Donald Trump, Si Pengobar Radikalisme dan Terorisme!

0
49 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Republika/Daan).

Senin , 11 Desember 2017, 05:13 WIB

Red: Elba Damhuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Republika/Daan).

Dalam beberapa tahun terakhir, tema-tema seperti ‘menciptakan perdamaian dunia’, ‘toleransi beragama’, ‘saling menghormati antarpemeluk agama’, ‘agama adalah perdamian’, ‘agama antikekerasan’, dan hal-hal senada laris manis menjadi pembicaraan masyarakat.

Entah dalam konferensi, seminar, forum diskusi, dialog, maupun lainnya. Baik yang diselenggarakan secara lokal, nasional ataupun internasional.

Tema-tema itu sebagai respons atas kemunculan kelompok-kelompok radikal, ektremis, kelompok garis keras, dan terorisme di berbagai negara. Terutama di kawasan Timur Tengah yang kemudian menyebar ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Karena kelompok-kelompok itu mengatasnamakan atau membawa-bawa nama agama, muncullah di sisi lain sikap-sikap antiagama dan umat beragama, terutama Islam dan umat Islam, yang kemudian dikenal dengan istilah Islamofobia. Di banyak negara, Islamofobia ini lalu berkembang menjadi gesekan antarumat beragama.

Kondisi demikian tentu sangat mengkhawatirkan terhadap terciptanya perdamaian dunia. Para ulama dan tokoh-tokoh dari berbagai agama pun menggalang koalisi besar untuk meredam munculnya kelompok-kelompok radikalis, ekstremis, kelompok garis keras, dan intoleran di masyarakat. Koalisi yang diwujudkan dalam bentuk seminar-seminar, konferensi, pertemuan bilateral, dan multilateral tadi.

Intinya, semua agama tidak ada yang mengajarkan tindak kekerasan, permusuhan, intoleran, dan sebagainya. Sebaliknya, agama mengajarkan kasih sayang, perdamaian, toleransi, dan saling menghormati antarmanusia.

Saya beberapa kali diundang mengikuti seminar internasional, Global Peace Forum, Interfaith Dialogue, dan semacamnya. Di antaranya seminar yang diselenggarkan al-Azhar Mesir bekerja sama dengan Majelis Hukama al-Muslimin di Kairo beberapa waktu lalu.

Seminar itu dikemas sebagai Muktamar al-Azhar al-‘Alamy li as-Salam alias Konferensi Internasional al-Azhar untuk menciptakan perdamaian dunia. Para pembicaranya tokoh-tokoh dari berbagai agama. Ada ulama, pendeta, biksu, dan pemimpin agama-agama lainnya. Juga akademisi, pengamat sosial dan budaya, para mahasiswa, pegiat hak asasi manusia dan LSM.

Seminar itu diakhiri dengan pertemuan puncak antara Grand Syekh al-Azhar Dr Ahmad Tayyib dan Paus Fransiskus dari Vatikan. Kedua pemimpin besar yang mewakili umat Islam dan Kristen (Katolik) ini sepakat menggalang kerja sama untuk menebarkan perdamaian, kasing sayang, toleransi, dan saling menghormati antarpemeluk agama.

Yang tampaknya luput dari perhatian para tokoh berbagai agama adalah bahwa sikap dan tindak kekerasan, radikalisme, dan ekstremisme di masyarakat ternyata lebih sering dipicu oleh keputusan para politikus. Munculnya kekerasan dan terorisme hanyalah akibat. Biang keladinya adalah politikus.

Lihatlah, akibat keputusan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel seraya memerintahkan untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Kota Suci itu, aksi-aksi unjuk rasa marak di berbagai negara.

Sebuah keputusan yang sembrono. Sebuah keputusan yang disebut Presiden Joko Widodo sebagai mengejutkan, menjengkelkan, dan membuat dongkol. Menurut dia, di saat Pemerintah Indonesia sedang berkampanye meredam sikap Korea Utara, Donald Trump malah membuat kebijakan mengejutkan.

“Eh, ternyata dikejutkan oleh sikap yang satunya lagi. Pemerintah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ini sungguh sangat mengejutkan, menjengkelkan, mendongkol,” kata Presiden Jokowi saat membuka Silaknas serta hari ulang tahun ke-27 ICMI di Istana Kepresidenan, Bogor, Jumat lalu.

