Realisasi Program Unggulan Garut Amazing Dinilai Gagal

0
166 views
Kondisi Flyover Kadungora Garut.
Wajah Kemiskinan Penduduk Garut.

“Pembangunan Tak Fokus Berdampak Tingginya Kemiskinan” 

Garutnews ( Sabtu, 11/11 – 2020 ).

Ketua DPD Laskar Indonesia Kabupaten Garut Dudi Supriyadi menyikapi pernyataan Bupati Rudy Gunawan terkait tingginya angka kemiskinan dan rendahnya PDRB dibandingkan PDRB Jawa Barat dinilai bukan hal baru.

Melainkan pernyataan tersebut justeru secara langsung maupun tidak langsung menguatkan program pembangunan di kabupaten ini, setidaknya selama enam tahun terakhir relatif tak mengalami kemajuan bahkan cenderung arahnya tak fokus.

Sehingga tampak di permukaan hanya sebatas pembangunan infrastruktur fisik. Itu pun masih harus dipertanyakan kualitas maupun aspek kemanfaatannya bagi masyarakat luas.

Berkondisi Tak Sehat Juga Tak Layak Huni.

“Lima tahun lewatnya periode pemerintahan Rudy, kini pada periode kedua. Tapi persoalannya tetap berkutat rendahnya PDRB dan tingginya angka kemiskinan. Apa dia baru siuman tidur ? Apa dia tak sadar itu cerminan hasil program dia rancang dan laksanakan sendiri ? Program Garut Amazing jelas-jelas gagal !” ungkap Dudi, Rabu.

Dikemukakan, fakta masih rendahnya PDRB dan tingginya kemiskinan penduduk memerlihatkan pengelolaan pemerintahan Rudy terbilang buruk. Pembangunan yang tampak di permukaan hanya sebatas pembangunan infrastruktur.

Bertahun-tahun Sampah pun Tetap Menumpuk Memenuhi Lintasan Badan Sungai.

Itu pun patut dipertanyakan kualitas serta kemanfaatannya bagi masyarakat luas, termasuk proses perencanaan hingga pelaksanaannya banyak bermasalah. Lantaran kebanyakan tak berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Apalagi diperparah hantaman pandemi predator Covid-19 sekarang ini, sehingga berfenomena menjadi Garut Amazing Percepatan Penularan Wabahnya.

Mubazirnya gedung pedagang kaki lima (PKL), mudah rusaknya sejumlah infrastruktur baru dibangun, runyamnya revitalisasi pasar tradisional, tak mulusnya pembangunan sejumlah gedung perkantoran, kemelut rehabilitasi rekonstruksi pascabencana banjir bandang Cimanuk yang tak kunjung usai.

Terpaksa Membentangkan Kabel Linstrik Sendiri Sejauh 250 Meter, Lantaran Tak Mampu Membeli Delapan Tiang Listrik PLN.

Serta sangat kerapnya rotasi mutasi pejabat dilakukan hanyalah secuil dari sekian banyak persoalan yang ada di kabupaten setempat hingga saat ini.

“Kita beberapa kali mengingatkan. Seharusnya RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) bisa berbanding lurus dengan pengentasan kemiskinan yang merupakan isu krusial di kabupatennya. Namun ini kan aneh. Masalah utama kemiskinan, tetapi digenjot program pembangunan infrastruktur. Mestinya program itu berkesesuaian dengan pengentasan kemiskinan,” tandas Dudi.

Padahal menurutnya, sesuai Undang Undang Nomor 23/2004, salah satu kewajiban kepala daerah termasuk Bupati, mengentaskan kemiskinan. Sehingga seharusnya program pembangunan daerah itu difokuskan ke arah pengentasan kemiskinan.

Menyambung Aliran Listrik Dari Pos Ronda, dan Menyangga Kabel Listrik Dengan Belasan Tiang Bambu.

“Maka, pengentasan kemiskinan ini gagal, jangan terlalu menyalahkan SKPD (Saturan Kerja Perangkat Daerah) ! Sebab arah pembangunannya pun enggak fokus. Pedoman pembangunan daerah itu kan RPJMD. Siapa yang buat ? Visi misi siapa yang dimuat ?” ungkap Dudi, lantang.

Ironisnya pula, kata dia, pihak DPRD juga seakan menutup mata terhadap arah perkembangan pembangunan yang gagal mendongkrak kesejahteraan masyarakatnya itu.

“Seharusnya DPRD peka terhadap arah perencanaan dan realiasi pembangunan ini. Jika DPRD cermat, evaluasi lima tahun (periode pertama Rudy Gunawan-Helmi Budiman) tak ada bukti pengentasan kemiskinan. Pelesiran ke luar daerah atas nama ragam studi banding selama ini dilakukan, apa hasilnya, kalau tokh tak menambah kepekaan mereka atas persoalan Garut ? Apanya yang mereka awasi selama ini ?” sesal Dudi pula.

Merebak-maraknya Atraksi Badut Juga Indikasikan Tingginya Angka Kemiskinan Garut.

Karena itu, agar arah pembangunan tak semakin melenceng, Dierukan semua kalangan masyarakat seyogyanyalah bangun. Mengawasi ketat dan cermat terhadap program-program pembangunan di Garut yang dirancang eksekutif dan legislatif, termasuk janji-janji manis politik Bupati, dan Wakil Bupati.

Sebelumnya, pada Kick Off Meeting Perencanaan dan Penganggaran 2022, dan Persiapan Revisi RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2019-2024 di kawasan obyek wisata Cipanas Tarogong Kaler, Selasa (10/11/2020).

Daya Beli Masyarakat Melorot.

Bupati Rudy katakan, masih rendahnya pendapatan per kapita kabupaten dibandingkan Jawa Barat per tahun menjadi persoalan besar hingga menjadikan kemiskinan Garut cukup tinggi, mencapai 8,9 persen.

Pendapatan per kapita kabupaten ini bertengger di bawah rata-rata Jawa Barat hampir 21%. Pendapatan rata-rata penduduk Jawa Barat mencapai sebesar Rp11 juta per kapita/tahun. Sedangkan pendapatan per kapita penduduk Garut hanya Rp8 juta/tahun.

Demikian foto berita garutnews.com akhir pekan ini, Sabtu (14/11-2020).

*******

Abisyamil, JDH/Foto : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here