Ekoteologi

Tom Saptaatmaja,
Alumnus Seminari St. Vincent de Paul

Garut News ( Sabtu, 07/06 – 2014 ).

Ilustrasi. Lingkungan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Lingkungan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ada yang menyebut kerusakan lingkungan hidup saat ini terparah dalam sejarah umat manusia.

Sayangnya, agama atau teologi “monoteisme” konon malah punya andil dalam penghancuran lingkungan karena ajarannya yang menempatkan manusia sebagai pusat ciptaan.

Ajaran yang antroposentris ini kerap dijadikan legitimasi bagi para pelaku kerusakan lingkungan hidup di mana pun.

Ayu Utami, dalam novel Bilangan Fu (KPG, Jakarta, 2008),mencoba mengkritisi pandangan agama atau teologi monoteisme yang justru menjerumuskan ekologi dalam kerusakan.

Monoteisme hanya mengajarkan agar manusia memperbaiki akhirat, tapi merusak dunia.

Novel ini mengapresiasi ajaran agama tradisional, seperti “sakralisasi alam”.

Dalam ajaran ini, setiap unsur di alam, seperti gunung, hutan, pohon, atau danau, memiliki penghuni yang harus dihormati.

Tanpa disadari, ajaran animistis ini justru menghindarkan gunung, hutan, pohon, atau danau dari destruksi.

Sedangkan teolog feminis, Rosemary Radford Ruether, mengecam budaya patriarki. Sebabnya, kata dia, budaya ini memberikan kontribusi negatif bukan hanya terhadap kemanusiaan perempuan, tapi juga terhadap perusakanlingkungan di sepanjang sejarah.

Syukurlah, agama atau teologi monoteisme mau menerima kritik seperti yang dilontarkan Ayu Utami atau Ruether.

Kini sudah muncul apa yang disebut dengan ekoteologi, yang mencoba menata ulang posisi manusia.

Manusia bukan sebagai pusat (antroposentris) lagi di alam semesta.

Citra palsu manusia sebagai tuan atas ciptaan-ciptaan lain harus dilepas atau ditanggalkan karena manusia adalah mitra Tuhan atau sahabat Sang Pencipta guna menyelamatkan dunia dari kerusakan ekologi yang lebih parah.

Dosa-dosa ekologis manusia modern yang mengeksploitasi bumi dan merasa memiliki keunggulan dibanding ciptaan lain perlu terus dikoreksi dan dikritisi.

Ekoteologi menawarkan ajaran atau ekologi baru bahwa segenap penganut agama monoteis kini hanya menjadi pendatang belakangan di dunia danpunya tugas menghindarkan lingkungan hidup dari destruksi (David G.Hallman, “Beyond ‘North/South Dialogue'”, dalam David G. Hallman, Ed.,Ecotheology: Voices from South and North (Maryknoll, New York: OrbisBooks, 1994, p 6)).

Sayang, gema dari ekoteologi ini baru mulai muncul di negeri kita beberapa tahun belakangan ini.

Tidak mengherankan jika destruksi terhadap lingkungan hidup di negeri ini justru terus dilakukan di tengah alpanya kaum politikus dan pengambil kebijakan akibat ingar-bingar perpolitikan menjelang pemilihan presiden 9 Juli 2014.

Kalau politik yang diusung para politikus kita sungguh bervisi lingkungan (green politic), jelas kita tidak perlu cemas.

Tapi, sayang, politik yang diusung lebih mengutamakan politik bagi-bagi kekuasaan.

Isu-isu ekologi pun tersisih.

Kita sudah melihat betapa memuakkannya ketika para anggota parlemen justru turut berandil dalam kejahatan ekologi, seperti kasus alih fungsi hutan di Sumatera yang merusak lingkungan hidup.

Kita berharap presiden dan pemerintahan baru kelak serta segenap komponen bangsa lainnya di negeri ini sungguh akan punya kepedulian sejati pada lingkungan hidup. *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment