Doa

0
16 views

Putu Setia

@mpujayaprema

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 29/11 – 2015 ).

Ilustrasi. Shalat di Pesisir Dermaga Santolo Garut, Jabar.
Ilustrasi. Shalat di Pesisir Dermaga Santolo Garut, Jabar.

Harga kopi anjlok. Belasan petani tirakatan ke lereng gunung dan berdoa mengharapkan harga kopi membaik. Seseorang memimpin doa dan berikut ini petikannya.

Ya Tuhan yang Maha Agung. Telah Engkau turunkan kemarau panjang agar kopi yang kami jemur bisa kering dengan tuntas, meski sahabat kami terkena asap dari hutan yang terbakar. Kami maklum Engkau tak bisa memuaskan semua orang dan itu sudah berlalu.

Kini cobalah Engkau ingatkan pemimpin kami agar tata niaga kopi diperhatikan, tak cuma mengurusi kedelai, beras, apalagi sapi. Di seluruh Nusantara ada kopi dengan beraneka rasa, tapi tak pernah ada yang mempromosikan untuk diekspor.

Ya Tuhan yang Maha Adil. Kopi memang bukan sumber daya alam seperti minyak, tembaga, atau emas. Pemimpin kami sedang berebut rente dari tambang itu, dan dengan tak mengenal malu mereka menjadi makelar dengan mencatut junjungan kami, bapak presiden dan wakil presiden.

Ilustrasi, Profil inspiratif, Kamis (02/10-2014), Garut News mengangkat sosok lelaki berusia 40 tahun asal Kota Amsterdam Belanda.Sejak Januari 2014 mengelola “Kedai Kopi Stephan” pada emperan Kota Garut, Jawa Barat, tepatnya di pinggiran Jalan A.Yani.Stephan Rosenmuller, ayah tiga anak beristrikan penduduk Garut, dan kini berdomisili di Samarang Garut tersebut, mengaku “tak merasa turun gengsi” mengelola kedai kopi di pinggiran jalan. Yang penting berpenghasilan tak di bawah “Upah Minimum Kabupaten” (UMK) Setempat.
Ilustrasi, Profil inspiratif, Kamis (02/10-2014), Garut News mengangkat sosok lelaki berusia 40 tahun asal Kota Amsterdam Belanda.Sejak Januari 2014 mengelola “Kedai Kopi Stephan” pada emperan Kota Garut, Jawa Barat, tepatnya di pinggiran Jalan A.Yani.Stephan Rosenmuller, ayah tiga anak beristrikan penduduk Garut, dan kini berdomisili di Samarang Garut tersebut, mengaku “tak merasa turun gengsi” mengelola kedai kopi di pinggiran jalan. Yang penting berpenghasilan tak di bawah “Upah Minimum Kabupaten” (UMK) Setempat.

Yang aneh serta ajaib, sang pencatut menyebut dirinya dizalimi dan pendukungnya ternyata tetap setia. Bukannya mundur atau bunuh diri, ah, yang terakhir ini kami salah ucap, maafkan. Memang ada majelis etika yang mengusut, tapi kami ragukan mahkamah itu. Sudah terbukti sebelumnya mahkamah tak berdaya terhadap sang pencatut, dipanggil saja tidak mau datang.

Ya Tuhan yang Maha Bijak. Berbagai cobaan telah Engkau turunkan agar negeri kami makin semrawut. Engkau turunkan menteri-menteri yang selalu suka cekcok sesama menteri. Engkau turunkan menteri yang berkali-kali ditegur presiden agar tak membuat gaduh tapi tak pernah diperhatikan. Engkau turunkan menteri yang pernyataannya berbeda dengan arahan presiden.

Ya Tuhan, sudahilah cobaan ini. Jika menteri itu tak mau menurut, Engkau singkirkan dia dengan berjuta jalan. Atau Engkau berikan kekuatan kepada presiden kami untuk menggantinya, kapan saja, lebih cepat lebih baik.

Ya Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan kekuasaan-Mu, cobalah kami diberi kabar baik tentang parlemen kami. Sudah kami obok-obok semua media, dari yang tak ada gambarnya sampai yang gambarnya ngejreng, tak ada satu pun kabar baik dari parlemen kami.

Memaksa membuat gedung, barter anggaran, minta fasilitas berlebihan tetapi jika rapat tak pernah kuorum. Bukannya kami tak mau lagi menggaji mereka, tetapi ego dan sok kuasanya itu membuat kami geleng kepala. Sudah disediakan nama-nama yang tinggal dipilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, ternyata panitia seleksi dikerjain.

Kayaknya mereka tetap ingin melumpuhkan Komisi, maunya menentukan sendiri dari awal siapa yang memimpin Komisi, agar bisa diajak bermain. Duh, Tuhan, kami sungguh malu.

Ya Tuhan, penguasa alam. Urusan malu sudah langka di negeri yang pernah mewarisi budaya luhur ini. Pemimpin kami tak malu berebut rente, saling menyalahkan, bikin gaduh, tak kapok korupsi padahal koleganya banyak yang sudah dipenjara.

Kini nirmalu, maaf kalau kata ini salah, menular ke kader-kader bangsa, kepada mahasiswa. Kongres mahasiswa di Pekanbaru membuat kami malu benar, ratusan orang berbelanja di warung tanpa membayar, rombongan mahasiswa membawa senjata tajam.

Ini mahasiswa berkongres atau preman unjuk gigi? Padahal kelompok mahasiswa itu berlabelkan agama yang penuh kedamaian. Ya Tuhan, dengarkan doa kami, cukuplah cobaan ini.

Usai melantunkan doa, petani itu menoleh ke belakang. Ternyata teman-temannya pada tidur, hanya satu yang terjaga. Dan yang melek itu berkata, “Doa sampeyan persis pemimpin yang sampeyan kritik, tak ada yang bersinggungan dengan nasib rakyat.”

********

Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here