Elegi Assaat

– Muhidin M. Dahlan, kerani @warungarsip

Jakarta, Garut News ( Selasa, 19/08 – 2014 ).

Ilustrasi. Seumur Jagung. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Seumur Jagung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Kehadiran Assaat dalam sejarah Republik Indonesia, sebagai (acting) Presiden RI, tak ubahnya seperti elegi, kalau bukan tragedi.

Pasalnya, sosok yang lahir di Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904, ini adalah “noktah semangka” (PSI-Masjumi) yang tak boleh ada dalam sejarah kepresidenan RI.

Hitunglah, berapa jumlah presiden RI dari Agustus 1945 hingga Oktober 2014.

Maka jawaban umum adalah enam: Sukarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sosok Assaat tak ada di sana.

Jika kita merujuk ke kronik Indonesia, setelah nota kesepakatan “Konferensi Meja Bundar” (KMB) ditandatangani pada 27 Desember 1949, Assaat ditunjuk sebagai Presiden Republik Indonesia yang berkedudukan di Jakarta, menggantikan Sukarno yang dalam waktu bersamaan menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS).

Walau hanya menjabat hingga 15 Agustus 1950, Assaat adalah salah satu patok penting ketika Indonesia sedang dalam pergolakan perang, pertarungan diplomasi, dan pencarian bentuk negara.

Assaat menjadi saksi bagaimana Republik berada dalam simpang revolusi yang pelik menuju liberalisme.

Setelah Presiden RIS Sukarno dilantik, sebagaimana kronik koran Tanah Air edisi 19 Desember 1949 menuliskan, Assaat yang menjadi pejabat Presiden RI segera mengambil tindakan pertama mengubah model parlemen menjadi parlemen nasional, yang memberi tempat bagi kaum progresif.

RI, yang menjadi negara bagian dari RIS, adalah ejawantah bahwa kronik sejarah RI yang lahir dari Revolusi Agustus 1945 tak terputus.

Sebab, RIS yang merupakan kemenangan terbaru dari Belanda di meja diplomasi itu memiliki bentuk dan konstitusi sendiri yang berbeda dengan konstitusi RI 18 Agustus 1945.

Beruntunglah ada Assaat.

Rantai sejarah RI itu tetap tersambung dalam kekuasaannya yang berumur sangat pendek, 9 bulan.

Namun revolusi memakan anaknya sendiri.

Ketika Demokrasi Terpimpin mulai dipraktekkan dan ketidakpuasan merebak di daerah, terutama di Sumatera Barat, Assaat memilih masuk hutan.

Ia bergabung dengan gerilyawan PSI-Masjumi (hijau-merah, semangka) yang menamakan diri “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia” (PRRI).

Dan nama Assaat pun padam bersama ditumpasnya gerakan ini dalam operasi militer yang sistematis dan masif.

Pergantian rezim dari Sukarno ke Soeharto menjadi momentum dan kesempatan baru bagi Assaat.

Ia muncul lagi untuk pertama kalinya ke publik di hari penguburan sahabat politiknya, Sjahrir.

Bersama Sjafruddin Prawiranegara-sekondan politiknya di PRRI-Assaat berdiri di sisi kuburan Sutan Sjahrir saat Hatta mengucapkan kata-kata pungkas sebagaimana dicatat koran Pelopor Baru, 20 April 1966: “Sjahrir berjuang untuk Indonesia merdeka, tetapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia jang merdeka … bukankah itu suatu tragedi?”

Assaat-selain Sjahrir dan Sjafruddin-adalah nama di tapal revolusi yang menjadi musuh politik dan dipenjarakan Sukarno sejak 1962 hingga 1966.

Pergantian rezim tak jua memulihkan nasib Assaat.

Sejarah yang disusun Sukarno dan diwariskan hingga kini tak pernah lagi memberi tempat bagi Assaat untuk dikenang dalam memori kepresidenan, lantaran keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI.

Bahkan hingga diresmikannya Museum Presiden pada Agustus 2014, Assaat tak pernah ada di sana.

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts