Dikotomi Teknologi Kampung dan Kampus

0
51 views

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Garut News ( Senin, 21/03 – 2016 ).

Teknologi sidik jari dan sistem andori yang diaplikasikan pada sepeda motor, hasil karya siswa SMK Negeri 8 Bandung. ( Ghulam/Otomania ).
Teknologi sidik jari dan sistem andori yang diaplikasikan pada sepeda motor, hasil karya siswa SMK Negeri 8 Bandung. ( Ghulam/Otomania ).

Rhenald Kasali mengunjungi montir hebat, yang membuat alat hebat. Karena ia tak paham teknologi, ia minta nasihat pada yang paham, ahli fisika dan ahli kimia.

Sayangnya para ahli itu memberi penilaian yang tak sesuai harapan Rhenald. Mereka menyangsikan produk teknologi. Padahal menurut Rhenald produk teknologi ini unik, dan bisa mengubah dunia.

Ia kemudian mendatangi pengusaha serta Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang untungnya mau membantu pengembangan teknologi tadi. Rhenald kemudian memaparkan kekecewaannya terhadap pihak kampus.

Hasanudin Abdurakhman,Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.
Hasanudin Abdurakhman,Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

Menurut pengalamannya, orang-orang kampus cenderung arogan. Mereka skeptis terhadap berbagai jenis teknologi kampung. Mereka hanya mau peduli pada teknologi keren, hasil kerja mereka sendiri.

Mereka hanya peduli pada kerja-kerja untuk menghasilkan publikasi di jurnal ilmiah, bukan membangun teknologi. Sebagian dari mereka bahkan hanya mengerjakan penelitian untuk menambah penghasilan belaka.

Itulah sebabnya, meski sadar diri tidak paham teknologi, Rhenald tidak mendengar nasihat para ahli yang ia mintai pendapat soal teknologi yang dihasilkan montir tadi.

Ia lebih percaya pada pandangannya sendiri, yang nota bene bukan ahli dalam teknologi, bahwa produk yang ia lihat akan mengubah dunia.

Kenyataan di Kampus

Kenyataan di kampus sebenarnya tidak seragam. Penggambaran yang dilakukan oleh Rhenald menurut saya agak serampangan, sehingga hasilnya adalah dikotomi antara kampus dan kampung yang dilakukan secara provokatif, sehingga membuat pembaca memandang sinis pada dunia kampus.

Agar lebih jelas, akan saya paparkan secara ringkas sudut pandang saya tentang kenyataan di kampus. Para peneliti di kampus kita, termasuk juga para peneliti di lembaga non-kampus seperti LIPI, BPPT dan lain-lain, umumnya adalah (maaf) peneliti abal-abal.

Seperti yang digambarkan Rhenald, mereka hanya meneliti untuk keperluan menambah penghasilan dan nilai kum untuk kenaikan pangkat. Tema dan metode penelitiannya sering kali membuat yang paham soal riset akan mengerutkan kening.

Tak jarang penelitian mereka adalah plagiat, atau reproduksi penelitian orang lain yang dilakukan secara serampangan. Publikasi mereka juga di jurnal abal-abal.

Sebenarnya di luar golongan itu ada sejumlah peneliti kita yang melakukan riset serius. Kalau kita mau menelusuri database publikasi ilmiah seperti SCORPUS atau Google Scholar, kita akan dengan mudah menemukan riset-riset mereka yang menjadi acuan peneliti lain secara internasional.

Kok publikasi ilmiah lagi? Mana produk teknologinya? Bukankah yang diinginkan Rhenald adalah produk teknologi?

*********

Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here