DPRD Garut Menunggu Usulan Dari Dinkes/Bappeda

0
153 views

“Proses Penyembuhan 30 Penderita TB Paru Telan Dana Rp15,14 Miliar Per Tahun”

Garut News ( Jum’at, 19/12 – 2014 ).

Community TB Care 'Aisyiah Beraudensi Dengan Komisi D DPRD serta Institusi Teknis Terkait.
Community TB Care ‘Aisyiah Beraudensi Dengan Komisi D DPRD serta Institusi Teknis Terkait.

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Garut Asep D. Maman menyatakan, legislatif hanya bisa membahas anggaran khusus penanggulangan TB Paru pada APBD Perubahan 2014.

Jika terdapat usulan pengalokasiannya  dari Dinas Kesehatan dan Bappeda setempat.

Lantaran selama ini pengalokasian dana penanggulangan jenis penyakit tersebut, mengacu pada program pencegahan/penanggulangan penyakit menular diselenggarakan Dinkes Garut.

Asep D. Maman, SH
Asep D. Maman, SH

Asep D. Maman kepada Garut News seusai beraudensi dengan “Community TB Care ‘Aisyiah” di ruang aspirasi DPRD, Jum’at (19/12-2014), juga menyerukan kebersamaan mendorong mewujudkan regulasi berupa “Peraturan Bupati” ( Perbup) tentang Pencegahan/Penanggulangan TB Paru.

Sehingga dari hasil audensi ini bakal dijadikan landasan untuk segera dibawa maupun diusung kepada pemangku kebijakan lebih tinggi, katanya.

Anggota Komisi D lainnya, Dra Hj. Uum Suhartini mengemukakan pula, kebijakan pembahasan jika terdapat alokasi anggaran khusus, pembahasannya diselenggarakan Banggar DPRD.

Kepala SSR ‘Aisyiah Ai Rustini, S.Ag antara lain mengingatkan, TB Paru mengancam SDM Indonesia menyusul berdasar keterangan WHO pada 2009 terdapat 650 penderita baru TB setiap harinya, dan menewaskan sekitar 236.029 akibat TB.

Dra Hj. Yati Rd.
Dra Hj. Yati Rd.

Disusul 2013 juga terdapat sembilan juta pasien TB baru, sebanyak 1,1 juta di antaranya positip HIV, setiap tahun terdapat berkisar 10 – 15 orang terkena TB.

Proses pengobatannya berkisar selama enam bulan, sembilan bulan hingga 12 bulan, umumnya mendera penduduk bermukim pada kawasan “Kumis Tebal” (Kumuh, Miskin, Terbelakang).

Karena itu, ungkap Ai Rustini setiap seluruh jajarannya mengajak seluruh komponen dan elemen masyarakat, utamanya kalangan legislatif dan eksekutif terjalin kebersamaan menurunkan angka kematian, dan memutus rantai penularan TB Paru, imbuhnya menyerukan.

Ungkapan dan harapan senada juga dikemukakan Ketua Pengurus Daerah ‘Aisyiah kabupaten setempat, Dra Yati Rd.

“Proses Penyembuhan 30 Penderita TB Paru Telan Dana Rp15,14 Miliar Per Tahun”

Agus Rahmat Nugraha.
Agus Rahmat Nugraha.

Agus Rahmat Nugraha dari Tim Peneliti Ansit Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta dan STAIDA Muhammadiyah Garut menyatakan, temuan peneliti berdasar metode Daly menunjukkan, pemerintah juga masyarakat kudu mengeluarkan biaya Rp15,4 miliar per tahun untuk penanggulangan Tb ini.

Biaya sebesar itu, hanya diperuntukan bagi 30 penderita jenis penyakit mematikan tersebut.

Padahal kasus Tb di Kabupaten Garut cukup besar, sedangkan disparitas dokumen RPJMD tak memasukan permasalahan TB sebagai prioritas masalah.

Reza, Kaula Muda Muhammadiyah.
Reza, Kaula Muda Muhammadiyah.

Sedangkan pengendalian TB merupakan satu tujuan dalam MDG’S, ungkapnya mengingatkan pula.

Penyebab langsungnya Mycrobacterium tuberkulosis, disusul penyebab tak langsung hunian tak sehat dan rendahnya kesadaran perilaku sehat, dengan basis atawa akar permasalahannya berupa kesejahteraan rendah dan kebijakan anggaran pemerintah.

Bahkan di luar Kabupaten Garut, terdapat Pemerintah Daerah mengalokasikan khusus dari APBD bagi penanggulangan jenis penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia ini.

Iwan Setiawan.
Iwan Setiawan.

Produk analisis situasi Tb di Kabupaten Garut, merekomendasikan mendesak perlu program teknis memerbaiki kondisi lingkungan penduduk, agar memenuhi persyaratan hunian ideal.

Kemudian, perlu program edukasi kesehatan terkait Tb dengan melibatkan para pihak non pemerintah, kelompok adat, dan keagamaan.

Serta rekomendasi sangat diperlukannya “Political Will” berupa kebijakan anggaran.

Dikemukakan Agus Rahmat Nugraha, faktor pengaruhi pravelensi Tb di Kabupaten Garut, terdiri kondisi individu berupa pendidikan, perilaku, dan pemahaman.

Disusul kondisi lingkungan meliputi pencahayaan, kelembapan, serta suhu.

Kembali ditegaskan, kasus TB banyak ditemukan di Puskesmas, di RSU kecil sekali, namunb kebijakan anggaran yang tak berpihak kepada penderita TB.

Drs H. Haetami, M.Si.
Drs H. Haetami, M.Si.

Dalam pada itu, antara lain perwakilan dari Bappeda, Dinkes, Dinsosnakertrans, Dinas Koperasi, juga Distrakim masing-masing memaparkan program penunjang penanggulangan jenis penyakit itu.

Pelaksana Administrasi “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) Iwan Setiawan kepada Garut News mengemukakan, TB AIDS yang meninggal dunia lebih 50 persen dari seluruh penderita AIDS, atawa dari 2007 mencapai 100 lebih.

Akibat semakin menurunnya kondisi kesehatan mereka, tanpa memiliki imunitas, katanya.

Kabid Pengendalian Penyakit pada Dinkes Garut, Tatang Wahyudin jelaskan, hingga triwulan ketiga September 2014 terdapat temuan 1.208 penderita “Baksil Tahan Asam” (BTA) positip, 9.057 suspek penderita Tb paru, serta terdapat 20 penderita MDR.

Sebanyak 20 penderita MDR tersebut, lima di antaranya tewas, dua droft out (DO), dua sembuh, serta 11 penderita masih menjalani proses pengobatan.

Kader TB Care.
Kader TB Care.

Pengelola Program “Komite Penanggulangan AIDS” (KPA) Guntur Yana Hidayat juga mengingatkan, dari 297 pengindap AIDS di Kabupaten Garut, 60 persen di antaranya juga penderita Tb paru, sedangkan penderita HIV kini mencapai 105.

Audensi dipandu fasilitator “Community TB Care ‘Aisyiah” Susi Budiani itu, juga antara lain dihadiri Ketua PD Muhammadiyah kabupaten setempat, Drs H. Haetami, M.Si.

 

********

Esay/Foto :

John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here