Meredam sikap Korea Utara yang dimaksud tentu terkait dengan ancaman presiden negara itu, Kim Jong-un, yang ingin mengobarkan perang nuklir. Ia mengatakan, rudal balistik antarbenua Korut sudah bisa menjangkau seluruh wilayah AS. Uji coba rudal balistik Korea Utara inilah yang kemudian dikecam dan ditentang oleh dunia karena bisa mengobarkan perang nuklir dan mengancam perdamaian semesta.

Keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel juga tidak kalah berbahayanya dengan rudal balistik Korut. Ia berlawanan dengan kehendak dunia, melawan resolusi PBB, dan mengancam perdamaian dunia.

Sementara itu, bagi Trump, pengakuan dan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem hanyalah dianggap sebagai pemenuhan janji kampanye terhadap Yahudi Amerika pro-Israel dan kelompok Kristen Evangelis yang merupakan basis massa politisnya. Ia pun bisa dengan congkak penuh kemenangan ketika menyampaikan pidatonya pada Rabu lalu, “…Sementara beberapa presiden (AS) sebelumnya menjadikan ini sebagai janji utama kampanye mereka, mereka gagal memenuhinya. Hari ini, saya memenuhi janji itu.”

Mike Pence, wakil presiden AS, yang berada di belakang Trump, wajahnya tampak berseri-seri menyaksikan pidato bosnya. Pence selama ini dikenal sebagai penganut Kristen Evangelis garis keras yang mendukung penuh Israel.

Kini lihatlah, keputusan Presiden Trump telah menyatukan dunia untuk melawannya. Para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam alias OKI bahkan telah sepakat menggelar pertemuan darurat di Istanbul, Turki, pada 13 Desember ini. Kita berharap pertemuan puncak para pemimpin OKI itu akan menghasilkan sebuah kesepakatan bulat untuk melawan keputusan Presiden Trump.

Jangan sampai pertemuan itu justru hanya menjadi parade pernyataan dan kecaman tanpa makna seperti selama ini. Kalau tidak, OKI yang bahasa Inggrisnya Organisation of Islamic Cooperation alias OIC akan diplesetkan menjadi “Oh I See”.

Kita belum tahu bagaimana akibat dari keputusan berbahaya Trump ini ke depannya. Yang kita khawatirkan, kebencian dan kemarahan kepada Trump yang seorang presiden Amerika Serikat ini justru akan berkembang menjadi bibit-bibit ekstremisme, radikalisme, dan bahkan terorisme di kalangan masyarakat. Terutama di kalangan masyarakat Muslim.

Ingat, kelahiran kelompok teroris Alqaidah yang dibentuk Usamah bin Ladin pada awalnya didasari oleh kemarahan mereka terhadap standar ganda Amerika Serikat mengenai konflik Palestina (Arab)-Israel. Kemarahan yang kemudian bertumbuh-kembang menjadi terorisme.

Teror kepada AS dan segala kepentingannya lalu menjadi teror terhadap negara-negara sekutunya dan negara-negara yang dianggap sebagai ‘boneka’ Paman Sam itu. Teror yang tadinya politik berkembang menjadi teror yang didasari oleh agama.

Bila itu yang terjadi, segala upaya para ulama, uskup, pendeta, biksu, dan para pemimpin berbagai agama untuk menciptakan perdamaian dan melawan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di antara para pemeluk agama akan menjadi sia-sia.

Berbagai seminar dan konferensi tentang teleransi dan saling menghormati antarpemeluk agama akan menjadi mubazir. Penyebabnya, sikap dan keputusan para politikus seperti si Trump, yang justru mengobarkan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme di masyarakat.

Donald Trump boleh jadi hanya empat atau delapan tahun bersinggasana di Gedung Putih. Usianya pun sudah 71 tahun. Namun, sebuah keputusan Donald Trump, si presiden AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, bisa meninggalkan jejak yang lama. Yaitu bertumbuh-kembangnya bibit-bibit ekstremisme, radikalisme, dan terorisme di kawasan Timur Tengah yang kemudian menyebar ke berbagai negara sekaligus mengancam perdamaian dunia.

******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here