Dua Gunung, Sawah, dan Matahari

– Qaris Tajudin, qaris@tempo.co.id

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 25/01 – 2014 ).

Ilustrasi. Sawah dan Gunung. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sawah dan Gunung. (Foto: John Doddy Hidayat).

Saya melakukan survei kecil-kecilan soal kreativitas.

Dalam sejumlah diskusi dan workshop tentang penulisan, saya meminta peserta menggambar pemandangan dalam 30 detik.

Tak ada batasan pemandangan seperti apa yang harus digambar.

Bebas sebebas-bebasnya.

Seharusnya, mereka bisa menggambar apa saja, dari laut, padang savana, pedesaan, hingga gedung-gedung di kota.

Tapi, saat hasilnya dikumpulkan, sebagian besar menggambar dua gunung, matahari di tengahnya, serta sawah dan jalan menikung di depannya.

Itu tidak hanya terjadi sekali-dua kali.

Dalam berbagai kesempatan di berbagai kota di Indonesia-termasuk sebuah workshop yang diikuti oleh lusinan guru dari Sabang sampai Merauke-gambar gunung dan sawah selalu muncul.

Bedanya hanya soal usia: semakin tua peserta, semakin terobsesi mereka pada sawah dan gunung.

Di usia 40 tahun ke atas, 95 persen menggambar sawah dan gunung.

Pada mahasiswa, jumlahnya tinggal 70 persen.

Berkurang, tapi tetap dominan.

Ini memang bukan penelitian ilmiah, tapi saya yakin sebagian besar orang Indonesia akan menggambar gunung-sawah juga saat diminta menggambar pemandangan.

Orang Jakarta yang pandangannya selalu tertumbuk pada gedung dan mobil, anak pantai yang akrab dengan laut dan pohon nyiur, gembala di Nusa Tenggara Timur, yang sehari-hari memandang savana, juga menggambar pemandangan yang sama.

Dari mana datangnya keseragaman itu?

Jawabnya mudah, dari sekolah.

Di sekolah, hampir semua hal diseragamkan dan dihafalkan hingga taraf yang mengerikan.

Jika pelajaran seni saja harus seragam dan dihafal, apalagi pelajaran eksak seperti matematika.

Ujung dari keseragaman ini adalah jawaban tunggal saat ujian.

Hampir seluruh soal ujian sekolah kita berbentuk multiple choice, bukannya esai.

Dalam soal multiple choice, jawaban yang benar hanya satu: a, b, c, atau d.

Kita tak punya jawaban berbeda, meski mungkin jawaban kita itu mengandung kebenaran.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, seorang kawan pernah sedikit kreatif.

Dalam ujian matematika, ada soal berbunyi begini: “Sekolah ingin membangun kelas tambah­an. Setiap murid diminta menyum­bang dua batu bata. Jika ada 40 murid di sekolah itu, berapa batu bata yang dibutuhkan?”

Di bawahnya ada empat pilihan jawaban: a. 70, b. 80, c. 65, d. 55.

Seharusnya dia menjawab b, karena 2 batu bata X 40 murid = 80.

Tapi, teman saya menulis jawabannya sendiri: “E. Semua jawaban salah, karena untuk membangun kelas, dibutuhkan lebih dari 80 batu bata.”

Jawaban itu tentu saja disalah­kan, meski benar.

Jawaban itu disalahkan bukan karena salah, tapi teman saya mencoba melawan penyeragaman kebe­naran.

Para pengajar merasa perlu ada keseragaman, karena itu memudahkan mereka.

Ketidak­seragaman itu membutuhkan diskusi, dan diskusi­-bagi ba­nyak guru-tidak efisien.

Penyeragaman pengetahuan, menghafal, dan menjawab satu jawaban yang benar itu lebih mudah karena bisa dilakukan satu arah dan tanpa bantahan.

Tapi, menghafal tak berbeda jauh dengan mencontek.

Penghafal dan pencontek sama-sama tak mengerti inti dari pelajaran yang diajarkan dan diujikan.

Seperti penggambar sawah dan gunung yang mungkin belum pernah memandang pemandangan itu.

***** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment