Dara Puspita yang Terlupakan

0
11 views

Denny Sakrie,
Pengamat Musik

Garut News ( Rabu, 08/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Dara Puspita. (Ist).
Ilustrasi. Dara Puspita. (Ist).

Sebuah stasiun televisi Indonesia pernah menampik untuk menghadirkan kisah Dara Puspita, band wanita pertama Indonesia asal Surabaya di era 1960-an, dengan alasan mereka sekarang tak dikenal.

Tentu ini sangat bertolak belakang dengan antusiasme sebagian orang Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Jepang, Portugal, dan Australia yang sangat mengenal Dara Puspita, yang terdiri atas Lies AR (gitar, vokal), Titiek AR (gitar, vokal), Titiek Hamzah (bass, vokal) dan Susy Nander (drum).

Kolumnis Sara Schondhardt di  The Wall Street Journal edisi 25 September 2014  menulis tentang Dara Puspita dengan tajuk “Indonesia’s First All-Girl Rock Band Still Has The Power To Captive”, yang antara lain menyebut bahwa Dara Puspita bisa disejajarkan dengan Pussy Riot, band punk wanita Rusia yang menawarkan aura feminisme.

Dara Puspita, seperti halnya Koes Bersaudara, juga sempat dicekal oleh rezim Orde Lama Bung Karno yang saat itu bersemangat menggempur budaya Barat dengan idiom ngak-ngik-ngok.

Antara paruh era 1960-an hingga awal 1970-an, sosok Dara Puspita memang kerap menjadi perbincangan khalayak.

Majalah Tempo edisi 9 Januari 1972 menjadikan Dara Puspita sebagai sampul depan dan menulis panjang lebar tentang Dara Puspita yang baru saja kembali dari mancanegara selama tiga tahun.

“Mereka hanya pemain musik, mereka bukan pencipta, mereka tidak memperjuangkan sesuatu yang khusus.”

Pendapat yang ditulis Putu Wijaya itu ada benarnya. Tapi kehadiran Dara Puspita sebagai band wanita yang berbalur rock n roll di tengah-tengah rezim yang mengharamkan budaya Barat sudah pasti sebuah fenomena menarik, setidaknya bagi orang-orang Barat.

Di mata mereka, Dara Puspita adalah sebuah keajaiban dari negara di dunia ketiga yang mulai bangkit. Ketakjuban mereka terlihat jelas ketika selama seminggu dari  1 hingga 6 Oktober kemarin di Casa Luna Ubud Bali berlangsung pameran dengan tajuk Dara Puspita: The Greatest Girl Group That (N)ever Was yang digagas oleh Julien Poulson, orang Australia yang bermukim di Phnom Penh, Kamboja.

Terbetik pula berita bahwa Groovie Record, sebuah perusahaan rekaman (label) asal Portugal, merilis album kompilasi hit Dara Puspita dalam format vinil secara ilegal.

Empat tahun sebelumnya, Alan Bishop dari Sublime Frequencies di Seattle, AS, merilis ulang secara resmi kumpulan hit Dara Puspita (1966 -1968).

Album yang berisikan 26 lagu itu bahkan masuk dalam 25 Favorite World Compilations of 2010 yang dipilih situs musik All Music Guide.

Di Australia sendiri muncul sebuah tribute band yang khusus membawakan repertoar Dara Puspita. Band yang bernama 45 ini beberapa waktu lalu menggelar konser di Jakarta.

Fakta-fakta ini jelas menunjukkan bahwa Dara Puspita merupakan salah satu pilar bersejarah dalam konstelasi musik populer di Indonesia.

Dari ragam musik yang mereka mainkan, dari ekspresi bermusik serta fashion yang mereka kenakan, menyiratkan bahwa Dara Puspita bersikap  seperti halnya kredo pemusik rock n roll: anti-kemapanan.

Sayangnya, sekarang ini penikmat musik yang mengenal Dara Puspita bisa dihitung dengan jari. Ironis.

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

SHARE
Previous articleOlahraga Terpimpin
Next articleTNI yang Mandiri