Etika dan Tingginya Harga Benda Seni

– Peter Singer, Guru Besar Bioetika pada Princeton University di New York

Jakarta, Garut News ( Senin, 09/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Di New York bulan lalu, balai lelang Christie’s menjual benda-benda seni kontemporer dan pasca-perang senilai US$ 745 juta, jumlah tertinggi yang pernah tercapai dalam satu sesi lelang.

Di antara karya-karya berharga tinggi yang terjual termasuk lukisan-lukisan oleh Barnett Newman, Francis Bacon, Mark Rothko, dan Andy Warhol, masing-masing terjual dengan harga lebih dari US$ 60 juta.

Menurut harian New York Times, kolektor- kolektor dari Asia memainkan peran menonjol dalam mendongkrak harga.

Sudah pasti beberapa di antara para kolektor ini menganggap apa yang mereka beli itu sebagai investasi, sama seperti saham atau properti, atau emas batangan.

Kalau begitu, apakah harga yang mereka bayar itu terlalu berlebihan atau wajar bergantung pada seberapa tinggi pasar bersedia membayar harga barang seni itu di kemudian hari.

Tapi, bila laba bukan motifnya, mengapa ada orang yang mau membayar puluhan juta dolar untuk benda-benda seni seperti ini.

Karya-karya seni ini tidak indah, tidak juga ia menunjukkan keterampilan artistik yang ulung.

Ia bahkan bukan luar biasa menurut ukuran karya seorang seniman.

Sepuluh tahun yang lalu, Metropolitan Museum of Art di New York membayar US$ 45 juta untuk sebuah lukisan Madonna and Child oleh Duccio.

Setelah itu, saya menulis, dalam buku yang saya karang, The Life You Can Save, bahwa ada hal-hal lebih baik yang bisa dilakukan para donor yang membiayai pembelian benda-benda itu dengan uang mereka.

Saya belum mengubah pandangan saya mengenai hal ini, tapi lukisan Madonna and Child itu dilukis dengan indah dan sudah berusia 700 tahun.

Duccio adalah seorang tokoh utama yang melukis di masa transisi penting dalam seni di dunia Barat, dan tidak banyak lukisannya yang masih ada saat ini.

Meski demikian, pentingnya seni pasca perang ini mungkin terletak pada kemampuannya menantang ide-ide yang kita pegang.

Pandangan demikian diekspresikan oleh Jeff Koons, yang karyanya ditawarkan dalam lelang Christie’s itu.

Dalam wawancara pada 1987 dengan pengamat seni, Koons merujuk pada karya yang terjual bulan lalu yang dinamakannya “Jim Beam’s Work” (Karya Jim Beam).

Koons telah memamerkan karya ini-suatu kereta api mainan tanpa karat dan berukuran sangat besar yang sarat dengan minuman keras Bourbon-dalam sebuah pameran yang dinamakan “Luxury and Degradation” (Kemewahan dan Degradasi) yang, menurut New York Times, membedah “kedangkalan, ekses, dan bahaya kemewahan 1980-an yang melambung tinggi itu.”

Dalam wawancara tersebut, Koons mengatakan karya Jim Beam itu “menggunakan metafora kemewahan untuk mendefinisikan struktur kelas.”

Pengamat seni Helena Kontova kemudian bertanya kepadanya bagaimana “niat sosial-politik”-nya itu berkaitan dengan Ronald Reagan, Presiden AS saat itu.

Koons menjawab, “Dengan Reaganisme, mobilitas sosial sudah ambruk, dan sebagai gantinya bukan terbentuk suatu struktur yang terdiri atas kelas bawah, menengah, dan atas, sekarang kita telah jatuh ke dalam kelas bawah dan kelas atas saja. Karya saya berdiri tegas menentang kecenderungan ini.”

Seni sebagai bentuk kritik terhadap kemewahan dan ekses!

Seni sebagai oposisi terhadap makin lebarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin!

Betapa mulia dan berani kedengarannya.

Jika seniman, pengamat seni, dan kolektor benda seni benar-benar berkepentingan mengurangi kesenjangan yang makin lebar antara yang miskin dan yang kaya, mereka akan meluangkan waktu mereka di negara-negara berkembang dan dengan seniman setempat, di mana mengeluarkan beberapa ribu dolar saja untuk membeli karya-karya seni di sana besar artinya bagi kesejahteraan seluruh warga desa.

Di semua budaya, dan dalam segala situasi, orang menghasilkan karya seni, bahkan ketika mereka tidak bisa memuaskan kebutuhan dasar fisik mereka.

Tapi kita tidak perlu kolektor benda seni mengeluarkan jutaan dolar untuk mendorong orang berbuat begitu.

Sebenarnya, tidak sulit memberikan argumentasi bahwa harga setinggi langit telah membawa pengaruh yang mengkorup ekspresi artistik.

Soal mengapa kolektor mengeluarkan uang yang begitu besar, saya kira mereka berpikir bahwa memiliki karya-karya seni asli seniman-seniman terkenal akan meningkatkan status diri mereka.

Kalau begitu, ini bisa membuka jalan melakukan perubahan: redefinisi status yang mengikuti garis-garis yang lebih kuat berlandaskan etika.

Dalam sebuah dunia yang lebih etis, mengeluarkan puluhan atau jutaan dolar untuk karya seni justru akan menurunkan status, bukan meningkatkan status.

Perilaku demikian membuat orang bertanya: di sebuah dunia di mana lebih dari 6 juta anak meninggal dunia setiap tahun karena ketiadaan air minum yang bersih dan kelambu untuk  melindungi diri dari sengatan nyamuk, atau karena mereka tidak diimunisasi terhadap campak, tidakkah Anda akan mencari sesuatu yang lebih baik dengan uang yang Anda miliki? *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts