Dosa Sekelompok Orang Penyebab Bencana Dirasakan Massal

0
27 views
Ust. SZ Yudha.
“Menegakkan Keadilan, Mencapai Keseimbangan”.

“Zikir dan Fikir Lahirkan Hikmah”

Garut News ( Ahad, 24/05 – 2020 ).

Pada tahapan tertentu dosa dilakukan sekelompok orang bisa menjadi penyebab bencana, yang bakal dirasakan secara massal maupun semua orang termasuk menerjang kepada orang sholeh sekalipun.

Jika terjangan bencana di negeri kita juga pada belahan dunia lainnya saat ini, terutama wabah pandemi global wabah predator coronavirus disease Covid-19 sebagai bentuk di antara azab Allah SWT.

Ramadlan sebagai madrasah selama sebulan penuh atau setara 2.592.000 detik, insan semula hanyut oleh dunia kembali ke sajadah.

“Maka kita memohon ampunan Allah AWJ, semoga keberkahan Ramadlan bisa segera bencana tersebut diangkat-Nya,” demikian asa Ust. SZ Yudha dalam Khutbah Shalat Idul Fitri 1441 H di Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya Garut, Ahad (24/05-2020).

Diingatkan, dosa itu kezaliman lantaran ketika melakukan dosa hakekanya meletakan sesuatu bukan pada tempatnya, sehingga kerap para ulama menyebutkan Ramadlan sebagai madrasah sebab selama sebulan penuh atau setara 2.592.000 detik bagi insan yang semula hanyut oleh dunia kembali ke sajadah.

Bersyukurlah Allah SWT Hadirkan Ramadlan.

“Kembali ke masjid, ke Qur’an, dan menyeimbangkan kembali jiwa yang terlalu jauh dibawa arus dunia agar ingat kepada akhirat,” imbuh Yudha.

Dikemukakan pula, selama ini memori kita lelah dengan berita kriminal, dada pun sesak dengan bencana silih berganti, juga beban ekonomi semakin menjerat leher akibat tergerus minimnya lapangan pekerjaan.

Penyelenggara Sampaikan Protokol Kesehatan.

Bahkan pangsa pasar kita miliki kian dikuasai barang import bersamaan semakin diperparah serbuan tenaga asing, maka bersyukurlah Allah SWT menghadirkan Ramadlan yang sarat Nur Qur’ani, dan Sunnah serta kalam nasihat para salaf as sholih.

“Zikir dan Fikir Lahirkan Hikmah”

Berzikir kita segarkan kembali memori fikir, yakni dengan meneguhkan zikir dan menajamkan fikir akan melahirkan hikmah berupa ilmu yang merasuk kedalam jiwa serta mengukuhkan keimanan pada kebijaksanaan ilahiah juga kekuasan-Nya yang tak terbatas. Sehingga menimbulkan ‘khasyyah’.

Gema Kumandang Takbir di Hari yang Fitri.

Karena itu, puasa Ramadlan seharusnya bisa membentuk insan yang peka terhadap hukum-hukum Allah SWT, sebab kezaliman sangat nyata dan besar jika menempatkan hukum-hukum ilahiah dibawah hukum ciptaan manusia.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya atupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran, Dan jika kamu memutarbalikan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha teliti terhadap segala yang kamu kerjakan” (An-Nisa:135).

Bersama Nikmati Ketupat Lebaran.

Dipaparkan pula, Rasulullah SAW bersabda : dari Sayidah Aisyah RA beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW “Wahai manusia, sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah (ketidakadilan): Apabila orang mulia di antara mereka melakukan kesalahan maka hukum menjadi tumpul, tetapi bila yang melakukan kesalahan adalah rakyat jelata maka penegak hukum segera menegakkan hukuman. Demi Allah. Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan kupotong tangannya, yakni akan kutegakkan hukuman secara adil.

“Mari kita tengadahkan kedua tangan seraya memohon dengan hati yang fitri pula. Akhirnya kepada Allah jualah kita berserah karena Dialah sebaik-baik penolong di antara semua penolong. Dialah al-Malik, Raja yang sesungguhnya yang akan mengadili mereka, yang menyebut dirinya Malik selama di dunia ini”

Pemberian Hadiah Lebaran.

Demikianlah antara lain Ust. SZ Yudha mempresentasikan khutbahnya berjuluk, “Menegakkan Keadilan, Mencapai Keseimbangan”.

“Jalani Protokol Kesehatan”

Pimpinan Yayasan Tahfidz Qur’an Garut, M. Angga Tirta katakan Shalat Idul Fitri ini diselenggarakan dengan menjalani pula protokol kesehatan, antara lain kewajiban setiap jamaah berkondisi sehat.

Ceria di Hari yang Fitri.

“Diawali mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, serta tak langsung berjabatan tangan,” imbuhnya.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here