Danton

0
6 views

Garut News ( Ahad, 05/04 – 2015 ).

Ilustrasi. Nelayan Miskin. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Nelayan Miskin. (Foto : John Doddy Hidayat).

Betapa meletihkannya politik. Terutama bagi mereka yang tak bisa bertahan dalam antagonisme. Menjelang sore 5 April 1794, di Paris, seorang tokoh revolusi yang kalah dalam pertarungan digiring untuk dihabisi guillotine.

Dalam perjalanan ke pemancungan ia berkata, “Ah, lebih baik jadi seorang nelayan miskin ketimbang ikut campur dalam pemerintahan manusia.”

Danton, pada umur 34 tahun, mati dengan rasa capek politik. Sejak muda ia aktif, dan berkembang dari seorang advokat muda dari perdusunan di Champagne jadi tokoh Revolusi Prancis di Paris revolusi yang ia kobarkan dan akhirnya membinasakan dirinya sendiri.

Bakat terbesarnya menggerakkan massa dengan pidato yang bergelora dan bergema. Ketika pasukan Prusia masuk ke wilayah Prancis untuk mencegah revolusi menjalar ke seluruh Eropa, Danton datang berseru dengan pekik peperangan yang kemudian ditirukan di mana-mana: “Berani, sekali lagi berani, selalu berani!”

Maka pasukan Prusia pun dipukul balik, dan Prancis baru lahir: sebuah negeri yang bukan milik raja, melainkan milik tiap warga, citoyen, yang siap mempertahankannya.

Prancis dan revolusinya mengukuhkan diri dalam format dan semangat itu. Danton terjun di dalamnya, membujuk atau membakar semangat para warga dan dengan itu membinasakan musuh. Suatu saat, sekitar 1.400 orang disekap dan kemudian dibantai atas nama rakyat.

Danton membantah ia berada di balik pembunuhan itu. Tapi waktu itu ia menteri kehakiman dan ia tak mencegah kekerasan selama tiga hari itu. Bahkan ia mengatakan, “Aku tak peduli dengan para tahanan itu. Rakyat telah bangkit. Mereka telah bertekad mengambil alih hukum ke tangan mereka.”

Gerak yang gemas rakyat melawan ketidakadilan ”dengan kata lain: politik” di hari-hari itu jadi antagonisme yang tak pernah reda. Musuh selalu ada, selalu diciptakan, militansi digembleng, “Montagnard” melawan “Girondin”, “Kiri” melawan “Kanan”.

Retorika jadi buas. Musuh Danton menyebutnya “ikan gendut yang disumpal” yang harus dirobek perutnya, dan sang orator membalas: ia akan ganyang otak si lawan dan berak di tengkoraknya.

Tapi berbeda dengan banyak orang di masa yang disebut “Teror” itu, Danton lebih sering hanya melontarkan kata-kata. Ia jarang melaksanakan ancamannya.

Dalam hidup pribadinya, ia orang yang hangat, suka bersenang-senang, mau mendengarkan orang lain dan juga pandai cari celah dalam pergaulan untuk meningkatkan posisi.

Ia pintar merayu. Tapi diam-diam ia juga orang yang mudah mengalami depresi dan menyimpan pesimisme tentang masa depan Revolusi.

Ia tak amat teguh memegang prinsip: sebagai seorang tokoh Revolusi, ia seharusnya menolak segala bagian Gereja Katolik, tapi ia menikahi Louise dengan pemberkatan pastor. Ke dalam ia lunak, ke luar ia keras.

Danton tahu bahwa politik adalah apa yang ditampakkan ke luar, ke mata publik. Politik perlu pentas. Ketika ia datang untuk mengucapkan pekik peperangannya yang terkenal itu, ia mengenakan kostum istimewa: sebuah jas panjang merah darah.

Sampai akhir hayatnya ia menyadari perlunya ditonton dan pentingnya penonton. Menjelang lehernya ditebas dan kepalanya lepas disaksikan orang ramai di lapangan eksekusi itu, ia berpesan kepada algojonya: “Tunjukkan kepalaku kepada orang ramai itu: ada nilainya.”

Kepala yang copot dan berlumur darah itu jauh dari menarik. Danton bukan lelaki rupawan. Di masa kecil, hidup di peternakan kakeknya di perdusunan Champagne, ia beberapa kali terluka: bibirnya robek dan hidungnya retak diseruduk sapi jantan, pipinya berbekas luka, juga pelupuk matanya, diterjang barisan babi.

Kemudian cacar menyerangnya. Dengan tubuh tambun dan muka buruk, Danton menemukan kelebihannya dalam hal lain yang juga untuk ditampilkan: kecakapannya berbicara.

“Danton, bibirmu punya mata.”

Kalimat itu diucapkan Marion, seorang pelacur simpanan Danton, dalam lakon Georg BÃchner, Kematian Danton (Dantons Tod), yang ditulis pada 1835. Pada umur 21 tahun, dramawan Jerman ini sanggup menampilkan paradoks tokoh Revolusi Prancis itu secara puitis dan mendalam.

Kalimat di Babak Ketiga itu, “bibirmu punya mata”, mengungkapkan bagaimana fasihnya mulut Danton menangkap dan mengungkap keadaan, dan bagaimana pula bibir itu pandai mengeluarkan kata-kata yang mengenai sasaran.

Dengan kata lain: kata-kata Danton adalah peranti politik sebagai antagonisme.

Tapi juga kalimat itu menunjukkan sisi lain orang ini: bibir itu menandai sesuatu yang selamanya mencari sasaran untuk dikecup dan dikulum bagian tubuh yang sensual, yang selalu mencari kenikmatan.

Tubuh, bagi Danton yang ditampilkan Bchner, bisa menjangkau dunia lebih pas ketimbang rasio. Ia menghargai tubuhnya, sebagai ia menghargai seorang gadis yang selamanya menari.

Di babak terakhir lakon Bchner, di malam menjelang Danton digiring ke lapangan guillotine, ia mendengar detak jam dengan resah.

“Tiap kali detiknya berbunyi, aku merasa tembok makin menjepitku, sesempit peti mati. Aku merasa membusuk. Bangkaiku sayang. Aku tutup hidungku dan berpura-pura melihatmu seperti seorang gadis yang berkeringat bau sehabis menari, dan aku memujimu.”

Dalam paradoks antara politik yang terlihat di pentas dan tubuh yang menari sendiri, Danton berangsur-angsur lelah. Sebagaimana tercatat dalam biografinya, ia memang berkali-kali ingin istirahat. Ia ingin kembali ke perdusunan Champagne. Ia ingin jadi nelayan yang tak berpunya.

Yang dilupakannya ialah bahwa nelayan yang miskin itu tiap kali bisa ketabrak dan merasakan sakitnya ketidakadilan. Dan dengan itu politik bergerak.

Goenawan Mohamad/Tempo.co