You are here
Dokter Setengah Dewa ARTIKEL 

Dokter Setengah Dewa

Wahyu Dhyatmika
wahyu_komang@tempo.co.id

Garut News ( Selasa, 17/12 ).

Ilustrasi, Bhakti Sosial Dokter di Garut, Jabar. (Foto: John).
Ilustrasi, Bhakti Sosial Dokter di Garut, Jabar. (Foto: John).

Banyak orang marah ketika dokter-dokter di seluruh Indonesia melakukan aksi keprihatinan dan menolak melayani pasien selama satu hari, akhir November lalu.

Dokter yang memutuskan mogok bekerja atas nama solidaritas pada koleganya yang dipenjara dituding egois dan arogan.  

Kemarahan publik ini masuk akal.

Ketika dokter-dokter memutuskan turun ke jalan, otomatis mereka meninggalkan rumah sakit, puskesmas, dan klinik-klinik tempat mereka bertugas.

Para pasien, warga yang membutuhkan perawatan kesehatan, merasa diabaikan.

Mereka merasa dinomorduakan.

Namun, menurut saya, ada alasan lain di balik kemarahan publik ini.

Akarnya ada pada perubahan persepsi kita tentang dokter.

Dulu kita memandang para dokter bak manusia setengah dewa.

Di mata kita, mereka punya pengetahuan ajaib untuk membuat kita sehat dan sembuh dari sakit yang menyiksa.

Datang dengan sejumlah keluhan, kita berharap keluar dari ruang periksa dengan tubuh kembali bugar seperti sedia kala.

Karena itu, di mata kita, dokter adalah sosok mahasempurna.

Bicaranya harus lemah lembut, perangainya kudu mulia.

Karena itu, kita keheranan ketika ada dokter yang memprotes soal gajinya yang terlambat dibayar.

Kita juga tak habis pikir ketika ada dokter yang tak mau ditugaskan di daerah terpencil.

Bukankah motivasi seseorang menjadi dokter adalah pengabdian kepada umat manusia?

Bahkan tidak dibayar pun seharusnya tidak apa-apa.

Dalam satu bagian di bukunya yang berjudul Blink, Malcolm Gladwell mengutip sebuah riset dari peneliti kasus malapraktek, Wendy Levinson, yang menemukan bahwa semua tuntutan malapraktek yang dialami para dokter di Amerika Serikat sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemampuan medis mereka.

Problemnya ternyata simpel: para dokter yang punya masalah dengan pasien rata-rata menghabiskan waktu lebih sedikit untuk mendengarkan keluhan pasien dibanding dokter yang tak pernah diseret ke pengadilan.

Riset ini dilengkapi oleh psikolog Nalini Ambady, yang menemukan bahwa, ketika melakukan diagnosis, dokter yang nada suaranya “dominan dan berjarak” kerap bermasalah dengan pasien.

Sedangkan dokter yang nada suaranya “hangat dan penuh perhatian” cenderung tak pernah dituduh malapraktek, seburuk apa pun resep yang mereka buat.

Pendeknya, kita semua ingin dokter yang ramah, baik budi, dan tidak sombong.

Inilah yang menjadi sumber masalah.

Belakangan ini, sosok dokter sebagai “manusia setengah dewa” kian luntur pamornya.

Kita sekarang cenderung memandang dokter dengan penuh selidik dan curiga.

Soalnya, kita sering terperangah melihat tagihan biaya pemeriksaan kesehatan.

Kita juga makin sering mendengar kabar soal dokter yang seenak perutnya memeriksa pasien.

Banyak cerita soal kerabat yang terpaksa menunggu berjam-jam sambil terbaring kesakitan di ranjang rumah sakit, sedangkan sang dokter entah sedang praktek di mana.

Ketika pelayanan kesehatan kian komersial dan menjadi industri dalam skala raksasa, kita mulai melihat dokter sebagai penjual jasa semata.

Dalam situasi seperti inilah muncul kasus Dokter Ayu di Manado, Sulawesi Utara.

Disadari atau tidak, dia adalah korban dari persepsi buruk publik tentang dokter dan pelayanan kesehatan secara umum.

Keputusan Majelis Etik Kehormatan Dokter yang menilai Dokter Ayu tidak bersalah menjadi tidak relevan lagi.

Semua ingin melihat sang manusia setengah dewa menjadi pesakitan.

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment