Fenomena Memilukan Kerap Dialami Petugas Damkar Garut

0
10 views
Wawan Sobarwan.
Padamkan Kobaran Api.

“Masih Langka Diketahui”

Garut News ( Rabu, 11/09 – 2019 ).

Ternyata sisi lain dari ragam aktivitas petugas ‘pemadam kebakaran’ (Damkar) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga kini masih langka diketahui banyak orang.

Di antaranya, selain kerap dituding ‘tukang’ telat datang ke lokasi kebakaran, juga mereka sering disangka hendak meminta bayaran ketika mengajukan pengisian Berita Acara peristiwa kebakaran kepada korban terdampak maupun pihak terkait lainnya.

Padahal petugas damkar berisiko tinggi terganggu kesehatan bahkan terancam keselamatan jiwanya setiap menjalankan tugas.

Sejak kecermatan menerima informasi; keberangkatan dari markas ke lokasi berkecepatan kendaraan agar bisa merespon secepat mungkin dengan kondisi akses jalan tak selalu mudah; hingga dikira meminta bayaran saat pendataan.

Mereka pun tak hanya menangani kebakaran tanpa mengenal waktu, melainkan peristiwa nonkebakaran. Antara lain mengamankan rumah warga dari sarang tawon, menangkap ular masuk rumah.

Maupun satwa berbahaya lain yang berkeliaran di lingkungan penduduk, hingga membantu penanganan kasus kekeringan dengan memasok air minum pada warga mengalami krisis air minum.

Kepala Bidang Operasi dan Penyelamatan Disdamkar kabupaten setempat Wawan Sobarwan katakan, di antaranya yang acap menjadi kendala penanganan kejadian kebakaran berupa kultur masyarakat belum memahami prosedur pelaporan maupun tugas, fungsi, proporsi, dan profesionalisme petugas damkar.

“Sering, begitu tiba di lokasi kendaraan diserbu warga, selang air langsung dipasang hendak disemburkan. Memang maksudnya membantu, tetapi kebanyakan mereka enggak paham teknis maupun cara pemadaman api kebakaran yang benar itu bagaimana. Kita apresiasi sikap mereka meski justeru maksud membantu malahan  mengganggu,” ungkap Wawan didampingi Kepala Seksi Operasi Pengendalian Kebakaran Dian Sugianto, Selasa (10/09-2019).

Ketika mencari sumber air pemadaman api, warga pun bukannya berjaga di lokasi sumber air melainkan ikut-ikutan sibuk menjadi petugas damkar dadakan.

Petugas yang sering dituding ‘tukang’ terlambat datang ke lokasi. Pernah pula disuruh warga balik lagi ke markas di Jalan Merdeka Tarogong Kidul. Kendati keterlambatan kedatangan petugas justeru lantaran lambatnya laporan warga.

“Padahal warga sendiri telat melapor. Kita datang ke sana jam empat karena laporannya memang jam segitu. Hanya butuh 15 menit dari markas ke sana. Sedangkan kejadian jam dua. Jelas telat. Namun kita tetap di sana mengerjakan apa pun bisa dilakukan,” ujarnya.

Karena itu, Wawan mengingatkan masyarakat agar segera melapor ke Disdamkar jika mendapati kejadian kebakaran supaya bisa secepatnya direspon petugas.

Apalagi kini, Disdamkar Garut terus memerbaharui cara merespon laporan kebakaran warga dengan menerapkan respon time 15 menit. Paling lama 15 menit petugas berada di lokasi sejak menerima laporan.

Ironisnya pula, petugas acap dikira hendak meminta bayaran dari korban terdampak, atau pihak lain terkait, usai menangani kebakaran. Padahal hanya meminta mereka mengisi data disertai tandatangaan pada Berita Acara sebagai bukti kebakaran ditangani, sesuai standar operasional prosedur.

“Beberapa kali hendak buat Berita Acara, eh pemiliknya malahan menghilang. Seperti kebakaran lahan di penyulingan usar Bayongbong kemarin. Sampai kita pulang, enggak ada satu pun pihak pemilik atau pegawainya bisa ditemui. Mungkin melihat map, disangka harus bayar. Kita dengar juga ada bisik-bisik harus bayar berapa. Padahal kita gratis, kok ?” imbuh Wawan.

*******

(Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here