Etika Mengkritik

0
4 views
Ilustrasi. Santri Ponpes Yadul 'Ulya Garut Belajar dan Berlatih di Alam Terbuka, Di antaranya Di Didik Beradab serta Beretika.
Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Wajib bagi kita mengetahui etika mengkritik agar bernilai ibadah”

OLEH MOCH HISYAM

Dalam muamalah, memberikan masukan berupa kritik adalah hal yang wajar untuk saling mengingatkan. Bahkan, bisa menjadi amal utama yang mendatangkan pahala besar bagi sang pengkritik. Oleh karena itu, wajib bagi kita mengetahui etika mengkritik agar bernilai ibadah.

Secara umum, kritik adalah sesuatu yang disampaikan dengan tujuan meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, serta membantu perbaikan suatu pekerjaan.

Lingkungan Kawasan Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Melalui kritik, orang yang dikritisinya akan bisa mengevaluasi kekurangan, memahami kesalahan, menjadi lebih maju dalam melangkah, termotivasi mencari solusi, dan membuat pikirannya lebih terbuka sehingga apa yang dilakukan atau kinerjanya menjadi lebih baik.

Namun demikian, dalam menyampaikan kritik jangan asal main kritik. Kita harus hati-hati dalam memberi kritik dan tahu ilmunya. Karena tanpa kehati-hatian dan tanpa mengetahui etika mengkritik yang benar, akan menimbulkan perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.

Bila hal ini terjadi maka kritik yang kita sampaikan tidak membawa kepada kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan, menjadikan dosa dan terputusnya silaturahim serta memunculkan kemafsadahan (kerusakan) yang banyak dan besar. Itu sebabnya, kritik harus disampaikan dengan benar dan mengikuti etika agar tidak menjadi ajang pelampiasan ego si pengkritik atau melukai perasaan si penerima kritik.

Dalam ajaran Islam, kritik termasuk dalam ajaran amar makruf nahi mungkar (QS Ali-Imran: 110). Oleh karena itu, secara umum, Islam mengatur etika dalam menyampaikan kritikan, di antaranya: Pertama, memberi kritikan dengan ikhlas. Kita tidak boleh melancarkan kritik dengan tujuan menonjolkan diri, termotivasi oleh hasad (kedengkian) atau berbagai tendensi tertentu, namun semata-mata untuk memperoleh wajah Allah ta’ala.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa mengatakan, “Wajib bagi setiap orang yang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran berlaku ikhlas dalam tindakannya dan menyadari bahwa tindakannya tersebut adalah ketaatan kepada Allah. Dia berniat untuk memperbaiki kondisi orang lain dan menegakkan hujah atasnya, bukan untuk mencari kedudukan bagi diri dan kelompok, tidak pula untuk melecehkan orang lain.”

Kedua, mengkritik harus disertai dengan ilmu. Artinya, kritikan yang disampaikannya benar-benar didasari dengan ilmu di bidangnya. Kita tidak boleh mengritik tanpa ilmu dan basirah. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa mengatakan, “Hendaknya setiap orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar adalah seorang yang alim terhadap apa yang dia perintahkan dan dia larang.”

Ketiga, sampaikan kritikan dengan kelembutan dan kesantunan. Bersikap lembut dan santun adalah hukum asal dalam mengritik, apalagi bila pihak yang dikritik merupakan seorang tokoh yang memiliki pengikut atau memiliki peluang besar untuk rujuk kepada kebenaran. Kkelembutan dan kesantunan akan memudahkan setiap perkara.

Bila kita mampu menerapkan itu semua maka kritikan yang kita lontarkan akan mendatangkan pahala dan akan memberi kebaikan bagi orang yang kita kritisi. Wallahu a’lam.

*******

Republika.co.id/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here