Fatmawati dan Joko Widodo

0
117 views

– Bandung Mawardi, ESAIS

Jakarta, Garut News ( Kamis, 16/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Sangat Menyedihkan Kondisi Bendera Pada Pos "Rumah Susun Sewa" di Garut, Jabar. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sangat Menyedihkan Kondisi Bendera Pada Pos “Rumah Susun Sewa” di Garut, Jabar. (Foto : John Doddy Hidayat).

Oktober memuat sejarah tentara dan pemuda. Kita membuat peringatan setiap tahun dengan upacara, seminar, dan pentas seni. Siapa ingat Fatmawati (1923-1980) setiap Oktober?

Ia perempuan cantik, istri Sukarno saat bergairah menggerakkan ide dan imajinasi Indonesia. Fatmawati adalah kontributor penting dalam arus sejarah Indonesia.

Dia menunaikan amal bersejarah: menjahit bendera Merah Putih.

Kapan? Di majalah Intisari edisi 7 Agustus 1970, Fatmawati memberi keterangan: “Pokoknja kira-kira medio Oktober 1944. Seingat Ibu, bendera itu Ibu selesaikan sedikit demi sedikit, lebih-kurang 2 hari lamanja.”

Keputusan menjahit bendera dipengaruhi oleh janji Jepang untuk kemerdekaan Indonesia. Fatmawati sigap menanggapi situasi zaman.

Di rumah, beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Fatmawati “menjahit” imajinasi Indonesia.

Proses menjahit bendera itu dilakukan saat Fatmawati sedang dalam keadaan hamil tua.

Bendera sudah selesai dijahit dan disimpan dengan doa agar Indonesia segera merdeka. Penantian Fatmawati tak terlalu lama.

Bendera itu dikibarkan dalam upacara khidmat di depan rumah pada 17 Agustus 1945. Sukarno terus mengenang bendera dan Fatmawati: “Isteriku telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan sepotong kain merah. Ia mendjahitnja dengan tangan” (Adams, 1966).

Kita mengimajinasikan Fatmawati berwajah sumringah dan terharu melihat bendera Merah Putih itu berkibar, mengartikan Indonesia merdeka.

Bendera menjadi simbol politis demi kemerdekaan. Sehari setelah pembacaan teks proklamasi, bendera Merah Putih diresmikan sebagai lambang negara, dimuat dalam UUD 1945.

Tahun demi tahun berlalu, bendera hasil jahitan Fatmawati dihormati sebagai bendera pusaka.

Peristiwa menjahit bendera Merah Putih jarang menjadi materi pembelajaran sejarah atau memori kolektif.

Fatmawati mungkin terlupakan. Kini, kita ingin merawat ingatan tentang Fatmawati dan bendera merah putih menjelang hari pelantikan Joko Widodo sebagai presiden.

Joko Widodo dan kita bakal mengingat 20 Oktober 2014 adalah hari bersejarah berkonteks demokrasi di Indonesia.

Kita mengingat Fatmawati dan Joko Widodo, atau Jokowi,  melalui pemaknaan bendera Merah Putih. Bendera pusaka adalah warisan besar bagi Indonesia.

Bendera itu masih ada meski menua dan usang. Pada tahun depan, Jokowi berhadapan dengan bendera pusaka dalam upacara peringatan kemerdekaan.

Barangkali Jokowi berkenan mengingat Fatmawati, melengkapi ingatan mengenai revolusi mental dan Tri Sakti, mengacu ke Sukarno.

Jokowi memiliki kisah bersejarah dengan bendera Merah Putih. Kita masih ingat peristiwa saat dia mencium bendera Merah Putih pada 14 Maret lalu.

Adegan mencium bendera merah putih dilaksanakan setelah Jokowi menerima perintah dari partai untuk maju menjadi calon presiden.

Joko Widodo memberi pesan penting saat adegan mencium bendera tersebut: cinta Tanah Air, pengabdian bagi bangsa dan negara, misi memuliakan Indonesia.

Nanti, 20 Oktober 2014, Joko Widodo adalah presiden dengan janji bereferensi bendera Merah Putih. Kita bakal turut membuktikan janji bersama Jokowi, tapi jangan melupakan Fatmawati.

Berkibarlah bendera putih, berkibarlah kemuliaan Indonesia!

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

SHARE
Previous articleParadoks SBY
Next articleKailash dan Malala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here