Di Bundaran Simpang Lima Ada Museum R.A.A Adiwidjaja

0
566 views
Di Bundaran Simpang Lima Ada Museum R.A.A Adiwidjaja.
Di Bundaran Simpang Lima Ada Museum R.A.A Adiwidjaja.

“Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Garut, H. Darsani Bersama Seluruh Jajaran Menyampaikan  “Dirgahayu Hari Jadi ke-202 Garut (16 Pebruari 1813 – 16 Pebruari 2015), Optimis Dipastikan Bisa Maju dan Berkembang” 

“Museum tak hanya ruang pamer, dan gudang penyimpanan. Melainkan bisa dijadikan laboratorium, termasuk audio visual, diorama, perpustakaan, kantor, sarana peneliti, dan toko suvenir”

Garut News ( Sabtu, 28/03 – 2015 ).

Kepala “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata” (Disbudpar) Kabupaten Garut, Drs Mlenik Maumeriadi menyatakan meski dengan kondisi yang terbatas.

Mlenik Maumeriadi.
Mlenik Maumeriadi.

Tetapi Pemkab dalam hal ini Disbudpar kabupaten setempat, senantiasa berupaya serius mengembangkan museum.

Guna meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat, juga menggali potensi sumber “pendapatan Asli Daerah” (PAD) baru, ungkap Mlenik Maumeriadi.

Dalam pada itu, Esais Bandung Mawardi, pada tulisannya di Tempo.co antara lain mengemukakan Museum mengemban misi pengawetan sejarah dan memori ketokohan.

Inilah Para Pengelola Museum R.A.A Adiwidjaja.
Inilah Para Pengelola Museum R.A.A Adiwidjaja.

Ratusan tahun silam, Belanda mendirikan dan mengenalkan museum ke mata pribumi.

Pendirian Bataviaasch Genootschap (1778) menjadi pembuktian awal kebermaknaan museum bagi ilmu, kolonialisme, dan identitas “Barat”.

Museum berisi koleksi arkeologis, mata uang, dan naskah.

Kesejarahan Bataviaasch Genootschap melaju di perlintasan waktu, berubah nama menjadi Museum Nasional (Lombard, 1996).

Kita mewarisi gagasan dan materialisasi museum.

Aan Heryana.
Aan Heryana.

Di Solo, 28 Oktober 1890, berdirilah museum bernama Radya Pustaka, menghimpun koleksi naskah dan buku.

Museum menjadi rumah literasi.

Koleksi beragam tema mengajak kaum intelektual, pujangga, pejabat, dan publik belajar tentang sastra, etika, agama, seni, politik, makanan, serta pakaian.

Museum di Indonesia memiliki sejarah ratusan tahun.

Koleksi Foto Garoet Tempo Doeloe.
Koleksi Foto Garoet Tempo Doeloe.

Kesadaran mengartikan museum berlatar nasionalisme diwujudkan dalam Musjawarah Museum di Yogyakarta, 11-14 Oktober 1962.

Prijono menerangkan: “… maka di tanah air kita adanja atau akan didirikan museum-museum nasional dalam berbagai-bagai lapangan, istimewa dalam lapangan arkeologi dan perdjoangan/pembangunan nasional kita akan membuka mata rakjat kita akan kemampuan-kemampuan bangsa kita di zaman dulu, dan kesanggupan-kesanggupam bangsa kita di zaman sekarang dan di zaman akan datang.”

Peta Garoet Tempo Doeloe, yang Aslinya Terdapat di Belanda.
Peta Garoet Tempo Doeloe, yang Aslinya Terdapat di Belanda.

Keterangan itu bergelimang optimisme.

Kita perlahan membuka ingatan kebermaknaan museum pada masa Orde Lama segera berganti imajinasi politik-militeristik oleh rezim Soeharto.

Museum digunakan sebagai referensi imajinasi sejarah bagi publik sesuai dengan petunjuk dan obsesi penguasa.

Asrul Sani dalam cerpen berjudul Museum (1956) menganggap: “Museum adalah suatu balai jang gandjil. Ia berisi benda-benda jang djika dilihat dari katja mata kita, orang jang hidup ini, benda-benda itu seolah-olah ada karena suatu salah sangka.”

Mesin Penggilingan Padi Zaman Baheula.
Mesin Penggilingan Padi Zaman Baheula.

Taufiq Ismail dalam puisi berjudul Buku Tamu Museum Perjuangan (1964) memberi deskripsi ironis: “museum jang lengang”, “dalam museum ini jang lengang”, “ruangan jang sepi”.

Kepala UPTD Museum R.A.A Adiwidjaya, Aan Heryana, S.SOS, MM katakan, semula merencanakan bedah naskah kuno, namun batal lantaran tak mendapatkan alokasi APBD 2015 yang diusulkan Rp200 juta, padahal diagendakan mengundang pakar sejarah dari UNPAD.

Koleksi Museum R.A.A Adiwidjaya.
Koleksi Museum R.A.A Adiwidjaya.

Usulan anggaran juga guna menambah koleksi barang-barang kuno, namun meski demikian tetap komitmen mengembangkan museum ini, katanya.

Sehingga bakal segera disediakan sarana pemutaran film dokumenter Garoet Tempo Doeloe, juga bakal dilengkapi museum batu akik dilengkapi proses pengadaan seerra pembuatan hingga siap pakai.

Aan Heryana bersama tiga staf museum, juga mengelola sedikitnya 1.013 foto Garoet Tempo Doeloe, serta peta Garoet Tempo Doeloe produk 1928, yang aslinya masih terdapat di Belanda.

*******

Fotografer : John Doddy Hidayat.