UPTD Pasar Ciawitali Guntur : DIRGAHAYU LXXI PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI

0
70 views

a5PLT Kepala Pasar Guntur Ciawitali Garut, Ahmad Wahyudin, SE Bersama Keluarga, Juga Keluarga Besar Jajaran UPTD Pasar Guntur Ciawitali.

Mengucapkan : Dirgahayu LXXI Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2016.

“Mengajak kita berpikir, dan menyadari arti kemerdekaan tak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk sesama rakyat di seluruh Indonesia”.

PLT Kepala UPTD Pasar itu, mengemukakan pula setiap seluruh proses transaksi jaul beli pada pasar tradisional atawa Pasar Rakyat Guntur Ciawitali Garut ini pun, merupakan cerminan budaya asli daerah setempat, memiliki siklus profesi saling bergantung, di antaranya terdapat kalangan petani dengan ragam produknya pada pasar rakyat.

Akhmad Wahyudin, SE
Akhmad Wahyudin, SE

Demikian pula kalangan peternak, nelayan, pedagang, kuli pikul, tukang sayur-mayur, termasuk kalangan pengamen, lembaga perbankan, para pengemudi angkutan penumpang umum, dan lain sebagainya. Serta penarik becak serta kusir delman.

Padahal keunggulan pasar rakyat di antaranya, memiliki interaksi sosial sangat kuat, dengan murahnya harga jual beragam komoditi.Sehingga bisa dibayangkan, jika pasar tradisional menghilang. Berapa banyak penduduk bakal kehilangan pekerjaan?.

Malahan senantiasa memanusiakan manusia, kalangan konsumen pun bisa unjuk kepiawaiannya dalam seni tawar menawar, yang dipastikan tak ditemukan pada pasar-pasar modern.

Maka guna meningkatkan pertumbuhan pasar rakyat tersebut, antara lain secara terus-menerus, terukur , serta terencana menyelengarakan pembinaan. Agar senantiasa mengupayakan bisa ditingkatkannya jasa layanan masyarakat pasar kepada kalangan konsumen mereka.

Meski ungkapnya, secara masif para pelaku pasar tradisional diadvokasi berupaya mengimbangi pasar modern. Supaya keduanya bisa tumbuh, dan berkembang seimbang.Selain itu, tentunya diperlukan dukungan sarana-prasarana yang memadai, imbuh Wahyudin.

Karena itu, meski wujudnya pasar tradisional, tetapi manajemennya kudu modern, beber Akhmad Wahyudin, antara lain menambahkan.

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here