Deddy Mizwar dan Politik Kepentingan PKS

0
60 views
Abdullah Sammy.

Kamis , 28 December 2017, 05:41 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy, wartawan Republika

Abdullah Sammy.

Politik itu dinamis. Begitu yang dikatakan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai mengumumkan koalisi dalam Pilkada Jawa Barat (Jabar) bersama PAN dan Gerindra. PKS memutuskan mendepak Deddy Mizwar yang awalnya sudah mereka jodohkan dengan Ahmad Syaikhu.

Sebagai gantinya, PKS memilih mengawinkan Syaikhu dengan Sudrajat yang diusung Gerindra. Sontak, manuver PKS menjadi kejutan tersendiri jelang Pilkada Jabar 2018.

Sebab Deddy Mizwar yang awalnya merupakan calon kuat dalam Pilkada Jabar kini terpental. Sebagai gantinya, Sudrajat yang namanya masih jarang terdengar, coba dimajukan sebagai penantang kursi Jawa Barat satu.

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa Deddy Mizwar diceraikan PKS. Apakah ini adalah soal kinerja atau sekadar pertimbangan politik semata?

Kalau melihat dari pertimbangan kinerja, pilihan teraman PKS adalah Deddy Mizwar. Sebab dia adalah wakil gubernur dari Ahmad Heryawan selama lima tahun terakhir. Itu artinya, dialah yang paling mungkin mempertahankan program gubernur terdahulu tanpa perlu banyak adaptasi.

Sejauh ini juga tak terdengar perbedaan visi antara Aher dan Deddy Mizwar. Keduanya tampak harmonis dalam memimpin Jabar. Jadi secara kinerja, tak ada alasan bagi PKS sejatinya untuk menceraikan Deddy Mizwar.

Pertimbangan politik lebih kental muatannya bagi PKS saat mendepak Deddy Mizwar. Sisi politik di balik dibuangnya Deddy Mizwar oleh PKS juga tampak dari kronologi peristiwa yang melatarbelakanginya.

Awalnya PKS bersama PAN tetap konsisten mempertahankan Deddy sekalipun yang bersangkutan memilih menjadi kader Demokrat. Sampai detik itu, belum ada tanda-tanda perubahan cuaca.

Tapi semua cuaca politik mulai berubah kala Gerindra mendeklarasikan majunya Sudrajat sebagai calon gubernur. Perubahan cuaca mulai tampak ketika Prabowo menyambangi elite PKS dan PAN, pekan ini.

Turun gunungnya Prabowo menjadi titik vital perubahan peta politik ini. Lepas dari pertemuan itulah kesepakatan koalisi PAN-PKS-Gerindra ditetapkan. Tak hanya di Jawa Barat, melainkan mayoritas Pilkada serentak 2018 dan menuju 2019.

Lepas itulah, Deddy Mizwar langsung dicerai dan digantikan Sudrajat. Jadilah Ahmad Syaikhu ‘kawin’ dua kali. Sebab sebelumnya, dia dipasangkan dengan Deddy Mizwar walau statusnya kala itu masih ‘kawin siri’. Dan kini bersama Sudrajat, status Syaikhu ‘kawin resmi’ karena sudah mengantongi surat rekomendasi.

Manuver, Gerindra, PKS, dan PAN ini sontak mengobarkan tensi politik. Kejutan dan perubahan dinamika politik tercipta dalam hitungan detik.

Di sisi lain, manuver Gerindra lewat sang ketua umum, Prabowo Subianto mampu membuyarkan strategi yang sudah dirancang Partai Demokrat selaku pengusung Deddy Mizwar. Dibuangnya Deddy Mizwar menyebabkan efek ganda. Selain memastikan tersajinya tiket bagi Sudjarat, manuver Prabowo di Jabar membuka ‘rivalitas baru rasa lama’ dalam kontestasi politik nasional.

Rivalitas itu adalah antara Prabowo vs Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sejatinya sejak Pilpres 2014, benih rivalitas itu sudah terbaca dengan langkah SBY yang memilih nonblok.

Kemudian di Pilkada DKI saat SBY membentuk poros sendiri. Tapi, yang terjadi di Jabar adalah deklarasi rivalitas terbuka Prabowo vs SBY.

Tapi bagi PKS sendiri memilih Sudrajat ketimbang Deddy Mizwar meninggalkan risiko tersendiri. Sebab kini PKS harus berjuang keras mengerek elektabilitas Sudrajat yang belum dikenal publik.

Berbicara soal ide dan konsep kepemimpinan, belum banyak yang diketahui publik akan Sudrajat. Sejauh ini, konsep yang tercium dari duet ini hanya memanfaatkan sentimen terkait Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017. Karena itu nama koalisinya, koalisi reuni.

Sentimen kemenangan di Pilkada DKI kemudian coba digiring ke Jabar bahkan jangka panjangnya untuk Pilpres 2019. Visi politik jangka panjang PKS-PAN-Gerindra pada akhirnya yang membuat Deddy Mizwar dicampakkan hanya dalam hitungan jam. Sebab koalisi ini bukan berhenti pada pilihan Deddy Mizwar atau Sudrajat melainkan Prabowo atau SBY.

PKS pun akhirnya memilih Prabowo walau dengan bayaran mengkhianati Deddy Mizwar. Padahal tiga jam sebelum pengumuman duet Sudrajat-Syaikhu, Deddy Mizwar masih yakin kalau PKS dan PAN masih setia.

Tapi begitulah politik yang seperti sejak awal disinggung Sohibul Iman begitu dinamis. Saking dinamisnya hingga kawan pun bisa ditendang begitu saja. Sebab memang nyatanya yang abadi dalam politik bukanlah kawan atau lawan, melainkan kepentingan.

*********

Republika.co.id