Distan Garut Gencar Agendakan Penanganan Kekeringan Kedepan

0
16 views
Haeruman.
Endang Junaedi.

“Guna Selamatkan 22.996 Hektare Padi Sawah”

Garut News ( Rabu, 11/09 – 2019 ).

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Haeruman katakan institusinya kini gencar mengagendakan penanganan kekeringan ke depan maupun yang bisa kembali terjadi pada tahun-tahun mendatang.

Sehingga belum lama ini pun, Kepala Dinas Pertanian setempat Beni Yoga langsung turun gunung berkeliling mencari potensi sumber-sumber air yang bisa dikemas menjadi ’embung’, juga lokasi yang mendesak dibangun sumur artesis di Kecamatan Cibatu.

Dampak Kekeringan di Garut.

“Sedangkan potensi sumber air yang berhasil ditemukan, antara lain di Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Malangbong, dan Kecamatan Pakenjeng,” ungkap Haeruman didampingi Kepala Seksi Serealia Bidang Tanaman Pangan, Endang Junaedi.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Rabu (11/09-2019), Haeruman juga mengemukakan pemanfaatan potensi sumur artesis bisa sekaligus memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, yang pengelolaannya oleh ‘Badan Usaha Milik Desa’ (Bumdes).

Penanggulangan jangka panjangnya, dengan menggalakan kegiatan penghijauan terutama pada lahan kritis, lantaran berkisar 80 hingga 85 persen wilayah kabupaten ini merupakan kawasan hutan lindung.

“Sehingga kedepannya 22.996 hektare pertanaman padi yang saat ini pada lahan sawah bisa diselamatkan dari dampak kekeringan akibat kemarau panjang sekalipun,” katanya.

Ragam upaya penanganan dampak kekeringan senantiasa pula dilakukan, termasuk hari ini pun Kepala Dinas Pertanian mengikuti ‘Focus Group Discussion’ (FGD) bersama Bupati dan instansi teknis lainnya membahas dampak kekeringan.

“2.650 hektare padi sawah terancam kekeringan”

Endang Junaedi menjelaskan dari 2.650 hektare tanaman padi sawah yang terancam kekeringan usianya bervariasi, dipastikan selama dua pekan terakhir diranggas kekeringan bisa mengalami rusak ringan, sedang, berat, bahkan puso.

Namun masih belum bisa diprediksi intensitas kerusakannya, termasuk nilai kehilangan penghasilan petani, kata dia.

Meski demikian ada kebijakan melalui sumber dana APBD, menyiapkan 69 ton benih padi untuk membantu petani terdampak kekeringan, yang bisa dimanfaatkan memenuhi kebutuhan 6.400 hektare sawah.

“Masing-masing varietas Inpari 43 yang tahan terhadap hama wereng coklat, serta Inpari 30 yang dominan tahan terhadap terjangan kekeringan,” katanya pula.

Sebanyak 69.000 kilogram benih padi tersebut bernilai Rp960 juta terdiri bersumber dari dana APBD Murni Rp190 juta, dan APBD Perubahan 2019 ini Rp500 juta.

Kemudian juga terdapat Brigade Pestisida untuk memberantas dan mengendalikan hama penyakit tanaman, sekaligus mengantisipasi mewabahnya secara ekplosif hama penyakit dengan pasokan alokasi dana Rp250 juta.

Masing-masing bersumber APBD Murni 2019 Rp80 Juta, serta APBD Perubahannya Rp170 juta, menunjukan besarnya perhatian Bupati beserta Pimpinan Dinas Pertanian Garut dalam penanganan dampak kekeringan, ungkap Endang Junaedi.

“Bantuan Kepada Petani Hanya Secuil”

Didesak pertanyaan Garut News, bantuan kepada petani terdampak kekeringan kemarau panjang tersebut, hanya bernilai ‘secuil’ atau tak berbanding lurus dengan kehilangan penghasilan petani sampai 28 Agustus 2019 lalu mencapai Rp80.399.334.675 hingga Rp120.977.233.675,-

Endang Junaedi mengemukakan, kemampuan keuangan daerah terbatas. Meski dimaklumi setiap hektare penanaman padi sawah memerlukan ongkos berkisar Rp7 juta hingga Rp8 juta.

Kembali didesak pertanyaan Garut News, masih adakah hati nurani Pemkab Garut untuk memberi bantuan kepada petani terdampak kekeringan, yang nilainya tak terlalu jauh dengan nilai kehilangan penghasilan para petani.

Endang Junaedi pun kembali katakan, maksud memberi bantuan bernilai lebih besar. Namun kemampuan saat ini masih terbatas, katanya berdiplomasi bergaya menteri di era milenial.

Dia sependapat antisipasi kekeringan harus sedini mungkin, ketika menjawab pertanyaan Garut News mengenai penanganan dampak kekeringan selama ini termasuk kebijakan Bupati masih mengesankan ‘tabrak lari’.

Maupun kebakaran jenggot ketika peristiwanya sedang terjadi, padahal sejak beberapa tahun silam kasus serupa kerap terjadi.

Pada bagian lain keterangannya Endang Junaedi memaparkan ragam sentuhan teknologi kerap digelindingkan pemerintah, seperti pada Program Salibu maupun Legowo, namun kelanjutannya tergantung kepada para petani itu sendiri.

“Kehilangan Penghasilan Petani Sebabkan Rawan Daya Beli”

Sebelumnya Garut News memberitakan, kerugian ekonomi petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, akibat kekeringan pada komoditas padi sawah, kedelai, dan komoditas jagung hingga 28 Agustus 2019 mencapai Rp120.977.233.675,-

Laporan Koordinator “Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan” (POPT) di kabupaten setempat menunjukan, jenis tanaman padi sawah diterjang kekeringan akibat kemarau panjang mencapai 2.971 hektare. Seluas 1.679 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso.

Sedangkan diranggas rusak berat 621 hektare, rusak sedang 377 hektare, serta rusak ringan 294 hektare, kemudian yang terancam 2.650 hektare. Total kerugiannya Rp80.399.334.675, dengan asumsi harga GKG Rp5.500 per kilogram dan produktivitas padi 5.921 kilogram per hektare.

Kekeringan tersebut melanda 280 desa pada 41 wilayah kecamatan, milik 118.840 ‘kepala keluarga’ (KK) petani dengan asumsi setiap hektare dimiliki 40 petani termasuk didominasi petani gurem.

Mereka menghidupi 475.360 anggota keluarga juga dengan asumsi setiap KK petani bertotal empat anggota keluarga, yang kini mereka berkondisi “kehilangan penghasilan, sehingga rawan daya beli”.

Kemudian kekeringan juga meranggas 1.602 hektare jenis tanaman jagung pada 53 desa, 1.196 hektare di antaranya gagal panen, dan 367 hektare terancam. Total kerugiannya Rp37.281.788.000 dengan asumsi harga PK Rp3.500 per kilogram, dan produktivitas jagung 7.558 kilogram per hektar.

Masing-masing tersebar di Kecamatan Pakenjeng, Karangpawitan, Wanaraja, Sucinaraja, Pangatikan, Sukawening, Karangtengah, Banyuresmi, Cibiuk, Selaawi, dan Kecamatan Malangbong.

Disusul kekeringan menerjang pula 313 hektare tanaman kedelai pada 14 desa di tujuh kecamatan, dengan 312 hektare gagal panen, dan satu hektare rusak ringan. Total kerugiannya Rp3.296.111.000 dengan asumsi harga BK Rp7.000 per kilogram dan produktivitas kedelai 1.508 kilogram per hektare.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here