, penutup kepala dalam berbagai bentuknya menyimbolkan suatu status sosial. Peci lazim disimbolkan dalam budaya Islam dan juga penanda nasionalisme.

Begitu juga blangkon dalam budaya Jawa.

Bahkan topi besi dalam kemiliteran adalah simbol, lambang, dan petunjuk diri yang sangat menentukan. Seorang penegak hukum, seperti jaksa dan polisi, disegani orang karena seragam lengkap dengan topinya.

Topi menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaannya.

Tapi berbeda dengan arti dan makna penting figur bertopi yang diidentifikasi sebagai Panji yang merepresentasikan kualitas nilai sosial budaya dan politik Majapahit pada masanya, figur bertopi bernama kejaksaan dan kepolisian di negara kita saat ini, justru seperti tengah berada di titik nadir.

Dari kisruh “cicak versus buaya jilid III”, kriminalisasi KPK, hingga efek hakim Sarpin dalam proses praperadilan, figur bertopi di negara ini justru tengah memperoleh stigma negatif dari masyarakat.

Seturut logika Faruk Muhammad (2012), masyarakat jelas membutuhkan para “figur bertopi” (dalam hal ini polisi, hakim, dan jaksa penegak kebenaran) yang mampu berperan sebagai pengawal nilai-nilai yang dijamin sebagai hukum positif negara (the guardian of civilian values).

Karena itu, patut kita tunggu kerja nyata para figur bertopi negara ini untuk menjadikan kualitas hidup yang lebih aman dan terjamin dalam perlindungan hukum dan kehidupan sosialnya. *

**********

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here