Diketemukan Kematian Akibat Cakupan Imunisasi Masih Kurang

0
18 views
Teni Sewara Rifai.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Senin, 06/08 – 2017 ).

Teni Sewara Rifai.
Teni Sewara Rifai.

Meski selama ini manfaat imunisasi dasar lengkap kerap gencar disosialisasikan Pemerintah, tetapi di Kabupaten Garut ternyata masih diketemukan kasus kematian anak yang sangat diduga kuat akibat kasus Penyakit, yang sebenarnya bisa Dicegah Dengan Immunisasi (PD3I).

Patut diduga kuat hal tersebut terjadi salah satunya akibat cakupan imunisasi dasar lengkap di kalangan anak dan ibu hamil masih kurang.

Termasuk PD3I antara lain difteri, pertusi, tetanus, tuberculosis, campak, poliomyelitis, hepatitis A, hepatitis B, dan cacar air.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten setempat, menunjukan selama rentang waktu 2016 hingga Mei 2017, terdapat 12 kasus difteri dengan tiga kasus di antaranya meninggal dunia. Kemudian pada rentang waktu Januari-Mei 2017 ada tujuh kasus difteri bahkan satu di antaranya meninggal dunia.

Pada 2016 juga tercatat105 kasus campak dengan satu kasus di antaranya meninggal dunia, serta dua kasus campak dengan satu di antaranya meninggal dunia.

“Dulu ada kesalahan dalam imunisasi karena ada sejumlah oknum petugas tak jujur. Sehingga imunisasi/vaksinasi diberikan tak lengkap. Misalnya terkait difteri. Mestinya seorang anak itu diimunisasi difteri tiga kali, namun faktanya masih tak lengkap,” kata Kepala Dinkes Garut Tenni Sewara Rifa’I didampingi Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Janna Markus pada Pertemuan Orientasi Strategi Komunikasi Imunisasi Perwakilan Lintas Sektor di Cipanas Garut beberapa waktu lalu.

Tenni katakan, difteri mesti diwaspadai karena menular ke orang sekitar. Sehingga jika ada terkena difteri maka sebaiknya orang sekitarnya mesti diperiksa kemungkinan tertular penyakit disebabkan bakteri corynebacterium diphtheriae ini.

Seperti terjadi di Sukaresmi. Di sana ada seorang anak diketahui terserang difteri, ternyata bawaan dari ibunya. Sehingga pencegahan penularan maka sang ibu pun harus diperiksa apus tenggorokannya.

Kewaspadaan juga mesti ditingkatkan menyangkut penularan campak dan rubella. Terlebih kedua penyakit tersebut memiliki gejala nyaris sama. Antara lain penderita mengalami batuk, pilek, dan bintik kemerahan.

“Campak dan rubella gejalanya nyaris sama. Dari 324 kasus campak, 26 penyebabnya rubella. Jika ibu hamil terkena penyakit ini maka bayinya bisa ada kelainan bahkan sampai menyebabkan kematian,” ingat Tenni.

Karen itu, dia mengingatkan masyarakat agar melakukan imunisasi dasar terhadap bayi/anak secara lengkap. Bukan hanya diimunisasi campak dan rubella pada masa kampanye pelaksanaan imunisasi campak dan rubella sepanjang Agustus-September 2017 sekarang.

Secara umum, sasaran immunisasi di Kabupaten Garut saat ini tercatat mencapai 280373 orang. Mereka terdiri 56.843 anak usia 0-15 tahun, 62.514 ibu hamil, 53.895 anak usia SD kelas 1, 53.152 anak SD kelas 2, dan 53.969 anak SD kelas 3.

*********

(NZ).