Dinsosnakertrans Garut Kini “Galau” Tangani Kemelut Naishoku

0
199 views

Garut News ( Ahad, 21/06 – 2015 ).

Para Pencari Kerja Daftarkan Diri, Senin (26/01-2015). Foto : John Doddy Hidayat.
Para Pencari Kerja Daftarkan Diri, Senin (26/01-2015). Foto : John Doddy Hidayat.

Sampai sekarang Pemkab Garut kebingungan atawa “galau” menangani kasus PT Naishoku Indonesia di Desa Cangkuang Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. 

Lantaran mendadak sontak menghentikan operasinya, bahkan memberhentikan seluruh karyawannya.

Padahal perusahaan memproduksi windows treatment tersebut, masih memiliki tunggakan pembayaran upah karyawan bernilai total Rp1,3 miliar.

Menyusul penyitaan aset juga sulit dilakukan, sebab ternyata keberadaannya di Cangkuang hanya menyewa tempat pada perusahaan lain, yakni PT Toso Industry Indonesia.

“Kita juga bingung. Tapi kita bicarakan lagi masalah ini. Yang jelas, kita konsultasi dengan Kementerian Tenaga Kerja. Kita tunggu sampai 6 Juli mendatang karena dia janji mau bayar gaji karyawan pada tanggal itu,” ungkap Kepala Dinsosnakertrans Elka Nurhakimah, Ahad (21/06-2015).

Dia juga mengaku kaget dan bingung munculnya kasus ini. Pihaknya sama sekali tak mengetahui kehadiran perusahaan tersebut. Termasuk perekrutan karyawan maupun peresmian pembukaannya. Apalagi belakangan diketahui perusahaan itu tak memiliki kelengkapan perizinan, katanya.

Elka menyatakan pula sangat kecewa dengan perusahaan tak bonafit itu. Baru beroperasi beberapa bulan namun tak mampu membayar gaji karyawan. Sebagian karyawan malahan dibayarkan gajinya dengan dicicil.

“Akhir bulan lalu, perusahaan ini membayar karyawan hanya Rp100 ribu, lalu Rp300 ribu. Saat ini, perusahaan masih menunggak sekitar Rp1,3 miliar pada karyawan,” kata Nurhakimah.

Disinggung peresmian perusahaan dilakukan Bupati Rudy Gunawan dengan acara cukup meriah, Elka berdalih hal itu kemungkinan Rudy tak mengetahui jika perizinannya bermasalah, kata dia.

“Mungkin dikira dengan kita clear. Soalnya, diresmikan itu kan PT Toso, bukan PT Naishoku. Jadi, perusahaan itu asetnya milik PT Toso Industry Indonesia, namun di sana ada PT Naishoku Indonesia,” ungkap Elka, berkilah.

Dikemukakan, di sana pun bergabung sekitar tujuh perusahaan lain di luar PT Naishoku. “Kita juga bingung, kenapa bisa begitu,” papar Elka.

********

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here